Selasa, 20 November 2018

Kunjungan Mantan Wartawan "Merdeka" ke Jerusalem



Mantan wartawan harian "Merdeka," pimpinan BM Diah, yaitu Neta S Pane, tepat hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, Selasa, 20 November 2018 ini sedang berkunjung ke Jerusalem. Ia mengirimkan foto kompleks Al-Haram Asy-Syarif, di mana di dalamnya terdapat "Dome of The Rock," yang berarti Kubah Batu.
Bangunan Kubah Batu, merupakan satu di antara bangunan yang terletak di sebuah kawasan seluas 14,4 hektar. Di sana ada beberapa bangunan lagi, termasuk masjid Al-Aqsa. Apa yang dapat dilihat di bangunan Kubah Batu berbentuk delapan persegi itu? Neta mengabadikan sebuah foto tapak mi'rajnya Nabi Muhammad SAW dari masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha (langit ke-tujuh) dan dari Allah SWT lalu  menerima amanah untuk melaksanakan shalat. Pertama, 50 rakaat sehari semalam. Kemudian ketika hendak turun bertemu Nabi Musa dan menyarankan agar kembali bertemu Allah kembali. Minta pengurangan rakaat, karena menurut Nabi Musa, ummat Nabi Muhammad SAW tidak akan kuat. Nabi Muhammad kembali lagi menghadap Allah, sehingga raka'atnya berkurang menjadi lima kali sehari semalam.
Tidak dijelaskan oleh Neta, apakah perjalanannya ke Jerusalem lancar-lancar saja setelah Jerusalem berada di bawah kelompok Yahudi usai kekalahan negara Arab pada 7 Juni 1967 dalam perang yang hanya berlangsung enam hari. Apalagi baru-baru ini, Amerika Serikat menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel.
Penduduk Yahudi telah merdeka tahun 1948. Sebelumnya, negara pemenang Perang Dunia I, khususnya Inggris menandatangani sebuah perjanjian dengan kelompok Yahudi. Penduduk Yahudi ikut membantu Inggeris dengan dana yang besar, agar Jerman bisa dikalahkan. Jika Jerman kalah, apa yang diminta penduduk Yahudi akan dipenuhi Inggris. Ternyata Jerman kalah dalam perang.
Penduduk Yahudi menganggap tanah airnya ada di Jerusalem. Awalnya Inggris memberikan tanah Palestina kepada penduduk Yahudi. Anehnya, sebenarnya kalau dibagi, maka rakyat Palestina yang memperoleh bahagian besar. Ini tidak. Malah, penduduk Yahudi yang memiliki wilayah lebih besar dan mendeklarikan kemerdekaannya tahun 1948 sebagai negara Israel. 
Sebaliknya, sekarang nasib bangsa Palestina terkatung-katung. Wilayahnya makin lama makin kecil. Lihatlah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dalam hitungan di atas kertas, bangsa Palestina (Islam dan Kristen) yang tepat menjadi bangsa merdeka. Awalnya wilayah itu seluruhnya milik bangsa Palestina, kenyataannya bangsa ini yang kemudian menjadi bangsa pengungsi.
Penduduk Yahudi menganggap di Jerusalem itu terdapat "Dinding Ratapan," untuk penduduk Yahudi. Terkejutnya bangsa-bangsa di dunia, keinginan Israel untuk mendirikan kembali "Kuil Sulaiman," yaitu tempat peribadatan suci umat Yahudi yang dibangun Nabi Daud pada tahun 1000 Sebelum Masehi. Untuk membangunnya, maka Israel harus meruntuhkan masjid -Al-Aqsa. Apakah keinginan Israel ini bisa terwujud? Sudah tentu, tidak.

Kamis, 11 Oktober 2018

Berharap Visi Pergerakan Indonesia Maju (PIM) yang Akan Diajukan kepada Kedua Capres dan Wakilnya Mampu Diwujudkan

Hari Senin, 8 Oktober 2018, dalam foto kedua dari kiri, saya diundang Pergerakan Indonesia Maju (PIM) yang dipimpin ketuanya Prof. Dr. M. Din Syamsuddin berdiskusi tentang masalah kebangsaan. Sudah tentu sebuah kehormatan, apalagi berbagai pokok pikiran ini akan diserahkan kepada kedua capres dan wakilnya pada hari Jumat, 12 Oktober 2018 pukul 19.00 di Ballroom Puri Agung, Hotel Sahid, Jakarta.
Saya tertarik, karena di antara pokok pikiran yang akan diajukan kepada kedua capres dan wakilnya itu menyangkut mewujudkan visi kebangsaan sesuai Undang Undang Dasar 1945 (UUD '45) yang asli.

Menurut nalar saya, berbicara tentang UUD '45 asli berarti langkah pertama yang dilakukan adalah meng-Amandemen UUD 2002 sekarang ini, agar kita bisa kembali ke UUD '45 yang asli.
Universitas Indonesia (UI) dan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) telah lama mengemukakan agar mengkaji ulang UUD 2002 harus direvisi.  Tetapi keinginan UI dan LVRI tersebut belum terwujud, sementara jika kaji perubahan UUD 1945 yang disusun oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia sebagaimana UUD 1945 yang asli. UUD 2002 dibuat dalam suasana "euphoria" refornasi, yang lebih didominasi suasana anti terhadap sistem Orde Baru. Akibatnya perubahan konstitusi berlangsung dalam suasana yang impulsif, tidak melalui pemikiran yang mendalam dan kajian akademis yang komprehensif.
Saya sebagai Alumni UI, sangat mendukung perubahan UUD 2002 ini. Apalagi di LVRI, saya ketika berada di sana menerbitkan buku Ketua Umum LVRI, Letjen TNI (Purn) Rais Abin, sudah lama mendukung gagasan Kaji Ulang UUD 2002. Bagaimanapun perubahan UUD '45 asli menjadi UUD 2002 dipengaruhi suasana yang impulsif, tidak melalui pemikiran yang mendalam dan kajian akademis yang komprehensif.

Sudah tentu dalam suasana seperti itu, upaya untuk mempertahankan nilai, prinsip dasar dan jiwa UUD 1945 asli, tidak mungkin berhasil. Tanpa disadari, telah terjadi penyimpangan terhadap jiwa konstitusi sebagaimana yang dirumuskan oleh "the founding fathers." Juga di dalam UUD 2002, terdapat rumusan-rumusan yang tak sejalan lagi dengan Ideologi Pancasila dan makna Pembukaan UUD 1945.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Ratna Sarumpaet dan Nayirah, Dua Perempuan yang Mampu Mengubah Opini Umum


Ratna Sarumpaet, berusia 70 tahun, berkebangsaan Indonesia dan Nayirah, yang pada tahun 1990 berusia 19 tahun, putei Sheikh Saud Nasser al-Saud al-Sabah, Duta Besar Kuwait untuk Amerika Serikat (AS), adalah dua perempuan yang mampu mengubah opini umum di negaranya masing-masing. Kedua-duanya pada saat bersamaan adalah pemain teater. Ratna Sarumpaet berguru kepada WS Rendra, sedangkan Nayirah sudah bekajar akting di Hill Knowlton.

Wajah dua perempuan ini sekarang terpampang di berbagai internet untuk menyatakan kepada dunia bahwa keduanya pembohong.

Ratna Sarumpaet dari Indonesia dianggap berbohong, karena wajahnya yang lebam setelah dipukul atau dianiaya, ternyata wajah yang lebam itu adalah dampak dari operasi wajah yang dilakukannya. Sebagai salah seorang team kampanye salah seorang calon presiden, yaitu Prabowo Subianto,  sudah tentu berpengaruh kepada ucapan berbohong yang dilakukannya. Dua kali Prabowo membuat pernyataan di layar televisi. Pertama, ketika ia akan membela Ratna Sarumpaet karena dipukul. Kedua, Prabowo meminta maaf, dan memberitahukan bahwa Ratna Sarumpaet berbohong dan telah dipecatnya dari team kampanye. Peristiwa ini masih bergulir dan sudah diproses oleh pihak Kepolisian RI.
Di Kuwait, ketika pasukan Irak masuk ke Kuwait, seluruh informasi, termasuk tentang Nayirah yang berbohong sudah saya dengar dari Menteri Perindustrian dan Perlogaman Irak,  Amir al-Saadi di tahun 1992 ketika saya untuk pertama kalinya berada di Irak. Kedua, saya ke Irak tahun 2014. Oleh karena itu, apa yang diberitakan berbagai media nasional maupun internasional, tentang Nayirah itu benar.

Berkat pengakuannya dalam pidatonya di ABC's Nightline dan NBC Nightly News pada 10 Oktober 1990 yang menangis saat berbicara tentang kejahatan yang dilakukan tentara Irak di Kuwait, dunia bersimpati dan marah kepada Irak. Dalam pengakuannya, ia mengatakan menyaksikan pembunuhan lebih dari 300 bayi di rumah sakit di Kuwait. Dunia bersimpati, sehingga banyak negara ikut membantu AS mengusir Irak dari Kuwait. Irak tersudut karena informasi bohong dari Nayirah.
Setelah Irak hancur diserang oleh AS dan sekutunya terungkap bahwa pernyataan Nayirah itu bohong. Ternyata pimpinan di mana Nayirah belajar akting menandatangani kontrak 111 miliar dollar AS dengan keluarga Kerajaan Kuwait. Tugas yang diberikan memang sederhana, agar Nayirah harus bisa berakting membujuk militer AS untuk mengambil tindakan terhadap Irak dengan uraian air mata Nayirah, meski berbohong.

Jumat, 31 Agustus 2018

Jadilah Menjadi Diri Sendiri

Membaca judul di atas seperti terkesan bahwa kita sudah mengetahuinya. Kita memiliki identitas sendiri dan berprilaku sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Itu benar. Tetapi judul itu lebih menekankan kepada diri kita agar tidak menjadi pribadi ke mana arah mata angin berputar.

"If you would go high, use your own legs. Do not let yourselves be carried up, do not sit on the backs and heads of others."

Kalau kau ingin menjulang tinggi, gunakan kakimu sendiri. Jangan biarkan dirimu dijunjung orang; jangan kau duduk di atas punggung dan kepala orang-orang lain.

Kalimat ini saya kutip dari buku: "Berkenalan dengan Eksistensialisme," tulisan Prof. Dr. Fuad Hassan, diterbitkan Pustaka Jaya, Cetakan ketiga, 1983, halaman 51.

Buku ini bacaan saya ketika kuliah di Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat Universitas Indonesia, Tahun Akademik, 1986/1987. Waktu ini seangkatan dengan Rocky Gerung dan Gadis Arivia.

Ungkapan Friedrich Wihelm Nietzsche, filosof asal Prusia ini menjelaskan kepada kita, bahwa pembonceng dalam gerak mencapai ketinggian adalah pemalsu-pemalsu serta penipu-penipu, lebih-lebih terhadap dirinya sendiri.

Kenapa demikian ? Karena mereka ini tidak akan mampu menikmati ketinggian yang telah dicapainya, karena mereka tahu karena ketinggian yang telah dicapainya itu bukanlah ikhtiarnya sendiri dan oleh karenanya semu belaka;  sekali waktu-pada waktunya-orang-orang demikian itu akan terpelanting dari ketinggian-ketinggian yang tidak dicapai atas kemampuannya sendiri itu. Mereka diibaratkan oleh Nietzshe sebagai orang-orang lumpuh yang menunggang kuda untuk mencapai tujuannya; mereka memacu kudanya agar secepat mungkin sampai ke tempat tujuan. Baiklah, kata Nietzshe,

"But your lame foot is sitting on the horse too. When you reach your goal, when your jump off your horse-on your very height ..
you will stumble."

Tetapi kakinya yang lumpuh itu ada di atas kuda. Kalau telah kau capai tempat tujuan, ketika kau melompat dari kudamu-dari ketinggian kamu itu...engkau akan terpelanting.


Jumat, 24 Agustus 2018

Sejak Dimakamkan di Papua Tahun 1990, Sang Isteri Berkunjung Menapaki Sisa-Sisa Kenangan

Tanggal 13 Maret 1990, Mantan Gubernur Integrasi Irian Barat (sekarang Papua) tahun 1963-1964, Eliezer Jan Bonay meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang isteri bernama Djuariah. Dari isteri ketiga ini, ia memiliki dua anak. Pertama, anak perempuan bernama Dian Sundariani Bonay (almarhumah) dan Riyanti Puspita Suriani Bonay.

Isteri ketiga Eliezer Jan Bonay ini dinikahi pada tanggal 1 Juli 1964 di Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Waktu itu Eliezer Jan Bonay sudah berstatus duda setelah menjadi mualaf.

Isteri pertama Eliezer Jan Bonay adalah Ana. Sudah meninggal dunia. Dari Ana diperoleh tiga anak. Pertama, Yuli Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Kedua, bernama Max Bonay, juga tinggal di Jayapura. Terakhir anak ketiga bernama Musa Bonay. Ia telah meninggal dunia.

Selanjutnya dari isteri kedua yang bernama Esther, juga sudah meninggal dunia, maka Eliezer Jan Bonay memiliki tujuh orang anak. Anak pertama bernama Heemskerche Bonay. Sekarang tinggal di Jayapura. Anak kedua bernama Dirk Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Anak ketiga bernama Akon Boney dan sudah meninggal dunia. Anak keempat, bernama Zacheus Bonay, sekarang tinggal di Serui. Anak kelima bernama Ruben Bonay, tinggal di Jayapura. Anak keenam yaitu Agus Bonay dan ketujuh, yaitu Afia Bonay. Kedua anak Eliezer Jan Bonay terakhir ini telah meninggal dunia.
Foto di atas sekali menunjukan kepada kita bahwa isteri ketiga, sekaligus isteri terakhir Eliezer Jan Bonay, yaitu Djuariah yang datang dari Bogor berziarah kembali ke makam suaminya itu di atas bukit Nundawipi, sebuah pulau kecil sebelah barat Kota Serui.
Di usianya yang ke-78 waktu itu, Djuariah sanggup mendaki bukit. Sekaligus menunjukan kesetiaan sejati seorang perempuan Sunda.
Kesetiaan yang ditunjukan isteri Eliezer Jan Bonay yang berasal dari orang Sunda, pernah juga ditunjukan Inggit kepada Bung Karno. Foto di bawah ini merupakan pertemuan ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI dengan mantan isterinya Inggit. Mengharukan, sekaligus membanggakan. Hingga akhir hayatnya, Inggit tetap memuja mantan suaminya itu. Cinta sejati dan penuh keikhlasan. 

Suatu ketika Inggit pernah ditanya tentang hal-hal bersifat pribadi tentang seorang Soekarno. Inggit pun selalu melindungi. "Ah...itu pamali untuk dibicarakan," ujarnya. Soekarno menggambarkan sosok Inggit dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adams:" Inggit dan aku kawin di tahun 1923. Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari istriku yang masih gadis kepada istri lain yang selusin tahun lebih tua dari padaku...Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan itu sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri."


Kamis, 09 Agustus 2018

Hari Veteran Nasional 10 Agustus 2018


Hari ini, Jumat, 10 Agustus 2018, adalah Hari Veteran Nasional. Hal ini diungkapkan Presiden Soekarno pada tahun 1965.  "Tanggal 10 Agustus adalah hari peringatanmu, Hari Veteran Nasional. Memang Veteran adalah milik nasional. Satu gelar agung yang dianugerahkan oleh rakyat kepadamu sebagai penghargaan atas perjuangan dan pengorbananmu di masa revolusi physik," ujar Presiden Soekarno.
Hari Veteran Nasional ini selalu diperingati untuk mengingatkan kembali peristiwa 10 Agustus 1949. Pada hari itu disepakati persetujuan gencatan senjata antara pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintahan Kerajaan Belanda yang berlaku tanggal dan hari itu, pukul 24.00. Namun, pertempuran TNI melawan tentara Kerajaan Belanda belum berakhir di hari itu, karena "Serangan Oemum" merebut kembali kota Solo yang dimulai sejak tanggal 10 Agustus 1949. Pukul 24.00 WIB semua pihak yang terlibat pertempuran menghentikannya.
Gencatan senjata antara TNI dengan tentara Kerajaan Belanda telah mengakhiri perjuangan panjang menegakan dan menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia, sehingga berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kokohnya. Hari bersejarah tanggal 10 Agustus 1949 itu kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Veteran Nasional (Foto dari berbagai sumber).


Sabtu, 28 Juli 2018

Apa Benar Yogyakarta Tidak Lagi Istimewa ?

Inilah salah satu foto yang saya ambil dari harian "Kompas." Seorang perempuan Yogyakarta yang sedang membonceng anaknya bersekolah sedang melewati tanah seluas 587, 3 hektar yang nantinya akan dibangun Bandara New Yogyakarta International Airport. Bandara yang akan dibangun tersebut terletak di desa Jangkaran, Sindutan, Palihan, Kebonrejo, dan Glagah di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Yogyakarta.
Inilah sketsa yang juga saya ambil dari harian "Kompas." Menunjukkan jika Bandara ini sudah jadi akan menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta.

Mengapa, saya menulis tentang hal ini ? Sebuah film dokumentasi yang dibuat seorang warga Blora, di tempat di mana saya tahun 1974 sekolah di SMA Neg. Blora, menayangkan situasi terkini tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada yang beranggapan, Yogyakarta akan hilang keistimewaannya, tidak lagi istimewa, karena Yogyakarta, situasinya telah berubah menjadi kota metropolitan. Ditunjukkan dalam film itu, ada beberapa bangunan bertingkat di Yogyakarta. Tetapi, yang saya garis bawahi, pendapat yang mengatakan Yogyakarta tetap menjadi Daerah Istimewa, meski di sekitar wilayah itu kini tengah dibangun seperti Bandara Internasional dan gedung bertingkat. Budaya menurut saya berbeda dengan bangunan fisik. Budaya Yogyakarta selama ini tidak berubah. Ini hal yang saya anggap, sangat penting.
Hal keistimewaan ini selalu disebut oleh Sultan Hamengku Buwono X ketika kami berkunjung ke Kraton Yogyakarta, di bulan  Mei 2012. Kami yang saya maksud, adalah kami bertiga, saya, Freddy Ndolu dan seorang fotographer Agustinus James menemui Raja Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono di Kraton Yogyakarta.
Oleh karena itu, Yogyakarta sejak dipimpin ayahnya Sultan Hamengku Buwono X, yaitu Sultan Hamengku Buwono IX, sudah memperlihatkan kesetiaan sejak berdirinya republik ini.

Tanggal 5 September 1945, Sultan HB IX dengan persetujuan Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta mengeluarkan amanat, bahwa Yogyakarta berbentuk Kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari Republik Indonesia.