Hari ini banyak komentar kritikan terhadap politikus muda PDIP Arteria Dahlan yang menuai kritik parah di media sosial, karena mengeluarkan kata kasar kepada Prof. Dr. Emil Salim.
Itu semua terjadi setelah anggota Komisi Hukum DPR tersebut terlibat debat dengan Menteri Lingkungan Hidup RI, Emil Salim, dalam acara "Mata Najwa" di "Trans7," Rabu, 9 Oktober 2019.
Benar Arteria Dahlan, bergelar S.T., S.H., M.H.B.A.C.O.T, tetapi ada yang kita lupakan, ada unsur etika ketika berhadapan dengan orang lebih tua dari pada kita. Di Barat memang tidak berpengaruh, tetapi di Indonesia, negara yang berbudaya tinggi, tata cara dalam etika harus kita pelajari juga.
Adalah BJ Habibie telah mengenalkan istilah Imtaq, yang menjadi akronim dari kata Iman dan Taqwa.
Bagi BJ Habibie, Iptek sebagai istilah lain dari ilmu pengetahuan dan teknologi dan Imtaq sebagai istilah lain dari Iman dan Taqwa (yang merupakan ajaran agama), keduanya sama-sama penting dan keduanya tidak bisa dipisahkan. Iptek saja tanpa Imtaq berbahaya, oleh karena itulah beliau pernah mengatakan bahwa dalam pendidikan dengan kebudayaan harus serentak pelaksanaannya. Pemaknaan dari pemikiran BJ Habibie tersebut, salah satunya adalah bertujuan melahirkan manusia-manusia yang cerdas secara intelektual dan juga cerdas secara spiritual dan sosial, sehingga bisa menghormati mereka yang berbeda, serta mampu menghormati budaya yang ada.
Rabu, 09 Oktober 2019
Minggu, 06 Oktober 2019
SMA Negeri Blora, Sebuah Kenangan
Tanggal 1 Oktober 2011, saya diundang Ikatan Alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Blora dalam rangka Halal Bihalal dan Silaturrahmi 2011. Menarik sekali acara tersebut. Selain bertemu lagi dengan para teman semasa SMA Negeri Blora, juga saling bermaaf-maafan, karena kita baru saja melaksanakan Idul Fitri.
Sejak saya sekolah di SMA Negeri Blora, baru-baru ini saja paham tanggal lahir SMA Negeri Blora yang sekarang bernama SMA Negeri I Blora itu. Hal itu saya ketahui dari salah seorang guru bernama Friswanti Indrawuni. "Tanggal lahirnya 1 Oktober 1959. Jadi sekarang sudah berusia 60 tahun," ujarnya.
Saya di SMA Negeri Blora setelah lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri I di kota kelahiran saya Kota Jambi. Di SMA Negeri Blora sejak tahun 1972 hingga 1974.
Blora adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Blora, sekitar 127 km sebelah timur Semarang. Berada di bagian timur Jawa Tengah, Kabupaten Blora berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.
Sejak saya sekolah di SMA Negeri Blora, baru-baru ini saja paham tanggal lahir SMA Negeri Blora yang sekarang bernama SMA Negeri I Blora itu. Hal itu saya ketahui dari salah seorang guru bernama Friswanti Indrawuni. "Tanggal lahirnya 1 Oktober 1959. Jadi sekarang sudah berusia 60 tahun," ujarnya.
Saya di SMA Negeri Blora setelah lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri I di kota kelahiran saya Kota Jambi. Di SMA Negeri Blora sejak tahun 1972 hingga 1974.
Blora adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Blora, sekitar 127 km sebelah timur Semarang. Berada di bagian timur Jawa Tengah, Kabupaten Blora berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.
Sekarang, SMA Negeri 1 Blora merupakan salah satu dari Sekolah Menengah Atas Negeri yang ada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah seperti pada sekolah menengah atas umumnya. Masa pendidika di SMAN 1 Blora ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII.
Tenaga pendidik (guru) berjumlah 63 orang dengan kualifikasi sarjana. Dalam rangka persiapan menghadapi program RSBI, 13 orang guru bergelar Magister Pendidikan dan menggiatkan kursus bahasa Inggris, komputer, dan internet.
Sejak digulirkannya rencana pelaksanaan program SDIP (School Development Invesment Plan) yang dalam perjalanannya berubah menjadi SBI (Sekolah Nasional Bertaraf Internasional) keluarga besar SMAN 1 Blora terus berbenah dan dengan serius mempersiapkan diri.
Blora sebagai sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan kekayaan hutan jatinya. Tetapi yang tidak kalah penting, Kabupaten Blora menjadi sumber inspirasi para tokoh dan sastrawan nasional yang punya kaitan dengan Blora, yaitu Dr Soetomo, tokoh penggerak Kebangkitan Nasional. Kedua, Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang dikenal dengan sebutan Raden Djokomono dan ketiga, adalah Pramoedya Ananta Toer.
Ketiga tokoh ini memiliki ciri khas masing-masing dan sudah tentu pula memiliki latar belakang berbeda. Misal, Dr Soetomo yang lahir di Desa Ngepeh, Kabupaten Nganjuk, keterkaitannya dengan Blora karena bertugas sebagai dokter di Blora. Ia menemui pasangannya, seorang perawat d berkebangsaan Belanda, EJ de Graaf di sebuah rumah sakit di Blora.
Kedua, Tirto Adhi Soerjo (Raden Djokomono), lahir di Blora tahun 1880, tetapi besar di Bandung (Jawa Barat). Bahkan diajukan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat. Itu dikarenakan, ia lebih banyak berkiprah di Jawa Barat dibanding Blora.
Ketiga, adalah Pramoedya Ananta Toer. Ia lahir di Jetis, Blora pada 6 Februari 1925. Ia mulai menulis sejak duduk di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar). Ayahnya Toer adalah seorang guru dan aktivis Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Blora.
Karya-karya Pram sudah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa, mungkin lebih. Ia meninggal dunia di Jakarta, diusia 81 tahun, pada 30 April 2006.
Saya mengenal Pram dari mantan Pemimpin Redaksi harian "Merdeka," , Joesoef Isak. Sudah tentu banyak yang menyanggah, bukankah Pemimpin Harian "Merdeka" itu, Burhanudin Mohamad (BM) Diah?
Benar. Joesoef Isak pernah menggantikan BM Diah untuk sementara ketika suami Herawati itu bertugas sebagai duta besar. Itu sementara.
Joesoef Isak pada tahun 2009 bercerita tentang Pramoedya Ananta Toer. Bahkan bersama Pramoedya sering menemui Duta Besar RI di Moskow (Rusia), yaitu Adam Malik. Juga sebagai orang yang memiliki penerbitan, Joesoef Isak sangat dipercaya Pramoedya menerbitkan buku-bukunya.
Tanggal 12-15 September 2018 lalu di Blora berlangsung acara "Cerita dari Blora " judul yang diambil dari tulisan Pramoedya Ananta Toer. Adik laki-laki Pram, Soesilo Pram ikut serta dalam diskusi buku kakaknya Pram, "Cerita dari Blora." Waktu itu saya merencanakan ke Blora, tetapi karena sesuatu hal, batal. Entahlah nanti di ulang tahun SMA Negeri 1 Blora, tahun 2020, saya bisa hadir. Semoga.
Jumat, 04 Oktober 2019
Nasib Donald Trump dalam Pilpres AS 2020
Oleh Dasman Djamaluddin
https://id.wikipedia.org/wiki/dasman_djamaluddin
Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2020 semakin ketat. Tudingan Donald Trump dari Partai Republik yaitu Presiden AS sekarang yang ingin kembali berkuasa untuk kedua kalinya kepada saingannya dari Partai Demokrat, Joe Biden semakin tidak terkendali.
Tidak terkendali, karena Trump sudah meminta terang-terangan, yaitu Ukraina dan Republik Rakyat China (RRC) menyelidiki Joe Biden. Pertanyaannya, mengapa harus melibatkan negara lain. Sebelumya ketika Pemilihan Presiden empat tahun lalu, Trump dituduh minta bantuan Rusia.
Waktu itu, mantan kepala badan intelijen Israel "Mossad," Tamir Pardo, memang telah mengklaim bahwa campur tangan Rusia di dunia maya telah membantu mempengaruhi pemilu presiden Amerika Serikat (AS) 2016 yang dimenangkan Donald Trump. Demikian bunyi laporan yang diturunkan media Israel, Haaretz.
Menurut Pardo, Rusia memilih kandidat yang paling menguntungkan secara politis untuknya dan menggunakan "bot" online untuk mengantarkan Trump ke kursi kepresidenan.
Terlepas benar atau tidak laporan tersebut, tetapi sebahagian besar rakyat AS percaya bahwa Rusia telah membantu Trump mengalahkan calon presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.
Sekarang Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan mengatakan bahwa dia ingin agar China dan Ukraina melakukan penyelidikan terhadap mantan wakil presiden AS Joe Biden.
Pernyataan mengejutkan yang sepertinya bakal memperkuat dugaan yang sedang diselidiki dalam upaya pemakzulan disampaikan langsung oleh Trump, Kamis 3 Oktober 2019.
Trump sebelumnya telah menjadi sasaran penyelidikan formal untuk pemakzulan yang didorong Partai Demokrat di Kongres AS, menyusul adanya laporan pengaduan yang menyebut Trump telah menyalahgunakan kekuasaannya sebagai presiden.
Dugaan tersebut berkaitan dengan pembicaraan telepon antara Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, pada 25 Juli lalu.
Menurut rangkuman transkrip pembicaraan telepon yang dirilis Gedung Putih, Trump disebut meminta bantuan Zelensky untuk menyelidiki Joe Biden dan putranya Hunter, dalam kaitannya dengan skandal migas yang dilakukan di Ukraina.
Sekarang kita melihat dan menyaksikan, apakah pemakzulan Presiden Donald Trump terjadi ? Atau yang terjadi sebaliknya, Trump akan terpilih kembali menjadi Presiden AS untuk empat tahun mendatang. Apalagi pengaruh dukungan dunia kepada Donald Trump jika ia terpilih menjadi penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2019.
Pada tahun 2018, Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe mengatakan, "Saya telah menominasikan Anda, dengan hormat, atas nama Jepang. Saya meminta mereka untuk memberi Anda hadiah Nobel Perdamaian," Trump membacakan surat Shinzo Abe kepadanya, seperti diwartakan USA Today, 15 Februari 2019.
Masuknya Trump dalam nominasi peraih Nobel dikaitkan dengan upayanya yang membuka dialog dengan Korea Utara yang selama ini berseteru dengan Gedung Putih.
Pada 2018, Trump dan Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara akhirnya bertemu di Singapura setelah selama ini keduanya kerap perang mulut dan saling ancam.
Sejak pertemuan bersejarah itu, Trump mengklaim Korea Utara bukan lagi ancaman terkait senjata nuklir yang dimilikinya. Selanjutnya Trump dan Kim bertemu lagi di Hanoi, Vietnam pada 27 sampai 28 Februari 2019.
Kabar terkait langkah Shinzo Abe mendukung Trump membikin gaduh Jepang, baik di media dan parlemen. Surat kabar harian yang condong ke kiri, Asahi Shimbun, maupun surat kabar Yomiuri Shimbun yang condong ke kanan, dengan mengutip sumber pemerintah Jepang yang tidak mau disebutkan identitasnya, sama-sama menyebut Abe memang telah mencalonkan Trump untuk mendapat hadiah Nobel.
Sementara Shinzo Abe justru enggan mengomentari pernyataan Trump terkait dirinya yang diisukan mengajukan nama. Saat Abe berbicara di hadapan Parlemen, ia lebih memilih memuji kepemimpinan Trump yang dianggap mampu mengatasi masalah nuklir Korea Utara dan mengadakan KTT bersejarah di Singapura.
Dilansir "The New York Times," Abe juga bersyukur Trump ikut mengkhawatirkan nasib warga Jepang yang diculik oleh Korea Utara saat KTT di Singapura.
"Saya menghargai kepemimpinan Presiden Trump," kata Abe. Namun, ketika ditanya terkait nominasi hadiah Nobel Perdamaian, ia memilih bungkam dan mengutip kebijakan komite Nobel yang tidak boleh mengungkapkan nominasi sampai 50 tahun setelah Nobel diberikan.
Masyarakat internasional masih menunggu hasil peraih Nobel Perdamaian 2019. Seandainya Trump berhasil meraih Nobel Perdamaian 2019, bukan tidak mungkin ikut membantu dirinya dalam Pemilihan Presiden AS 2020.
Kamis, 03 Oktober 2019
Harian "Sriwijaya Post," Valens Goa Doy dan Raymond Toruan
Hari ini, 3 Oktober 2019, saya melihat halaman Harina Asiana di facebook dibanjiri ucapan selamat hari jadi ke-32 harian "Sriwijaya Post," yang terbit di Palembang, Sumatera Selatan. Meski hari jadi koran yang terbit di Palembang itu akan diperingati tanggal 12 Oktober 2019, tetapi halaman Harina Asiana sudah dipenuhi ucapan selamat, termasuk saya sendiri.
Harina Asiana ketika saya ditempatkan atas jasa wartawan senior harian "Kompas," Valens Goa Doy di harian "Sriwijaya Post," di Palembang, Harina Asiana sudah menduduki posisi penting dalam manajemen harian "Sriwijaya Post." Saya di surat kabar yang terbit di kota Palembang dan sekitarnya itu setelah tidak lagi membantu Azkarmin Zaini di harian "Pelita," manajemen baru.
Saya memakai kalimat "berkat jasa," karena sebelumnya saya pun sudah bergabung di Kelompok Penerbitan Kompas di Jakarta setelah majalah "Topik," (kelompok Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah) tidak terbit lagi. Saya bergabung di Kelompok Kompas (dulu namanya Pers Daerah) pada tanggal 15 Maret 1989 hingga 17 Juni 1990. Singkat sekali, karena saya kemudian bergabung dengan mantan wartawan "Kompas," Sudirman Tebba, Purnama Kusumaningrat dan seorang lagi Zaili Asril di bawah pimpinan mantan Sekretaris Redaksi harian "Kompas," Azkarmin Zaini ke harian "Pelita" manajemen baru.
Harian "Pelita," gagal berkembang dan Azkarmin Zaini kemudian menjadi Direktur News, Sports & Corporate Communications televisi ANTV dan salah satu wartawan senior Indonesia. Sebelumnya dia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi ANTV sejak jaringan televisi itu berdiri tahun 1993 - 2005 dan pada tahun 2007 - 2010.
Waktu saya ingin pindah ke harian "Pelita " manajemen baru wartawan di Grup "Kompas," Raymond Toruan menemui saya dan disinilah saya kenal baik dengan wartawan senior Grup Kompas, "The Jakarta Post," yang juga ikut mengurusi Pers Daerah "Kompas" waktu itu.
Akan halnya wartawan senior "Kompas," Valens Goa Doy," dari beliaulah saya belajar kebaikan sebuah hati. Mana mungkin bila seseorang sudah menyatakan mengundurkan diri, kemudian kembali ingin bergabung, kembali diterima. Itulah dia Valens Goa Doy.
Ketika terdengar wartawan senior Valens Goa Doy itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.30 Wita, Selasa 3 Mei 2005, saya berdoa semoga wartawan baik itu sudah hidup damai di alam sana.
Hubungan saya meski tidak lagi terjalin melalui dunia jurnalistik dengan Grup Kompas, tetapi hubungan itu terjalin melalui penulisan buku. Terakhir saya menerbitkan buku sebagai editor buku: "Catatan BM Diah," yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, tahun 2018. Meski tidak terlihat peranan Penerbit Kompas, sesungguhnya kedua penerbitan ini bekerjasama.
Juga buku saya "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supesemar" diterbitkan Grasindo dua kali, yaitu tahun 1998 dan diterbitkan lagi tahun 2008. Grasindo adalah PT. Gramedia Widiasarana Indonesia beralamat di Gedung Kompas Gramedia.
Menariknya yaitu ketika menulis buku: "Rais Abin, Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah 1976-1979" (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012), waktu itu Pemimpin Umum Harian Kompas Jacob Oetama bersedia menulis "Sekapur Sirih," dalam buku tersebut.
Lebih menarik lagi pada hari Kamis, 26 Juli 2012, saya diajak Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian "Kompas" Dr (HC) Jakob Oetama. Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini bersenda gurau di lantai VI Harian "Kompas." Usia Jakob Oetama, tidak begitu jauh terpaut dengan Rais Abin karena beliau lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931.
Jakob Oetama sangat konsisten dengan tugasnya sebagai wartawan. Waktu itu ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Seorang rekan pernah membisiki saya, apakah benar atau tidak informasi itu bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko? Memang benar tawaran tersebut, tetapi Jakob Oetama menolak.
Pada waktu pembicaraan ini, Jakob Oetama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.
Harina Asiana ketika saya ditempatkan atas jasa wartawan senior harian "Kompas," Valens Goa Doy di harian "Sriwijaya Post," di Palembang, Harina Asiana sudah menduduki posisi penting dalam manajemen harian "Sriwijaya Post." Saya di surat kabar yang terbit di kota Palembang dan sekitarnya itu setelah tidak lagi membantu Azkarmin Zaini di harian "Pelita," manajemen baru.
Saya memakai kalimat "berkat jasa," karena sebelumnya saya pun sudah bergabung di Kelompok Penerbitan Kompas di Jakarta setelah majalah "Topik," (kelompok Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah) tidak terbit lagi. Saya bergabung di Kelompok Kompas (dulu namanya Pers Daerah) pada tanggal 15 Maret 1989 hingga 17 Juni 1990. Singkat sekali, karena saya kemudian bergabung dengan mantan wartawan "Kompas," Sudirman Tebba, Purnama Kusumaningrat dan seorang lagi Zaili Asril di bawah pimpinan mantan Sekretaris Redaksi harian "Kompas," Azkarmin Zaini ke harian "Pelita" manajemen baru.
Harian "Pelita," gagal berkembang dan Azkarmin Zaini kemudian menjadi Direktur News, Sports & Corporate Communications televisi ANTV dan salah satu wartawan senior Indonesia. Sebelumnya dia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi ANTV sejak jaringan televisi itu berdiri tahun 1993 - 2005 dan pada tahun 2007 - 2010.
Waktu saya ingin pindah ke harian "Pelita " manajemen baru wartawan di Grup "Kompas," Raymond Toruan menemui saya dan disinilah saya kenal baik dengan wartawan senior Grup Kompas, "The Jakarta Post," yang juga ikut mengurusi Pers Daerah "Kompas" waktu itu.
Akan halnya wartawan senior "Kompas," Valens Goa Doy," dari beliaulah saya belajar kebaikan sebuah hati. Mana mungkin bila seseorang sudah menyatakan mengundurkan diri, kemudian kembali ingin bergabung, kembali diterima. Itulah dia Valens Goa Doy.
Ketika terdengar wartawan senior Valens Goa Doy itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.30 Wita, Selasa 3 Mei 2005, saya berdoa semoga wartawan baik itu sudah hidup damai di alam sana.
Hubungan saya meski tidak lagi terjalin melalui dunia jurnalistik dengan Grup Kompas, tetapi hubungan itu terjalin melalui penulisan buku. Terakhir saya menerbitkan buku sebagai editor buku: "Catatan BM Diah," yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, tahun 2018. Meski tidak terlihat peranan Penerbit Kompas, sesungguhnya kedua penerbitan ini bekerjasama.
Juga buku saya "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supesemar" diterbitkan Grasindo dua kali, yaitu tahun 1998 dan diterbitkan lagi tahun 2008. Grasindo adalah PT. Gramedia Widiasarana Indonesia beralamat di Gedung Kompas Gramedia.
Menariknya yaitu ketika menulis buku: "Rais Abin, Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah 1976-1979" (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012), waktu itu Pemimpin Umum Harian Kompas Jacob Oetama bersedia menulis "Sekapur Sirih," dalam buku tersebut.
Lebih menarik lagi pada hari Kamis, 26 Juli 2012, saya diajak Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian "Kompas" Dr (HC) Jakob Oetama. Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini bersenda gurau di lantai VI Harian "Kompas." Usia Jakob Oetama, tidak begitu jauh terpaut dengan Rais Abin karena beliau lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931.
Jakob Oetama sangat konsisten dengan tugasnya sebagai wartawan. Waktu itu ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Seorang rekan pernah membisiki saya, apakah benar atau tidak informasi itu bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko? Memang benar tawaran tersebut, tetapi Jakob Oetama menolak.
Pada waktu pembicaraan ini, Jakob Oetama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.
Selasa, 06 Agustus 2019
Ulama yang Memiliki Ilmu Itu Telah Wafat
Rembang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Rembang. Kabupaten ini berbatasan dengan Teluk Rembang di utara, Kabupaten Tuban di timur, Kabupaten Blora di selatan, serta Kabupaten Pati di barat. Makam pahlawan pergerakan emansipasi wanita Indonesia, R. A. Kartini juga terketak di Rembang.
Selain R.A. Kartini, ada seorang Ulama Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Kiai Haji Maimun Zubari atau Mbah Moen. Ia baru saja meninggalkan kita, menghembuskan napas terakhir hari Selasa 8 Agustus 2019 pagi di Mekah, usia 90 tahun. "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"(Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156).
Kiai Haji Maimun Zubair, yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 selain seorang ulama, ia juga adalah seorang politikus Indonesia. Ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga wafat. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhir masa tugasnya, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tetapi rupanya tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia pernah diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah.
Kiai Haji Maimun Zubair selain seorang yang beriman, ia juga adalah seorang berilmu. Sesuai janji Allah, akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang yang hanya sekadar beriman tapi tanpa ilmu. Karena dengan ilmu, orang yang lebih mudah memahami dan menguatkan iman. Sementara orang yang hanya beriman akan sangat mudah goyah jika tanpa disertai dengan berbagai ilmu tentang agama.
Tak hanya itu, ilmu juga ternyata lebih berharga dibandingkan harta. Bagi para pencari ilmu, ilmu akan membawanya selalu di jalan Allah ta’ala dan menemaninya ketika di dunia sampai dihantarkannya ke dalam kubur serta membawanya kepada tempat yang dirindukan yaitu surga. Ilmu juga akan membawa banyak kemuliaan bagi yang memilikinya.
Berbicara mengenai mencari ilmu ini, saya teringat akan berita "Radar Malang," yang memuat laporan tentang sebuah kelompok bernama Arkamaya, Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang yang meneliti tokoh pers nasional. Foto di atas adalah para mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang tersebut yang ingin mendapatkan informasi dari saya tentang isi buku yang saya tulis: "Butir-Butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya? Inilah kutipan lengkap dari harian Radar Malang :
21 April 2018 9:42 am
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya?
Gemerlap lampu di ruangan Galeri Raos, Kota Batu, itu memberi efek menarik pada lukisan-lukisan wajah yang menempel di dinding. Bagi sebagian orang, wajah-wajah di sana boleh jadi tak asing, karena mereka adalah para tokoh pers nasional. Ada Tjokroaminoto, Burhanudin Muhammad Diah, Herawati Diah, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, P.K. Ojong, hingga Jakob Oetama.
Sejumlah buku biografi sang tokoh, juga fotokopi koran jadul juga ikut dipajang. Sebagian besar dokumen yang dipamerkan merupakan hasil hunting tujuh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk tugas mata kuliah skripsi dengan metode baru yang diuji coba, yakni performance research. Metode ini dipilih karena bisa seolah-olah menghadirkan kembali pemikiran dan perjuangan tokoh pers tersebut.
Nah, tergabung dalam kelompok Arkamaya, mereka memamerkan hasil hunting di Galeri Raos, Kota Batu. Ketujuh mahasiswa tersebut adalah Zuyyina Afwa, Azkiyah Mu’allimah, Denia Purnamayanti, Akmal Jati Pratomo, Bima Sindu Kentana, Singgih Pakusalaow, dan Putra Perdana.
Salah satu fokus perburuan Arkamaya di Jakarta adalah mencari keluarga pasangan suami istri Burhanuddin Muhammad (B.M.) Diah dan Herawati Diah. ”Jadi, kami langsung bertemu dengan anaknya yang terakhir, Nurman Diah,” kata Zuyyina Afwa saat ditemui Jawa Pos Radar Batu.
Mulanya, dia bersama Denia Purnamayanti tidak banyak mengetahui sosok B.M. Diah dan Herawati Diah, dua tokoh yang akan ditelitinya. Sebab, tidak banyak literatur yang mencantumkan kisah pasangan suami istri (pasutri) ini. Namun, menjadi sangat spesial saat mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB ini mendapatkan cerita langsung dari anak sang tokoh tentang perjuangan kedua orang tuanya.
Sambil duduk di kursi besi Galeri Raos, kedua mahasiswa ini saling berpandangan. Tatapannya seolah saling menggali kenangan masing-masing selama mbambung di Jakarta. ”Apa ya rasanya? Kebetulan saja bisa bertemu anaknya langsung, soalnya kami ke sana itu awalnya seperti orang tanpa tujuan,” ungkap Yiyin, panggilan akrab Zuyyina Afwa.
Mahasiswi ini menceritakan bagaimana kesan ketika bertemu Nurman. Salah satunya ialah ketika B.M. Diah ikut hadir langsung saat naskah proklamasi dirumuskan. Tak hanya itu, Nurman sendiri mengakui jika ayahnya juga yang menyelamatkan teks asli proklamasi yang ditulis tangan Sukarno. Sebab, teks proklamasi kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik. Tulisan tangan otentik Soekarno pun sempat dibuang ke tempat sampah. ”Naskah proklamasinya, kata Pak Nurman, ditulis tangan Bung Karno itu sempat diremas lalu dibuang setelah Sayuti Melik mengetik naskah asli proklamasi,” tutur mahasiswi 23 tahun asal Jombang ini.
Setelah menceritakan tentang B.M. Diah, giliran Denia yang membeber ingatannya. Dia menceritakan bagaimana istri tokoh tersebut, Herawati Diah, turut mendukung B.M. Diah agar mengambil naskah asli yang dibuang itu untuk dirapikan lalu disimpakan ke dalam catatan yang biasa dibawa B.M. Diah. Meski begitu, pendiri koran Merdeka ini bisa dibilang tak cukup beruntung. Sebab, B.M. Diah tak sempat menyaksikan langsung pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Cerita inilah yang masuk dalam ingatan kedua mahasiswi manis tersebut, mendengarkan langsung dari Nurman Diah. Termasuk peran B.M. Diah di Lapangan Ikada, tempat yang semula direncanakan untuk pembacaan proklamasi. B.M. Diah dan rekan-rekannya pun menyebarkan berita proklamasi dengan mencetak surat kabar, selebaran, serta menyebarkannya ke pelosok Indonesia. ”Ceritanya itu saja sih, tapi pas mau ketemunya itu agak capek,” kata Yiyin.
Saat itu, Yiyin bersama kawan-kawannya tidak tahu harus menemui siapa lagi selain Dasman Djamaludin, penulis biografi B.M. Diah. Dia bisa menghubungi Dasman pun melalui email yang tertera di buku berjudul Butir-Butir Padi.
Setelah melakukan janji bertemu Dasman pada 20 Februari lalu, Yiyin dan teman-temannya jadi tak punya tujuan lain. Sebab, pada 14 Februari mereka sudah sampai di Jakarta. Mereka tak ingin banyak waktu yang terbuang sia-sia. Mereka pun memutuskan main ke kantor Tempo.
Kedatangannya ke kantor Tempo pun terbilang nekat. Bagaimana tidak, Yiyin mencoba bertemu dengan Debra Yatim, editor Tempo English. Untungnya kenekatannya membuahkan hasil. ”Daripada kami bingung, udah ngawur aja. Pengen ke sana mau nyari penulis biografinya Herawati Diah,” terang perempuan bekerudung ini.
Sesampainya di sana, mereka berhasil menemui Debra dan meminta akses untuk bertemu dengan beberapa orang sekitar B.M. Diah maupun Herawati. Usahanya pun berhasi. Dia dan kawan-kawannya bertemu dengan Karim Paputungan, mantan redaktur pelaksana koran Merdeka. Ketidakjelasannya selama seminggu di Jakarta itu seolah mendapatkan titik terang. ”Melelahkan sekali, tapi kami jadi tahu kalau masih capek jadi peran-peran jurnalis zaman dulu,” sambung Denia.
Setelah melakukan perjalanan fisik dan batin ini, tim Arkayama bisa menghargai sebuah informasi dan tidak mudah termakan berita yang belum jelas sumbernya. ”Pokoknya kami jadi harus berhati-hati sekali kalau baca berita biar nggak mudah ikut-ikutan opini orang,” pungkas Yiyin.
Ilmu dan Iman harus sejalan. Bukankah untuk mencari ilmu yang bermanfaat bagi sesama, ada ungkapan "Carilah ilmu hingga ke negeri China?. "
Selain R.A. Kartini, ada seorang Ulama Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Kiai Haji Maimun Zubari atau Mbah Moen. Ia baru saja meninggalkan kita, menghembuskan napas terakhir hari Selasa 8 Agustus 2019 pagi di Mekah, usia 90 tahun. "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"(Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156).
Kiai Haji Maimun Zubair, yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 selain seorang ulama, ia juga adalah seorang politikus Indonesia. Ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga wafat. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhir masa tugasnya, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tetapi rupanya tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia pernah diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah.
Kiai Haji Maimun Zubair selain seorang yang beriman, ia juga adalah seorang berilmu. Sesuai janji Allah, akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang yang hanya sekadar beriman tapi tanpa ilmu. Karena dengan ilmu, orang yang lebih mudah memahami dan menguatkan iman. Sementara orang yang hanya beriman akan sangat mudah goyah jika tanpa disertai dengan berbagai ilmu tentang agama.
Tak hanya itu, ilmu juga ternyata lebih berharga dibandingkan harta. Bagi para pencari ilmu, ilmu akan membawanya selalu di jalan Allah ta’ala dan menemaninya ketika di dunia sampai dihantarkannya ke dalam kubur serta membawanya kepada tempat yang dirindukan yaitu surga. Ilmu juga akan membawa banyak kemuliaan bagi yang memilikinya.
Berbicara mengenai mencari ilmu ini, saya teringat akan berita "Radar Malang," yang memuat laporan tentang sebuah kelompok bernama Arkamaya, Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang yang meneliti tokoh pers nasional. Foto di atas adalah para mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang tersebut yang ingin mendapatkan informasi dari saya tentang isi buku yang saya tulis: "Butir-Butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya? Inilah kutipan lengkap dari harian Radar Malang :
21 April 2018 9:42 am
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya?
Gemerlap lampu di ruangan Galeri Raos, Kota Batu, itu memberi efek menarik pada lukisan-lukisan wajah yang menempel di dinding. Bagi sebagian orang, wajah-wajah di sana boleh jadi tak asing, karena mereka adalah para tokoh pers nasional. Ada Tjokroaminoto, Burhanudin Muhammad Diah, Herawati Diah, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, P.K. Ojong, hingga Jakob Oetama.
Sejumlah buku biografi sang tokoh, juga fotokopi koran jadul juga ikut dipajang. Sebagian besar dokumen yang dipamerkan merupakan hasil hunting tujuh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk tugas mata kuliah skripsi dengan metode baru yang diuji coba, yakni performance research. Metode ini dipilih karena bisa seolah-olah menghadirkan kembali pemikiran dan perjuangan tokoh pers tersebut.
Nah, tergabung dalam kelompok Arkamaya, mereka memamerkan hasil hunting di Galeri Raos, Kota Batu. Ketujuh mahasiswa tersebut adalah Zuyyina Afwa, Azkiyah Mu’allimah, Denia Purnamayanti, Akmal Jati Pratomo, Bima Sindu Kentana, Singgih Pakusalaow, dan Putra Perdana.
Salah satu fokus perburuan Arkamaya di Jakarta adalah mencari keluarga pasangan suami istri Burhanuddin Muhammad (B.M.) Diah dan Herawati Diah. ”Jadi, kami langsung bertemu dengan anaknya yang terakhir, Nurman Diah,” kata Zuyyina Afwa saat ditemui Jawa Pos Radar Batu.
Mulanya, dia bersama Denia Purnamayanti tidak banyak mengetahui sosok B.M. Diah dan Herawati Diah, dua tokoh yang akan ditelitinya. Sebab, tidak banyak literatur yang mencantumkan kisah pasangan suami istri (pasutri) ini. Namun, menjadi sangat spesial saat mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB ini mendapatkan cerita langsung dari anak sang tokoh tentang perjuangan kedua orang tuanya.
Sambil duduk di kursi besi Galeri Raos, kedua mahasiswa ini saling berpandangan. Tatapannya seolah saling menggali kenangan masing-masing selama mbambung di Jakarta. ”Apa ya rasanya? Kebetulan saja bisa bertemu anaknya langsung, soalnya kami ke sana itu awalnya seperti orang tanpa tujuan,” ungkap Yiyin, panggilan akrab Zuyyina Afwa.
Mahasiswi ini menceritakan bagaimana kesan ketika bertemu Nurman. Salah satunya ialah ketika B.M. Diah ikut hadir langsung saat naskah proklamasi dirumuskan. Tak hanya itu, Nurman sendiri mengakui jika ayahnya juga yang menyelamatkan teks asli proklamasi yang ditulis tangan Sukarno. Sebab, teks proklamasi kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik. Tulisan tangan otentik Soekarno pun sempat dibuang ke tempat sampah. ”Naskah proklamasinya, kata Pak Nurman, ditulis tangan Bung Karno itu sempat diremas lalu dibuang setelah Sayuti Melik mengetik naskah asli proklamasi,” tutur mahasiswi 23 tahun asal Jombang ini.
Setelah menceritakan tentang B.M. Diah, giliran Denia yang membeber ingatannya. Dia menceritakan bagaimana istri tokoh tersebut, Herawati Diah, turut mendukung B.M. Diah agar mengambil naskah asli yang dibuang itu untuk dirapikan lalu disimpakan ke dalam catatan yang biasa dibawa B.M. Diah. Meski begitu, pendiri koran Merdeka ini bisa dibilang tak cukup beruntung. Sebab, B.M. Diah tak sempat menyaksikan langsung pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Cerita inilah yang masuk dalam ingatan kedua mahasiswi manis tersebut, mendengarkan langsung dari Nurman Diah. Termasuk peran B.M. Diah di Lapangan Ikada, tempat yang semula direncanakan untuk pembacaan proklamasi. B.M. Diah dan rekan-rekannya pun menyebarkan berita proklamasi dengan mencetak surat kabar, selebaran, serta menyebarkannya ke pelosok Indonesia. ”Ceritanya itu saja sih, tapi pas mau ketemunya itu agak capek,” kata Yiyin.
Saat itu, Yiyin bersama kawan-kawannya tidak tahu harus menemui siapa lagi selain Dasman Djamaludin, penulis biografi B.M. Diah. Dia bisa menghubungi Dasman pun melalui email yang tertera di buku berjudul Butir-Butir Padi.
Setelah melakukan janji bertemu Dasman pada 20 Februari lalu, Yiyin dan teman-temannya jadi tak punya tujuan lain. Sebab, pada 14 Februari mereka sudah sampai di Jakarta. Mereka tak ingin banyak waktu yang terbuang sia-sia. Mereka pun memutuskan main ke kantor Tempo.
Kedatangannya ke kantor Tempo pun terbilang nekat. Bagaimana tidak, Yiyin mencoba bertemu dengan Debra Yatim, editor Tempo English. Untungnya kenekatannya membuahkan hasil. ”Daripada kami bingung, udah ngawur aja. Pengen ke sana mau nyari penulis biografinya Herawati Diah,” terang perempuan bekerudung ini.
Sesampainya di sana, mereka berhasil menemui Debra dan meminta akses untuk bertemu dengan beberapa orang sekitar B.M. Diah maupun Herawati. Usahanya pun berhasi. Dia dan kawan-kawannya bertemu dengan Karim Paputungan, mantan redaktur pelaksana koran Merdeka. Ketidakjelasannya selama seminggu di Jakarta itu seolah mendapatkan titik terang. ”Melelahkan sekali, tapi kami jadi tahu kalau masih capek jadi peran-peran jurnalis zaman dulu,” sambung Denia.
Setelah melakukan perjalanan fisik dan batin ini, tim Arkayama bisa menghargai sebuah informasi dan tidak mudah termakan berita yang belum jelas sumbernya. ”Pokoknya kami jadi harus berhati-hati sekali kalau baca berita biar nggak mudah ikut-ikutan opini orang,” pungkas Yiyin.
Ilmu dan Iman harus sejalan. Bukankah untuk mencari ilmu yang bermanfaat bagi sesama, ada ungkapan "Carilah ilmu hingga ke negeri China?. "
Jumat, 05 Juli 2019
Kamis, 16 Mei 2019
Hari Nakba 15 Mai 2019 Awal Penderitaan Bangsa Palestina
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membagi wilayah Palestina dengan tidak adil. Mengapa tidak adil? Penduduk Yahudi yang waktu itu masih sedikit sekali, karena dulunya tidak memiliki tanah air, setelah dibantu merdeka oleh Amerika Serikat , Uni Soviet (sekarang Rusia) dan negara lainnya, berdirilah negara Israel di wilayah Palestina, bahkan diberi bagian oleh PBB lebih besar. Inilah yang dikatakan tidak adil itu.
Sejak ini yang menjadi pengungsi adalah penduduk Palestina hingga hari ini. Jumlah pasti para pengungsi sampai hari ini masih menjadi bahan perdebatan, namun diperkirakan 80 persen warga Arab di wilayah yang kelak menjadi Israel (50 persen dari seluruh warga Arab di Mandat Palestina) terusir. Istilah "nakba" itu sendiri juga merujuk pada periode perang itu sendiri dan kejadian-kejadian yang menimpa warga Palestina dari bulan Desember 1947 hingga Januari 1949.
Latar belakang terjadinya eksodus juga menjadi titik ketidaksepakatan yang mendasar antara warga Arab dan Israel. Faktor-faktor itu antara lain adalah majunya laskar-laskar militer Yahudi, penyerangan dan agresi militer terhadap desa-desa Arab dan ketakutan akan terjadinya pembunuhan massal lain setelah pembunuhan massal Deir Yassin yang menciptakan kepanikan di antara warga sipil; perintah evakuasi atas warga Arab; perintah pengusiran dari otoritas Israel; eksodus sukarela oleh warga kelas atas yang lebih makmur, kegoyahan pucuk kepemimpinan Palestina, dan ketidakrelaan untuk hidup di bawah kendali Israel.
Setelah itu, serangkaian hukum diterapkan oleh pemerintah Israel untuk mencegah warga Arab pulang ke tanah dan rumah mereka, atau mengklaim harta benda yang mereka tinggalkan. Mereka dan keturunan mereka menjadi kaum pengungsi. Peristiwa ini disebut-sebut oleh para sejarawan sebagai suatu tindakan pembersihan etnis, walaupun sebagian lain meragukan istilah ini.
Kejelasan status para pengungsi dan terutama apakah Israel akan memberikan mereka harta benda yang diklaim sebagai bagian dari hak untuk pulang, adalah salah satu isu utama yang terus diperdebatkan dalam konflik Israel-Palestina yang tengah berlangsung. Peristiwa pada tahun 1948 diperingati oleh rakyat Palestina pada tanggal 15 Mei dengan nama Hari Nakba.
Lihatlah wilayah Palestina sekarang. Sudah sebagian besar diambil oleh Israel. Itulah nasib bangsa Palestina yang sekarang terbalik menjadi pengungsi ke berbagai negara. Saya pernah menulis di halaman ini tentang nasib pengungsi Palestina yang melarikan diri ke Libanon. Sudah tiga generasi ia hidup di kamp pengungsian Libanon.
Waktu itu, saya membaca tulisan wartawan "Al Jazeera INews," Farah Najjar. Cerita mengharukan dari Kamp Pengungsian Palestina di Libanon, yang jika kita lihat di peta, wilayah ini berbatasan dengan Israel dan Palestina, juga dengan Suriah.
Sudah tentu cerita ini diungkap masih ada kaitan dengan 71 tahun bangsa Palestina terusir dari wilayahnya sendiri oleh kaum zionis Yahudi yang memerdekakan dirinya tahun 1948. Sebaliknya inilah yang dialami bangsa Palestina, "terusir," dari tanah airnya sendiri yang populer dengan istilah "Nakba."
Terusirnya warga Palestina dari wilayahnya sejak tahun 1947-1949 sekitar 78 persen penduduk Palestina yang ada waktu itu. Sekitar 530 rumah warga Palestina dihancurkan pasukan Israel. Waktu itu lebih dari 100.000 bangsa Palestina mengungsi ke berbagai negara tetangganya, termasuk ke Libanon, sebuah wilayah perbatasan yang cepat dijangkau.
Zahiya Dgheim, perempuan tua yang sekarang berusia 90 tahun itu, meski terlihat sehat dan kini memiliki anak cucu itu, hidup bersama suaminya memilih Libanon sebagai tempat pengungsian. Ia memilih satu di antara beberapa tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah Lebanon, yaitu di Burj Barajneb, kamp pengungsi yang terletak di sebelah selatan ibukota Lebanon, Beirut. Sekarang sudah tiga generasi ia hidup di pengungsian Palestina.
Indonesia sejak awal selalu mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk merdeka. Sejak Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno hingga Presiden Joko Widodo. Duta Besar Palestina untuk Indonesia sudah bermarkas di Jakarta semasa pemerintahan Presiden Soeharto.
Kedutaan Besar Palestina di Jakarta itu di dalam Hukum Internasional baru sebatas "de facto," belum secara "de jure." Biasanya sebuah negara memiliki kedutaan di sebuah negara harus sudah diakui negara lain secara "de facto" dan "de jure." Palestina belum secara "de jure."
Pengalaman menarik yang saya alami mengenai asal usul adanya Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, itu terjadi di masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Saya sebagai Redaktur Pelaksana Majalah "Topik," (Grup Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah/ B.M.Diah) sering diundang ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Waktu itu Menteri Luar Negeri RI Mochtar Kusumaatmadja mengatakan prosesnya sangat rumit dan pelik. Yasser Arafat yang berkunjung kepada Presiden Soeharto mendesak agar di Jakarta berdiri Kedutaan Besar Palestina. Itu pun disertai tangan Yasser Arafat sambil menegang pistol kecilnya di pinggang. Sebuah cerita keberanian seorang Yasser Arafat yang juga waktu itu disebut Presiden Palestina.
Langganan:
Postingan (Atom)
















