Kamis, 16 Mei 2019

Hari Nakba 15 Mai 2019 Awal Penderitaan Bangsa Palestina


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membagi wilayah Palestina dengan tidak adil. Mengapa tidak adil?  Penduduk Yahudi yang waktu itu masih sedikit sekali, karena dulunya tidak memiliki tanah air, setelah dibantu merdeka oleh Amerika Serikat , Uni Soviet (sekarang Rusia) dan negara lainnya, berdirilah negara Israel di wilayah Palestina, bahkan diberi bagian oleh PBB lebih besar. Inilah yang dikatakan tidak adil itu. 
Sejak ini yang menjadi pengungsi adalah penduduk Palestina hingga hari ini. Jumlah pasti para pengungsi sampai hari ini masih menjadi bahan perdebatan, namun diperkirakan 80 persen warga Arab di wilayah yang kelak menjadi Israel (50 persen dari seluruh warga Arab di Mandat Palestina) terusir. Istilah "nakba" itu sendiri juga merujuk pada periode perang itu sendiri dan kejadian-kejadian yang menimpa warga Palestina dari bulan Desember 1947 hingga Januari 1949.
Latar belakang terjadinya eksodus juga menjadi titik ketidaksepakatan yang mendasar antara warga Arab dan Israel. Faktor-faktor itu antara lain adalah majunya laskar-laskar militer Yahudi, penyerangan dan agresi militer terhadap desa-desa Arab dan ketakutan akan terjadinya pembunuhan massal lain setelah pembunuhan massal Deir Yassin yang menciptakan kepanikan di antara warga sipil; perintah evakuasi atas warga Arab; perintah pengusiran dari otoritas Israel; eksodus sukarela oleh warga kelas atas yang lebih makmur, kegoyahan pucuk kepemimpinan Palestina, dan ketidakrelaan untuk hidup di bawah kendali Israel.
Setelah itu, serangkaian hukum diterapkan oleh pemerintah Israel untuk mencegah warga Arab pulang ke tanah dan rumah mereka, atau mengklaim harta benda yang mereka tinggalkan. Mereka dan keturunan mereka menjadi kaum pengungsi. Peristiwa ini disebut-sebut oleh para sejarawan sebagai suatu tindakan pembersihan etnis, walaupun sebagian lain meragukan istilah ini.
Kejelasan status para pengungsi dan terutama apakah Israel akan memberikan mereka harta benda yang diklaim sebagai bagian dari hak untuk pulang, adalah salah satu isu utama yang terus diperdebatkan dalam konflik Israel-Palestina yang tengah berlangsung. Peristiwa pada tahun 1948 diperingati oleh rakyat Palestina pada tanggal 15 Mei dengan nama Hari Nakba.

Lihatlah wilayah Palestina sekarang. Sudah sebagian besar diambil oleh Israel.  Itulah nasib bangsa Palestina yang sekarang terbalik menjadi pengungsi ke berbagai negara. Saya pernah menulis di halaman ini tentang nasib pengungsi Palestina yang melarikan diri ke Libanon. Sudah tiga generasi ia hidup di kamp pengungsian Libanon.
Waktu itu, saya membaca tulisan wartawan "Al Jazeera INews," Farah Najjar.  Cerita mengharukan dari Kamp Pengungsian Palestina  di Libanon, yang jika kita lihat di peta, wilayah ini berbatasan dengan Israel dan Palestina, juga dengan Suriah. 
Sudah tentu cerita ini diungkap masih ada kaitan dengan 71 tahun bangsa Palestina terusir dari wilayahnya sendiri oleh kaum zionis Yahudi yang memerdekakan dirinya tahun 1948. Sebaliknya inilah yang dialami bangsa Palestina, "terusir," dari tanah airnya sendiri yang populer dengan istilah "Nakba."
Terusirnya warga Palestina dari wilayahnya sejak tahun 1947-1949 sekitar 78 persen penduduk Palestina yang ada waktu itu. Sekitar 530 rumah warga Palestina dihancurkan pasukan Israel. Waktu itu lebih dari 100.000 bangsa Palestina mengungsi ke berbagai negara tetangganya, termasuk ke Libanon, sebuah wilayah perbatasan yang cepat dijangkau.
Zahiya Dgheim, perempuan tua yang sekarang berusia 90 tahun itu, meski terlihat sehat dan kini memiliki anak cucu itu, hidup bersama suaminya memilih Libanon sebagai tempat pengungsian. Ia memilih satu di antara beberapa tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah Lebanon, yaitu di Burj Barajneb, kamp pengungsi yang terletak di sebelah selatan ibukota Lebanon, Beirut. Sekarang sudah tiga generasi ia hidup di pengungsian Palestina.
Indonesia sejak awal selalu mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk merdeka. Sejak Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno hingga Presiden Joko Widodo. Duta Besar Palestina untuk Indonesia sudah bermarkas di Jakarta semasa pemerintahan Presiden Soeharto.
Kedutaan Besar Palestina di Jakarta itu di dalam Hukum Internasional baru sebatas "de facto," belum secara "de jure." Biasanya sebuah negara memiliki kedutaan di sebuah negara harus sudah diakui negara lain secara "de facto" dan "de jure." Palestina belum secara "de jure."
Pengalaman menarik yang saya alami mengenai asal usul adanya Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, itu terjadi di masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Saya sebagai Redaktur Pelaksana Majalah "Topik," (Grup Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah/ B.M.Diah) sering diundang ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Waktu itu Menteri Luar Negeri RI Mochtar Kusumaatmadja mengatakan prosesnya sangat rumit dan pelik. Yasser Arafat yang berkunjung kepada Presiden Soeharto mendesak agar di Jakarta berdiri Kedutaan Besar Palestina. Itu pun disertai tangan Yasser Arafat sambil menegang pistol kecilnya di pinggang. Sebuah cerita keberanian seorang Yasser Arafat yang juga waktu itu disebut Presiden Palestina.

Jumat, 29 Maret 2019

Membantah Opini A.M. Hendropriyono

TVOne pukul 17.30 WIB, hari Jumat, 29 Maret 2019, sangat menarik. Mahfud MD dan Hidayat Nur Wahid tentang asumsi AM Hendropriyono, bahwa yang sekarang terjadi pertarungan Jokowi dan Prabowo adalah antara Pancasila dan Khilafah. Kedua tokoh itu menjelaskan, asumsi Hendropriyono sah-sah saja. Tetapi yang jelas, kedua pihak sudah jadi calon Presiden RI. Syaratnya sudah tentu Pancasilais dan setia kepada UUD '45. Ditambahkan di pihak Jokowi ada juga pihak yang mendompreng dari unsur PKI dan dari Prabowo ada yang mendirikan khilafah. Tetapi baik Jokowi dan Prabowo tidak terpengaruh dengan hal itu. Yang jelas kedua Capres kita kali ini Pancasilais dan sangat setia kepada UUD '45. (Foto kenangan saya di sebelah kiri Hidayat Nur Wahid memakai baju biru)

Rabu, 23 Januari 2019

Ya Allah, Sembuhkanlah Teman Seperjuangan Kami, Khaimuddien M Achmad

Tadi malam, saya dikirimi oleh Robby sebuah foto mantan Ketua Umum HMI Cabang Jayapura periode 1977-1978. Mengapa saya ingat? Karena Ketua Umumnya waktu itu adalah Khaimuddien M Achmad dan Sekretaris Umum Achmad Kastella, sementara saya sebagai Sekretaris I  HMI Cabang Jayapura. Berikutnya saya dan Thaha al-Hamid mendirikan Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) HMI Cabang Jayapura. Saya dipercaya sebagai Ketua Umum dan Thaha al-Hamid sebagai Sekretaris Umum periode 1978-1979 dan 1979-1980.

Saya memang sengaja tidak meng up load foto Khaimuddien terakhir. Saya lama sekali memandang foto itu. Wajahnya cekung dan kurus. Saya melihat foto itu terharu. Jika saya bandingkan dengan kedua foto di atas, ia gagah dan penuh ide-ide untuk pengembangan HMI di bumi Cenderawasih.

Pagi ini saya mengajak para aktivis HMI Cabang Jayapura, baik yang sangat kenal dengan beliau maupun generasi baru HMI Cabang Jayapura berdoa akan kesembuhan beliau. Aamiin Ya Rabbal'alamin

Jumat, 11 Januari 2019

Thaha al-Hamid yang Baik

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Malam menjelang pagi ini, saya mencoba coret-coretan kepada Anda. Sudah tentu, secara pribadi kita pernah memiliki kenangan di Papua, ketika saya dipercaya menjadi Ketua Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura.
Saya sebelumnya sangat gembira bahwa Anda memiliki buku saya: "Saddam Hussein Menghalau Tantangan (Jakarta: PT. Penebar Swadaya, 1998). Saya juga senang, Anda sangat kenal dengan Aristides Katoppo yang sewaktu bulan puasa tahun lalu, saya diundang berbuka puasa di rumah beliau.

Thaha, apa kaitan buku Saddam Hussein dengan dengan Aristides Katoppo? Kaitannya sangat erat, karena Aristides Katoppo ketika menerbitkan buku saya Saddam Hussein tidak dapat saya lupakan, gembira sekaligus sedih.

Buku Saddam Hussein yang di tangan Anda, tidak sebaik buku para pemimpin dunia lainnya. Edisi lux dan foto sangat cemerlang dan jelas.

Saya mengenal dekat Aristides Katoppo sejak 1991/1992.
Ia penyumbang tulisan di buku yang saya susun "B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" (Jakarta: Pustaka Merdeka 1992). Kemudian tahun 1994, saya menerbitkan buku: "Gunawan Satari, Pejuang, Pendidik dan Ilmuwan (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994). Aristides Katoppo waktu itu adalah penentu di penerbitan tersebut.

Buku biografi Prof. Dr. Ir. Gunawan Satari ini saya bawa ke Kedutaan Besar Irak di Jakarta. Duta Besar Sa"doon J. al-Zubaydi, yang dulunya penterjemah Presiden Irak Saddam Hussein, karena ia lulusan bahasa Inggris di Universitas Cambridge, setuju dengan ide saya menerbitkan buku di Pustaka Sinar Harapan. Tetapi apa yang terjadi? Keinginan duta besar tidak sesuai dengan harapannya. Kalau masalah dana tidak mungkin kurang. Tetapi buku Saddam Hussein jauh dari harapan seorang Duta Besar Irak di Jakarta yang awalnya ingin seperti buku saya Prof.Dr. Gunawan Satari, minimal. Maksimalnya seperti buku para pemimpin dunia umumnya. Sebuah cerita menggembirakan buat saya, sekaligus menyedihkan.

Selasa, 11 Desember 2018

Kenangan di Irak, 10 Desember 1992

TANGGAL 10 DESEMBER 1992,  MERUPAKAN HARI KENANGAN BUAT SAYA. MENGENANG PERJALANAN PERTAMA SAYA  KE IRAK. BUKAN BERSENANG-SENANG, TETAPI MENYAKSIKAN PENDERITAAN RAKYAT IRAK.

Rakyat Irak Masih Tetap Menderita

Oleh Dasman Djamaluddin

https://id.wikipedia.org/wiki/dasman_djamaluddin

Penduduk Irak awalnya  sangat makmur, karena hidup dari bumi yang kaya sumber minyak. Tetapi setelah serangan pasukan Amerika Serikat (AS)  dimasa George Walker Bush, anaknya George Herbert Walker Bush yang baru-baru ini meninggal dunia, tepatnya serangan AS dan invasi AS itu terjadi 20 Maret 2003, penderitaan rakyat Irak "bertambah" menderita.

Kenapa "bertambah" ?. Karena sebelumnya saya menyaksikan sendiri penderitaan rakyat Irak itu dengan pergi ke Baghdad pada 10 Desember 1992 dan kembali lagi ke Irak pada bulan September 2014. Oleh karena itu,  dua kali saya ke Irak melihat  dari dekat kehancuran Irak.

Kedua kunjungan itu juga berada di situasi yang berbeda di Irak dan AS. Pertama,  tahun 1992, Irak masih dipimpin Presiden Irak Saddam Hussein. Sementara di AS yang menjadi Presiden AS adalah George Herbert Walker Bush. Ia baru saja meninggal pekan ini. Kunjungan kedua saya ke Irak tahun 2014, itu di Presiden Irak Saddam Hussein sudah tidak ada. Ia digantung pada hari Sabtu, 30 Desember 2006. Sedangkan di AS yang memerintah adalah anaknya George Herbert Walker Bush, yaitu George Walker Bush.

Di masa kedua Presiden AS inilah, rakyat Irak semakin menderita. Apalagi setelah Irak dihancurkan muncul lagi gerilyawan Negara Islam di Irak. Awal mulanya lahir di Irak kemudian meluas ke Suriah, sehingga namanya berubah menjadi Negara Islam tidak hanya di Irak, tetapi juga di Suriah (ISIS).

Di Irak, pada 10 Desember 2017 dinyatakan bahwa ISIS sudah dilenyapkan. Di Irak sudah tidak ada lagi ISIS. Sementara di Suriah, ISIS terdesak akibat perang antara pasukan Suriah didukung Iran dan Rusia dengan AS dan Arab Saudi. Boleh dikatakan di Irak dan Suriah, rakyatnya menderita akibat perang. Foto di atas menunjukkan, meski Irak sudah menyatakan ISIS tidak ada lagi tetapi jutaan rakyatnya sekarang masih menderita setahun ISIS dihancurkan.

Tanggal 10 Desember secara pribadi, adalah tanggal keberangkatan saya ke Irak pertama kali, tepatnya 10 Desember 1992. Waktu itu saya ke Irak tidak bisa langsung dari Jakarta-Baghdad. Tetapi saya harus ke Jordania dulu, karena Irak mendapat sanksi PBB, wilayah udara Irak ditutup. Ini merupakan perjalanan panjang melalui darat dari Jordania-Irak. Jalan darat yang ditempuh lebih kurang 885 kilometer yang ditempuh sekitar 13 jam dari Jordania ke Irak. Sangat melelahkan. Memang istirahat di tempat-tempat tertentu, tetapi tidak lama.

Mata tidak bisa diajak kompromi, kadang-kadang tertidur. Hari telah gelap, sementara cuaca cukup dingin menyusup ke tulang sumsum. Sopir taksi, mungkin sudah terbiasa mengemudikan di tengah padang pasir, tidak kelihatan merasa lelah. Hanya saya, yang terlihat lelah. Maklumlah baru pertama kali mengarungi padang pasir yang luas dan sepi. Kalau pun ada kendaraan lain, jarak antara satu dengan yang lain tidak terlihat. Hanya debu-debu yang berterbangan, menyisir jalan setapak di padang pasir.

Tak terpikir apa yang harus dilakukan jika kendaraan kami mogok di tengah jalan. Alhamdulillah, kendaraan itu sampai di jalan bebas hambatan di kota Baghdad. Hari sudah larut malam, dan saya minta diantarkan ke sebuah hotel berbintang lima, Meredien Hotel,di kota Baghdad.

Tidak lama kemudian, saya sudah berada di hotel yang ditunjuk. Memang nama hotel ini sudah diberitahu Dubes Irak di Jordania, ketika saya di sana. Hotel tersebut terletak di tengah-tengah kota Baghdad.

Sebagaimana hotel-hotel berbintang lima, sudah tentu pelayanan kepada tamu sangat istimewa. Tidak terkecuali saya, karena termasuk tamu dari Kementerian Penerangan Irak.

Kehati-hatian, apalagi suasana di Irak masih dalam keadaan siaga, karena negara itu pada 17 Januari 1991 baru saja diserang dari udara oleh Amerika Serikat dan sekutunya, lebih saya utamakan. Para intelijen boleh jadi ada di sekitar saya, untuk memastikan siapa saya sebenarnya. Boleh jadi sang intelijen menyamar sebagai pelayan, tukang listrik atau sebagai sopir taksi. Yang jelas, saya harus bisa menjaga diri.

Besok paginya, mobil Kedubes Indonesia menghampiri saya di hotel dan membawa saya mengitari kota Baghdad. Rasa kagum saya muncul ketika melihat bangunan-bangunan tertata dengan baik. Di setiap kantor pemerintahan dan kantor-kantor swasta terpampang gambar Presiden Irak Saddam Husein berukuran besar. Jika di Kementerian Pos dan Telekomunikasi Irak, terlihat gambar Saddam lagi menelepon. Di Kementerian Pertanian, gambar Saddam sedang bersama petani Irak.

Sejak saya masuk ke Jordania, gambar-gambar Raja Hussein terlihat juga di beberbagai sudut kota. Ini menggambarkan, pemerinahan di negara Arab selalu dielu-elukan dan dihormati rakyatnya. Dulu dikenal semboyan rakyat Irak yang berbunyi ” kami siap melindungi Yang Mulia dengan darah, ya Saddam.” Semboyan itu selalu diucapkan ketika Irak diserang Amerika Serikat dan sekutunya. Juga yel-yel itu diucapkan jika Presiden Saddam Hussein berkunjung ke sebuah tempat.

Di saat ini penderitaan rakyat Irak sungguh memprihatinkan. Rakyat Irak dihadapi dengan embargo ekonomi dan zona larangan terbang. Hanya Jordania yang sering membantu tetangganya ini, karena memang hanya Jordania satu-satunya negara Arab yang membuka perbatasannya dengan Irak. Negara Arab lainnya menutup perbatasannya. Irak dikucilkan.

Penderitaan rakyat Irak ini tidak terlihat jika mengalihkan pandangan menyaksikan kota Baghdad. Juga tidak terlihat jalan-jalan yang hancur karena diserang pasukan Amerika Serikat dan sekutunya dari udara pada 17 Januari 1991. Seandainya saja Irak bukan negara kaya minyak, saya yakin puing-puing pemboman masih terlihat di mana-mana.

Bayangkan pada waktu itu pesawat pembom Amerika Serikat dan sekutunya yang dinamakan pasukan multinasional itu melakukan serangan udara sekitar 19 jam dengan 750 kali serangan ke kota Baghdad.

Tetapi karena Irak memiliki dana dari hasil minyak, saya menyaksikan Irak daru dekat, tidak satupun jalan dan bangunan di sana ada yang rusak. Roda perekonomian, meski ada embargo tetap berjalan sebagaimana mestinya, sebagai mana aliran sungai-sungai yang membelah kota Baghdad.

Di tengah-tengah kota Irak mengalir sungai Tigris yang panjangnya sekitar 1.718 kilometer dan sungai Euphrate yang panjangnya 2.300 kilometer. Di dalam bahasa Arab, sungai Tigris disebut sungai Dejelahyang mengalir di tengah kota Baghdad, terbentang dari hulu hingga hilir dan bermuara di Shatt al-Arab di Teluk Persia.

Sedangkan sungai Euphrate yang disebut dalam bahasa Arab sebagai sungai Furat, yang juga bermuara di Shatt al-Arab. Pada waktu saya berkunjung ke sana, ada pula sebuah sungai, bernama sungai Saddam. Bertepatan ketika saya berkunjung di bulan Desember 1992 itu, sungai ketiga di Baghdad tersebut resmi dimanfaatkan. Sungai ini membentang sejauh 565 kilometer, dengan lebar 100 meter pada permukaan dan 50 meter pada dasar. Dalamnya mencapai 40 meter.

Sungai Saddam ini menjadi kebanggaan waktu itu. Sungai yang dibangun di awal-awal berlangsungnya embargo ekonomi, diselesaikan dalam waktu 180 hari. Dengan dimanfaatkannya sungai ketiga ini, maka sekitar enam juta donum atau 250.000 hektar tanah pertanian dapat digarap dan diairi.

Di Irak terdapat empat musim, musim dingin, semi, panas dan musim kemarau.Tetapi yang pokok adalah dua musim, musim dingin dan panas. Pada musim dingin (bulan Januari), iklimnya membuat air sampai beku, karena kadang kala suhu udara berada dua derajat di bawah nol.Pada musim panas (Juli-Agustus), suhu udara mencapai 40 derajat Celcius.

Meskipun demikian, suhu udara berbeda-beda antara satu daerah dengan lainnya. Bila musim dingin di selatan sejuk, maka ke arah utara bertambah dingin dan biasanya hujan turun.

Sebaliknya kalau musim panas, udaranya panas, tetapi kering. Siang hari seringkali angin bertiup dari utara dengan membawa debu tebal. Tetapi malamnya, udara menjadi sejuk. Di daerah utara, musim panas tidak seberapa panas, bahkan udara bisa berubah menjadi sejuk. Musim panasnya pun tidak begitu lama berlangsung.

Menurut sejarah, Irak yang dahulunya bernama Mesopatamia merupakan negeri yang berperadaban tinggi. Peninggalan budaya bernilai tinggi ditemukan di gua-gua pegunungan daerah utara dan timur laut, serta di udara terbuka di daerah dataran tinggi sebelah timur dan perbukitan Sahara di sebelah barat.

Tulisan pertama berasal dari Irak, demikian pula kitab undang-undang. Bangsa Sumeria, Akkadia, Babylonia dan Assyria, semuanya membangun peradaban mereka di Irak. Taman Firdaus pun bertempat di Irak, yaitu daerah yang disebut Qurna.

Pada bulan September 2014, saya kembali ke Irak. Pergantian pemerintahan sudah terjadi di Irak. Tetapi situasinya masih rawan. Bom mobil sering meledak. Saya hanya bisa mengunjungi Masjid Al Kufah atau sering juga disebut  masjid sahabat Nabi Muhammad SAW, sekaligus menantu beliau Ali ra. Beliau berdomisili dan berkantor di masjid Al-Kufa, di Kufa, Irak ini. Juga beliau meninggal dunia di dalam masjid ini, dibunuh ketika sedang melakukan shalat subuh.

Masjid ini dibangun Abad VII yang luasnya 11.000 persegi. Kufa ini merupakan sebuah kota di Irak dan jaraknya 170 km di selatan Baghdad. Saya berkunjung ke masjid ini bukan tahun 1992, tetapi pada kunjungan kedua saya ke Irak, 20 September 2014.

Pada 21 September 2014, saya melanjutkan perjalanan ke Padang Karbala, di mana di sinilah Hussein, putera Ali ra dibunuh.

Berarti dapat disimpulkan bahwa Irak menjadi pusat peradaban manusia yang tinggi. Juga tempat berdiamnya sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali ra dan anaknya. Begitupun tempat tinggal Nabi Ayub as.


Selasa, 20 November 2018

Kunjungan Mantan Wartawan "Merdeka" ke Jerusalem



Mantan wartawan harian "Merdeka," pimpinan BM Diah, yaitu Neta S Pane, tepat hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, Selasa, 20 November 2018 ini sedang berkunjung ke Jerusalem. Ia mengirimkan foto kompleks Al-Haram Asy-Syarif, di mana di dalamnya terdapat "Dome of The Rock," yang berarti Kubah Batu.
Bangunan Kubah Batu, merupakan satu di antara bangunan yang terletak di sebuah kawasan seluas 14,4 hektar. Di sana ada beberapa bangunan lagi, termasuk masjid Al-Aqsa. Apa yang dapat dilihat di bangunan Kubah Batu berbentuk delapan persegi itu? Neta mengabadikan sebuah foto tapak mi'rajnya Nabi Muhammad SAW dari masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha (langit ke-tujuh) dan dari Allah SWT lalu  menerima amanah untuk melaksanakan shalat. Pertama, 50 rakaat sehari semalam. Kemudian ketika hendak turun bertemu Nabi Musa dan menyarankan agar kembali bertemu Allah kembali. Minta pengurangan rakaat, karena menurut Nabi Musa, ummat Nabi Muhammad SAW tidak akan kuat. Nabi Muhammad kembali lagi menghadap Allah, sehingga raka'atnya berkurang menjadi lima kali sehari semalam.
Tidak dijelaskan oleh Neta, apakah perjalanannya ke Jerusalem lancar-lancar saja setelah Jerusalem berada di bawah kelompok Yahudi usai kekalahan negara Arab pada 7 Juni 1967 dalam perang yang hanya berlangsung enam hari. Apalagi baru-baru ini, Amerika Serikat menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel.
Penduduk Yahudi telah merdeka tahun 1948. Sebelumnya, negara pemenang Perang Dunia I, khususnya Inggris menandatangani sebuah perjanjian dengan kelompok Yahudi. Penduduk Yahudi ikut membantu Inggeris dengan dana yang besar, agar Jerman bisa dikalahkan. Jika Jerman kalah, apa yang diminta penduduk Yahudi akan dipenuhi Inggris. Ternyata Jerman kalah dalam perang.
Penduduk Yahudi menganggap tanah airnya ada di Jerusalem. Awalnya Inggris memberikan tanah Palestina kepada penduduk Yahudi. Anehnya, sebenarnya kalau dibagi, maka rakyat Palestina yang memperoleh bahagian besar. Ini tidak. Malah, penduduk Yahudi yang memiliki wilayah lebih besar dan mendeklarikan kemerdekaannya tahun 1948 sebagai negara Israel. 
Sebaliknya, sekarang nasib bangsa Palestina terkatung-katung. Wilayahnya makin lama makin kecil. Lihatlah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dalam hitungan di atas kertas, bangsa Palestina (Islam dan Kristen) yang tepat menjadi bangsa merdeka. Awalnya wilayah itu seluruhnya milik bangsa Palestina, kenyataannya bangsa ini yang kemudian menjadi bangsa pengungsi.
Penduduk Yahudi menganggap di Jerusalem itu terdapat "Dinding Ratapan," untuk penduduk Yahudi. Terkejutnya bangsa-bangsa di dunia, keinginan Israel untuk mendirikan kembali "Kuil Sulaiman," yaitu tempat peribadatan suci umat Yahudi yang dibangun Nabi Daud pada tahun 1000 Sebelum Masehi. Untuk membangunnya, maka Israel harus meruntuhkan masjid -Al-Aqsa. Apakah keinginan Israel ini bisa terwujud? Sudah tentu, tidak.