Senin, 27 Januari 2020
Hari Wafat Soeharto
Hari Wafat Soeharto dan Pendaftaran sebagai Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Golkar
*Oleh Dasman Djamaluddin*
Inilah judul tulisan saya di Kompasiana, 26 Januari 2019, setahun yang lalu.
Saya juga menampilkan foto saat-saat terakhir Presiden ke-2 Republik Indonesia (RI), Soeharto. Foto ini saya unggah dari Tribun. Presiden ke-2 RI ini wafat pada 27 Januari 2008, di usia 86 tahun. Saya yakin, keluarga Cendana akan hikmat mendoakan ayah beliau pada peringatan hari wafat, tanggal 27 Januari 2020 ini, agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa sang ayah, kakek atau buyut.
Sudah tentu, hari wafatnya Presiden Soeharto yang telah menyatakan mundur sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998 memunculkan sebuah kenangan setelah beliau memerintah selama 32 tahun, terutama terhadap Golongan Karya yang dilanjutkan Soeharto. Mengapa saya mengatakan dilanjutkan?
Bagaimanapun juga inisiatif pembentukan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) datang dari Presiden ke-1 RI, Presiden Soekarno dan Achmad Yani. Pandangan saya ini dimuat dalam Surat Pembaca Harian Umum "Suara Karya," 28 Maret 2001.
Selanjutnya di dalam buku yang saya editori dan diberi pengantar oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Prof. Abdul Bari Azed,S.H, M.H, dan diterbitkan Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UI halaman vi dan vii, saya menjelaskan sedikit tentang sejarah berdirinya Golkar dan keinginan Presiden RI K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengeluarkan Maklumat Presiden RI tanggal 23 Juli 2001 agar Golkar dibubarkan.
Pada waktu itu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat adalah Akbar Tanjung. Ia menulis surat kepada Ketua Mahkamah Agung RI agar segera mengeluarkan fatwa. Pada 23 Juli 2001 itu juga keluar Fatwa Mahkamah Agung yang ditandatangani Ketua Mahkamah Agung, Bagir Manan, bahwa dikeluarkannya Dekrit Presiden bertentangan dengan hukum.
Pada 7 Maret 1999 lahirkah apa yang dinamakan Golkar Baru, yang kemudian menjadi Partai Golkar.
Juga saya teringat ketika di masa Partai Golkar ini, saya didaftar sebagai Bakal Calon Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Banyak bakal calon berguguran waktu itu. Saya dianulir karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk Jakarta. Yang tersisih lainnya termasuk Agum Gumelar, yang hingga batas terakhir pendaftaran, tidak mengembalikan formulir.
Waktu ini Fauzi Bowo (Foke) ditetapkan sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Peta politik Pilres dan Pemilu tahun lalu, yaitu tahun 2019, sangat menarik. Partai Golkar bergabung dengan PDI-P. Sementara aktifis Partai Golkar Siti Hediati Hariyadi, yang sering dipanggil Titiek Soeharto, juga mantan istri Prabowo Subianto menyeberang dari Partai Golkar ke Partai Berkarya pimpinan Tommy Soeharto. Karena hanya ada dua Capres 2019, maka Partai Berkarya ikut mendukung Capres Prabowo Subianto, mantan suami Titiek Soeharto.
Jumat, 24 Januari 2020
Mahkota Bagi Seorang Wartawan
*Mahkota Bagi Seorang Wartawan*
Catatan wartawan Dasman Djamaluddin
https://id.wikipedia.org/wiki/dasman_djamaluddin
Menyambut Hari Pers Nasional, 9 Februari 2020, saya menurunkan tulisan tentang Mikhail Gorbachev. Apa kaitan dengan Hari Pers Nasional 2020 ?
Adalah Burhanudin Mohamad (B.M) Diah yang menyatakan bahwa setelah pertemuannya dengan Mikhail Gorbachev, ia menganggap sebagai "Mahkota Bagi Seorang Wartawan."
Pada 4 Agustus 2019, saya menulis di Kompasiana tentang Mikhail Gorbachev. Ia muncul kembali baru-baru ini, karena mantan kepala badan intelijen Israel Mossad, Tamir Pardo, telah mengklaim bahwa campur tangan Rusia di dunia maya telah membantu mempengaruhi pemilu presiden Amerika Serikat (AS) 2016 yang dimenangkan Donald Trump. Demikian bunyi laporan yang diturunkan media Israel, Haaretz.
Menurut Pardo, Rusia memilih kandidat yang paling menguntungkan secara politis untuknya dan menggunakan "bot" online untuk mengantarkan Trump ke kursi kepresidenan.
Terlepas benar atau tidak laporan tersebut, tetapi sebahagian besar rakyat AS percaya bahwa Rusia telah membantu Trump mengalahkan calon presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Apakah sekarang ini manuver AS yang keluar dari kesepakatan nuklir antara AS - Rusia di masa Presiden Mikhail Gorbachev suatu pertanda bahwa Trump akan kembali dibantu Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2020? Tetapi sebaliknya boleh jadi manuver politik Trump tentang nuklir akan memupus kepercayaan Rusia kepada Trump?
Yang jelas sikap Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri dari kesepakatan senjata nuklir dengan Rusia, membuat mantan Pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev mengeluhkan sikap AS yang menarik diri dari pakta pengendalian senjata nuklir jarak jauh yang ditanda-tangani kedua negara pada Desember 1987. Ketika itu, AS diwakilkan oleh mantan Presiden Ronald Reagan, sedang di pihak Uni Soviet oleh Mikhail Gorbchev.
Sangatlah wajar apabila Gorbachev yang sekarang berusia 88 tahun bersuara dan menilai keputusan Washington tersebut bisa merusak keamanan internasional. Menurut Gorbachev, menarik diri dari pakta yang disepakati pada 1987 sama artinya AS berurusan dengan potensi hancurnya keamanan Eropa dan keseluruhan sistem keamanan internsional.
"Penghentian pakta ini akan sulit membawa keuntungan bagi komunitas internasional. Langkah ini menghancurkan bukan hanya keamanan di Eropa, tetapi juga di seluruh dunia," kata Gorbachev dalam wawancara dengan Interfax, Jumat, 2 Agustus 2019.
Jika melihat foto dari Xinhua di bawah ini terlihat Mikhail Gorbachev, Mantan Presiden Uni Soviet, kanan, dan mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, kiri, saat menanda tangani pakta pengendalian senjata nuklir pada 8 Desember 1987.
Dikutip dari rt.com, Sabtu, 3 Agustus 2019, Gorbachev mengatakan pihaknya saat ini berharap Washington mau membalikkan keadaan dan merevisi keputusannya. AS sebelumnya menuding Rusia telah menciderai pakta pengendalian senjata nuklir jarak jauh dengan mengembangkan sebuah rudal. Meski dibantah Rusia, melihat perkembangan persenjataan mutakhir Rusia yang untuk sementara bisa mengimbangi senjata AS dalam ajang pertempuran di Suriah, benar bahwa persenjataan Rusia kembali diperhitungkan oleh AS.
Hal ini pun dibuktikan, baik di dalam pertempuran di Suriah yang kemudian membantu mempertahankan posisi Presiden Suriah Bashar al-Assad, maupun menyaksikan jenis senjata yang dijual kepada Turki baru-baru ini. Kebangkitan Rusia setelah Uni Soviet pecah di masa Gorbachev dibuktikan Vladimir Putin ketika ia mengambil alih Crimea.
Demikian pula AS. Berbekal senjata mutakhirnya menginvasi Irak. Pada waktu ini kekuatan Rusia belum pulih, sehingga ikut juga menyetujui bekas sekutunya Irak diserang AS. Tetapi ketika AS ingin menginvasi Suriah, langkah AS terganjal oleh Rusia yang kekuatan militernya sudah pulih. Akhirnya terjadilah perimbangan kekuatan di Suriah.
AS di pihak lain juga menjual senjatanya kepada Arab Saudi. Sebenarnya, AS juga ingin menjual senjatanya kepada sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yaitu kepada Turki. Tetapi betapa kecewanya AS kepada Turki yang membeli senjata dan pesawat tempur dari Rusia.
Tahun 2020 merupakan permasalahan pelik untuk Trump. Ia bisa saja terpilih kembali menjadi presiden untuk periode berikutnya atau langkahnya akan terhenti meski waktu tulisan ini dibuat sedang memperjuangkan mendapat hadiah Nobel Perdamaian 2018. Tetapi gagal. Bagaimana pun persoalan penghentian membicarakan senjata nuklir dengan Rusia akan berpengaruh terhadap dirinya dalam pemilihan presiden AS tahun 2020.
Sebaliknya Rusia dengan munculnya Mikhail Gorbachev tampil kembali di dunia internasional, apakah berdampak terhadap kepemimpinan Vladimir Putin ? Yang jelas bagi wartawan Indonesia, nama Gorbachev pernah menghiasi halaman suratkabar di Indonesia.
Burhanudin Mohamad Diah, pendiri harian "Merdeka," pernah mewawancarai Pemimpin Tertinggi Uni Soviet, Mikhail Gorbachev di Kremlin pada 21 Juli 1987. Sejak memegang pucuk pimpinan di Uni Soviet lebih dua tahun berselang, Mikhail Gorbachev , Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, banyak menarik perhatian dunia. Itu berkat tindakan-tindakan yang cukup mengejutkan, yang tak jarang jauh di luar ramalan pengemat politik sekalipun.
Inilah dialog B.M.Diah ketika bertemu Gorbachev yang dikutip dari buku beliau: B.M Diah, "Mahkota Bagi Seorang Wartawan" (Jakarta : Pustaka Merdeka).
"Dengan ramah dan senyum persahabatan, ia (Gorbachev) memulai membuka kesempatan bagi B.M.Diah mewawancarainya. Wawancara B.M.Diah ini sekaligus untuk memperingati satu tahun pidato Gorbachev di Vladivostok yang merupakan angin baru pandangan Uni Soviet bagi kawasan Asia-Pasifik.
Mikhail Sergeyev Gorbachev: "Saya senang ketemu dengan Tuan Diah. Saya mendengar banyak mengenai kegiatan Tuan. Tuan sudah beberapa puluh tahun aktif dalam bidang jurnalistik, bukan ? "
B.M.Diah : Saya senang bertemu dengan Tuan Sekretaris Jenderal. Ini suatu kehormatan besar bagi saya. Betul sekali sudah selama 50 tahun saya aktif dalam dunia jurnalistik.
Mikhail Sergeyev Gorbachev : " Itulah pengalaman yang besar. Dan pengalaman bukan sesuatu beban yang tak diperlukan, apalagi kalau dipergunakan secara benar. Misalnya kami sekarang melaksanakan tugas-tugas baru dalam negeri kami. Dan pada tahap perkembangannya ini, kami terus memperkaya diri atas dasar pengalaman serta pelajaran sejarah."
B.M.Diah: Kami sangat memperhatikan pidato-pidato Tuan serta proses-proses yang sedang terjadi di Uni Republik Sosialis Soviet.
Mikhail Sergeyev Gorbachev: " Terimakasih. Apakah kata-kata perestroika dan glasnost sudah sampai ke Indonesia ? Dapatkah kata-kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? "
B.M.Diah: Kata-kata itu dikenal baik di negara kami dan tidak perlu diterjemahkan.
Mikhail Sergeyev Gorbachev :" Sambil menyerahkan kepada Tuan jawaban-jawaban tertulis atas pertanyaan -- pertanyaan, saya ingin mendahuluinya dengan catatan-catatan yang tidak besar, tetapi, menurut pendapat saya, esensial. Saya berterimakasih kepada Tuan, dan Redaksi surat kabar Tuan, atas diperhatikannya Hari Ulang Tahun pidato saya di Vladivostok. Pimpinan Soviet memberi arti penting kepada apa yang telah dikatakan di Vladivostok. Waktu itu kami berusaha menguraikan politik kami terhadap kawasan yang didiami oleh ratusan juta manusia. Dalam pada itu kami mengharapkan pengertian yang sewajarnya atas politik kami."
Pertanyaan-pertanyaan yang Tuan kemukakan, saya memandang sebagai bukti bahwa dalam masyarakat Indonesia ada perhatian pada politik kami, pada penilaian-penilaian kami akan keadaan di kawasan Asia Pasifik, pada pemikiran-pemikiran kami mengenai masa depan kawasan ini dalam konteks politik dunia.
Catatan-catatan B.M Diah adalah sebagai berikut:
Kami berusaha memandang dunia modern dari posisi yang benar-benar ilmiah dan realistis. Analisa yang dibuat ini membawa kami pada suatu pandangan dunia yang baru, pada politik yang baru, yang kami proklamasikan pada kongres partai kami.
Analisa ini membantu kami melihat realitas-realitas yang menjadi karakteristik untuk dunia masa kini. Dan dunia sekarang ini berbeda serius dengan dunia 30-40 tahun yang lalu.
Pertama-tama, peradaban manusia menjadi terancam karena persediaan-persediaan senjata nuklir yang luar biasa banyak jumlahnya, ini suatu realitas yang tidak dapat diabaikan. Sebaliknya, penilaian yang benar terhadap realitas tersebut membantu kita menarik kesimpulan bahwa hari ini masalah-masalah dunia tidak dapat diselesaikan melalui jalan-jalan militer, karena jalan ini dapat mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak dapat diramalkan. Itu berarti bahwa perlu ada koreksi dalam pandangan-pandangan pada dunia ini serta dalam politik negara-negara.
Masalah-masalah yang terdapat di dunia ini menuntut penyatuan usaha-usaha semua negara. Dan pada umumnya, kalau kita melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik, maka kemajuan semakin membikin kita saling mendekatkan kita serta mendekatkan kita secara lebih erat dari pada kapan pun juga. Kita semakin banyak saling tergantung, kita semakin banyak saling membutuhkan."}
Wawancara B.M.Diah dengan Mikhail Gorbachev dapat dilihat lengkap dalam bukunya: Mahkota bagi Seorang Wartawan. Menurut B.M.Diah, wawancara ini merupakan tugas puncak yang ia peroleh. "Kami betul-betul senang dengan pertemuan ini, Tuan Sekretaris Jenderal. Bagi saya pribadi, ini adalah mahkota dari kegiatan jurnalistik saya selama 50 tahun," ujar B.M.Diah kepada Mikhail Gorbachev .
Oleh karena itu di Hari Pers Nasional 9 Februari 2020, nama Tokoh Pers B.M. Diah tidak bisa dilupakan.
Catatan wartawan Dasman Djamaluddin
https://id.wikipedia.org/wiki/dasman_djamaluddin
Menyambut Hari Pers Nasional, 9 Februari 2020, saya menurunkan tulisan tentang Mikhail Gorbachev. Apa kaitan dengan Hari Pers Nasional 2020 ?
Adalah Burhanudin Mohamad (B.M) Diah yang menyatakan bahwa setelah pertemuannya dengan Mikhail Gorbachev, ia menganggap sebagai "Mahkota Bagi Seorang Wartawan."
Pada 4 Agustus 2019, saya menulis di Kompasiana tentang Mikhail Gorbachev. Ia muncul kembali baru-baru ini, karena mantan kepala badan intelijen Israel Mossad, Tamir Pardo, telah mengklaim bahwa campur tangan Rusia di dunia maya telah membantu mempengaruhi pemilu presiden Amerika Serikat (AS) 2016 yang dimenangkan Donald Trump. Demikian bunyi laporan yang diturunkan media Israel, Haaretz.
Menurut Pardo, Rusia memilih kandidat yang paling menguntungkan secara politis untuknya dan menggunakan "bot" online untuk mengantarkan Trump ke kursi kepresidenan.
Terlepas benar atau tidak laporan tersebut, tetapi sebahagian besar rakyat AS percaya bahwa Rusia telah membantu Trump mengalahkan calon presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Apakah sekarang ini manuver AS yang keluar dari kesepakatan nuklir antara AS - Rusia di masa Presiden Mikhail Gorbachev suatu pertanda bahwa Trump akan kembali dibantu Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2020? Tetapi sebaliknya boleh jadi manuver politik Trump tentang nuklir akan memupus kepercayaan Rusia kepada Trump?
Yang jelas sikap Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri dari kesepakatan senjata nuklir dengan Rusia, membuat mantan Pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev mengeluhkan sikap AS yang menarik diri dari pakta pengendalian senjata nuklir jarak jauh yang ditanda-tangani kedua negara pada Desember 1987. Ketika itu, AS diwakilkan oleh mantan Presiden Ronald Reagan, sedang di pihak Uni Soviet oleh Mikhail Gorbchev.
Sangatlah wajar apabila Gorbachev yang sekarang berusia 88 tahun bersuara dan menilai keputusan Washington tersebut bisa merusak keamanan internasional. Menurut Gorbachev, menarik diri dari pakta yang disepakati pada 1987 sama artinya AS berurusan dengan potensi hancurnya keamanan Eropa dan keseluruhan sistem keamanan internsional.
"Penghentian pakta ini akan sulit membawa keuntungan bagi komunitas internasional. Langkah ini menghancurkan bukan hanya keamanan di Eropa, tetapi juga di seluruh dunia," kata Gorbachev dalam wawancara dengan Interfax, Jumat, 2 Agustus 2019.
Jika melihat foto dari Xinhua di bawah ini terlihat Mikhail Gorbachev, Mantan Presiden Uni Soviet, kanan, dan mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, kiri, saat menanda tangani pakta pengendalian senjata nuklir pada 8 Desember 1987.
Dikutip dari rt.com, Sabtu, 3 Agustus 2019, Gorbachev mengatakan pihaknya saat ini berharap Washington mau membalikkan keadaan dan merevisi keputusannya. AS sebelumnya menuding Rusia telah menciderai pakta pengendalian senjata nuklir jarak jauh dengan mengembangkan sebuah rudal. Meski dibantah Rusia, melihat perkembangan persenjataan mutakhir Rusia yang untuk sementara bisa mengimbangi senjata AS dalam ajang pertempuran di Suriah, benar bahwa persenjataan Rusia kembali diperhitungkan oleh AS.
Hal ini pun dibuktikan, baik di dalam pertempuran di Suriah yang kemudian membantu mempertahankan posisi Presiden Suriah Bashar al-Assad, maupun menyaksikan jenis senjata yang dijual kepada Turki baru-baru ini. Kebangkitan Rusia setelah Uni Soviet pecah di masa Gorbachev dibuktikan Vladimir Putin ketika ia mengambil alih Crimea.
Demikian pula AS. Berbekal senjata mutakhirnya menginvasi Irak. Pada waktu ini kekuatan Rusia belum pulih, sehingga ikut juga menyetujui bekas sekutunya Irak diserang AS. Tetapi ketika AS ingin menginvasi Suriah, langkah AS terganjal oleh Rusia yang kekuatan militernya sudah pulih. Akhirnya terjadilah perimbangan kekuatan di Suriah.
AS di pihak lain juga menjual senjatanya kepada Arab Saudi. Sebenarnya, AS juga ingin menjual senjatanya kepada sesama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yaitu kepada Turki. Tetapi betapa kecewanya AS kepada Turki yang membeli senjata dan pesawat tempur dari Rusia.
Tahun 2020 merupakan permasalahan pelik untuk Trump. Ia bisa saja terpilih kembali menjadi presiden untuk periode berikutnya atau langkahnya akan terhenti meski waktu tulisan ini dibuat sedang memperjuangkan mendapat hadiah Nobel Perdamaian 2018. Tetapi gagal. Bagaimana pun persoalan penghentian membicarakan senjata nuklir dengan Rusia akan berpengaruh terhadap dirinya dalam pemilihan presiden AS tahun 2020.
Sebaliknya Rusia dengan munculnya Mikhail Gorbachev tampil kembali di dunia internasional, apakah berdampak terhadap kepemimpinan Vladimir Putin ? Yang jelas bagi wartawan Indonesia, nama Gorbachev pernah menghiasi halaman suratkabar di Indonesia.
Burhanudin Mohamad Diah, pendiri harian "Merdeka," pernah mewawancarai Pemimpin Tertinggi Uni Soviet, Mikhail Gorbachev di Kremlin pada 21 Juli 1987. Sejak memegang pucuk pimpinan di Uni Soviet lebih dua tahun berselang, Mikhail Gorbachev , Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, banyak menarik perhatian dunia. Itu berkat tindakan-tindakan yang cukup mengejutkan, yang tak jarang jauh di luar ramalan pengemat politik sekalipun.
Inilah dialog B.M.Diah ketika bertemu Gorbachev yang dikutip dari buku beliau: B.M Diah, "Mahkota Bagi Seorang Wartawan" (Jakarta : Pustaka Merdeka).
"Dengan ramah dan senyum persahabatan, ia (Gorbachev) memulai membuka kesempatan bagi B.M.Diah mewawancarainya. Wawancara B.M.Diah ini sekaligus untuk memperingati satu tahun pidato Gorbachev di Vladivostok yang merupakan angin baru pandangan Uni Soviet bagi kawasan Asia-Pasifik.
Mikhail Sergeyev Gorbachev: "Saya senang ketemu dengan Tuan Diah. Saya mendengar banyak mengenai kegiatan Tuan. Tuan sudah beberapa puluh tahun aktif dalam bidang jurnalistik, bukan ? "
B.M.Diah : Saya senang bertemu dengan Tuan Sekretaris Jenderal. Ini suatu kehormatan besar bagi saya. Betul sekali sudah selama 50 tahun saya aktif dalam dunia jurnalistik.
Mikhail Sergeyev Gorbachev : " Itulah pengalaman yang besar. Dan pengalaman bukan sesuatu beban yang tak diperlukan, apalagi kalau dipergunakan secara benar. Misalnya kami sekarang melaksanakan tugas-tugas baru dalam negeri kami. Dan pada tahap perkembangannya ini, kami terus memperkaya diri atas dasar pengalaman serta pelajaran sejarah."
B.M.Diah: Kami sangat memperhatikan pidato-pidato Tuan serta proses-proses yang sedang terjadi di Uni Republik Sosialis Soviet.
Mikhail Sergeyev Gorbachev: " Terimakasih. Apakah kata-kata perestroika dan glasnost sudah sampai ke Indonesia ? Dapatkah kata-kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? "
B.M.Diah: Kata-kata itu dikenal baik di negara kami dan tidak perlu diterjemahkan.
Mikhail Sergeyev Gorbachev :" Sambil menyerahkan kepada Tuan jawaban-jawaban tertulis atas pertanyaan -- pertanyaan, saya ingin mendahuluinya dengan catatan-catatan yang tidak besar, tetapi, menurut pendapat saya, esensial. Saya berterimakasih kepada Tuan, dan Redaksi surat kabar Tuan, atas diperhatikannya Hari Ulang Tahun pidato saya di Vladivostok. Pimpinan Soviet memberi arti penting kepada apa yang telah dikatakan di Vladivostok. Waktu itu kami berusaha menguraikan politik kami terhadap kawasan yang didiami oleh ratusan juta manusia. Dalam pada itu kami mengharapkan pengertian yang sewajarnya atas politik kami."
Pertanyaan-pertanyaan yang Tuan kemukakan, saya memandang sebagai bukti bahwa dalam masyarakat Indonesia ada perhatian pada politik kami, pada penilaian-penilaian kami akan keadaan di kawasan Asia Pasifik, pada pemikiran-pemikiran kami mengenai masa depan kawasan ini dalam konteks politik dunia.
Catatan-catatan B.M Diah adalah sebagai berikut:
Kami berusaha memandang dunia modern dari posisi yang benar-benar ilmiah dan realistis. Analisa yang dibuat ini membawa kami pada suatu pandangan dunia yang baru, pada politik yang baru, yang kami proklamasikan pada kongres partai kami.
Analisa ini membantu kami melihat realitas-realitas yang menjadi karakteristik untuk dunia masa kini. Dan dunia sekarang ini berbeda serius dengan dunia 30-40 tahun yang lalu.
Pertama-tama, peradaban manusia menjadi terancam karena persediaan-persediaan senjata nuklir yang luar biasa banyak jumlahnya, ini suatu realitas yang tidak dapat diabaikan. Sebaliknya, penilaian yang benar terhadap realitas tersebut membantu kita menarik kesimpulan bahwa hari ini masalah-masalah dunia tidak dapat diselesaikan melalui jalan-jalan militer, karena jalan ini dapat mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak dapat diramalkan. Itu berarti bahwa perlu ada koreksi dalam pandangan-pandangan pada dunia ini serta dalam politik negara-negara.
Masalah-masalah yang terdapat di dunia ini menuntut penyatuan usaha-usaha semua negara. Dan pada umumnya, kalau kita melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik, maka kemajuan semakin membikin kita saling mendekatkan kita serta mendekatkan kita secara lebih erat dari pada kapan pun juga. Kita semakin banyak saling tergantung, kita semakin banyak saling membutuhkan."}
Wawancara B.M.Diah dengan Mikhail Gorbachev dapat dilihat lengkap dalam bukunya: Mahkota bagi Seorang Wartawan. Menurut B.M.Diah, wawancara ini merupakan tugas puncak yang ia peroleh. "Kami betul-betul senang dengan pertemuan ini, Tuan Sekretaris Jenderal. Bagi saya pribadi, ini adalah mahkota dari kegiatan jurnalistik saya selama 50 tahun," ujar B.M.Diah kepada Mikhail Gorbachev .
Oleh karena itu di Hari Pers Nasional 9 Februari 2020, nama Tokoh Pers B.M. Diah tidak bisa dilupakan.
Kamis, 16 Januari 2020
Senin, 13 Januari 2020
Apakah Irak Menjadi Awal Pertempuran AS-Iran ?
*Apakah Irak Menjadi Awal Pertempuran AS-Iran ?*
_Oleh Dasman Djamaluddin_
Pada 9 Februari 2019, saya menulis di Kompasiana tentang negara Iran. Di awal tulisan, saya mengutip tentang motto Revolusi Iran. "Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala."
Inilah salah satu motto dari Revolusi Islam Iran, yang selalu diperingati setiap tanggal 11 Februari. Tahun 2020 ini Revolusi Islam Iran akan memasuki tahun ke-41, sejak lahirnya pada 11 Februari 1979. Sudah pasti seluruh dunia kagum dengan keberanian kakek tua yang sudah berusia 80 tahun waktu itu, yang kembali ke Iran dari tempat pengasingannya di Prancis. Ia adalah Imam Khomeini.
Waktu itu semua kelompok bersatu dan bekerja sama untuk menggulingkan pemerintahan Shah Reza Pahlevi, sekaligus mengakhiri pemerintahan monarkhi yang berdiri sejak tahun 1906.
Para pendukung Imam Khomeini, termasuk pasukan Garda Nasional yang membelot, di bawah pimpinan Dr. Mushaddiq. Juga Gerakan Perlawanan Rakyat yang didirikan oleh 'Imam' Az Zinjani dan Ir. Bazarkan setelah keduanya memisahkan diri dari Garda Nasional. Kedua kelompok ini memiliki penetrasi yang besar ke lingkungan kampus dan Bazar (pusat-pusat perdagangan).
Ada juga aksi perlawanan kepada Shah Iran, bernama Mujahidin Kholq, yaitu partai politik yang didirikan oleh Musa Khayabani, Mas'ud Rajawi, dan lain-lain. Mereka mulai merongrong pemerintahan Shah dengan berbagai perlawanan bersenjata. Pemimpin spiritual mereka adalah Ayatullah Ath Thaliqani, dan partai ini didukung oleh para pelajar dan mahasiswa.
Shah konon menjuluki mereka sebagai 'muslimin Marxis' dan mereka berperan sangat besar dalam menjatuhkan Shah. Lebih menariknya lagi penggulingan Shah ini dibantu oleh golongan-golongan 'kiri', termasuk di antaranya Partai Komunis Tawdah. Ini yang kemudian memungkinkan Iran sekarang lebih condong dibantu oleh Rusia.
Imam Khomeini sebelumnya berada di neauphle-le-chateau (daerah dekat Paris, Prancis) dan mendapat kawalan dari Polisi Prancis. Berbagai radio internasional serta surat kabar besar rajin memberitakan pernyataan-pernyataannya yang anti-Shah, sedangkan pengikutnya di Iran menyebarkan kaset-kaset yang berisi khutbah patriotisme Khomeini bagi rakyat Iran.
Prancis telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi Khomeini dan memberinya kebebasan untuk bergerak semaunya. Sedangkan Rusia tentu berseberangan dengan Shah melalui partai komunis Tawdah yang bersahabat dengan Khomeini.
Begitu Khomeini sampai di Teheran, ia mengumumkan bahwa pemerintahan PM Bakhtiar tidak sesuai syariat Islam dan menunjuk Ir. Bazarkan sebagai PM yang baru. Iran pun mulai memasuki babak baru yang penuh kekacauan dan instabilitas. Krisis ini harus dihentikan dengan memenangkan salah satu dari berbagai golongan yang berseteru. Hari-hari pun berlalu cepat, hingga pada tanggal 14 Februari 1979 pemerintahan Bakhtiar mengumumkan darurat militer dan melarang mobilitas.
Akan tetapi Khomeini menyatakan pembangkangan umum hingga berjuta orang tumpah ruah di jalan-jalan menuju kamp-kamp militer, pangkalan AU, markas SAFAK (intelijen Iran), dan pasukan-pasukan gerak cepat yang berada di bawah komando kepala tentara nasional Shah.
Sempat terjadi konfrontasi kecil, akan tetapi rakyat segera menguasai fasilitas-fasilitas militer tersebut beserta seluruh persenjataan dan amunisi yang ada di dalamnya. Mereka sempat membunuh sejumlah petinggi militer dan menawan yang lainnya saat hendak mempertahankan fasilitas militer mereka.
Jenderal Korbaghi yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi angkata bersenjata pun datang kepada Khomeini dan menyerah atas semua yang telah terjadi. Ia menyatakan takluknya militer kepada Khomeini setelah selama ini menghadapi perlawanan di jalan-jalan Teheran dan di seluruh kota Iran lainnya. Militer pun kembali ke pangkalan mereka atas perintah komandan tertinggi mereka. Khomeini lantas mengumumkan lahirnya 'Republik Islam Iran', dan dengan begitu berakhirlah orde Shah dan mulailah orde Syi'ah.
Di hari-hari pertama pasca berhasilnya revolusi, Khomeini belum menunjukkan ambisi terpendamnya untuk menguasai negara beserta rakyatnya. Ia justeru mengangkat Ir. Bazarkan sebagai PM dan memberinya kebebasan untuk memilih menteri-menterinya kecuali tiga orang, yaitu Ibrahim Yazdi (warga negara AS), Jumran, dan Shadiq Thabathaba-i.
Khomeini lantas kembali ke Qumm untuk bersua dengan massa selaku pemimpin revolusi. Ia menyampaikan khutbah-khutbah hariannya setiap ada massa yang berkumpul. Akan tetapi di saat yang sama, kelompoknya menguasai empat badan terpenting, yaitu: Tentara Revolusi, Lajnah Revolusi, Mahkamah Revolusi, dan Stasiun Radio serta Televisi.
Ada pendapat yang sulit disatukan antara Islam Syiah di Iran dengan Sunni di Arab Saudi, yaitu "Kalau di Mekkah telah diizinkan untuk membangun Huseiniyyah, maka barulah di Teheran boleh didirikan mesjid Ahlussunnah. " Berarti hingga hari ini, masjid Islam Sunni sulit berdiri di Teheran. Hal ini sudah tentu berbeda dengan di Irak yang bertetangga dengan Iran. Meski penduduk Irak mayoritas Islam Syiah, tetapi di masa pemerintahan Presiden Saddam Hussein yang Sunni, sudah banyak berdiri masjid Muslim Sunni.
Ketika saya berkunjung untuk kedua kalinya ke Irak, September 2014 (saya pertama kali ke Irak, Desember 1992), saya yang disertai staf Kedutaan Besar RI di Baghdad, pada hari Sabtu, 20 September 2014, berkunjung ke masjid al-Kufa di Kufa, Irak. Itu adalah masjid Ali r.a, yang sebagaimana foto di atas, sebuah masjid yang dibangun Abad VII, di masa Ali r.a. Kufa itu merupakan sebuah kota yang terletak 170 km di selatan kota Baghdad.
Besoknya, kami mengunjungi Padang Karbala. Inilah yang dimaksud kalimat pembukaan di atas, "Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala." Padang Karbala dulunya adalah suatu wilayah yang luas. Sekarang sudah berdiri berbagai bangunan. Di tempat yang saya tuju inilah, Hussein, putranya Ali r.a tewas setelah kalah melawan musuh dalam pertempuran tidak seimbang. Leher cucu Nabi Muhammad SAW itu ditebas dan kepala Hussein ditendang kaki kuda musuh ke sana ke mari.
Jadi sekarang setelah Presiden Irak (Sunni) jatuh dan digantung, Irak kembali dikuasai masyarakat Muslim Syiah.
Memang tidak salah bahwa pemerintahan di Irak terbagi ke pada tiga kelompok setelah lahirnya Negara Islam di Negara 1001 Malam itu. Presidennya yang tidak memiliki kekuasaan besar diserahkan kepada kelompok Kurdi. Sedang yang menjalankan penerintahan ada di tangan perdana menteri, di mana dipegang dan dijalankan oleh Islam Syiah. Berikutnya Islam Sunni yang pernah memegang kekuasaan di masa Presiden Irak Saddam Hussein lebih banyak diberi peranan di Parlemen Irak.
Semua itu sepertinya akan berubah setelah pasukan AS yang berada di Suriah, sebagian besar tidak dipulangkan ke AS, tetapi dipindahkan dari Suriah ke Irak.
Akhirnya Iran merasa terganggu dengan hadirnya pasukan AS di Irak yang di masa Presiden AS Barack Obama telah ditarik dari Irak. Kemarahan Iran semakin menjadi-jadi karena orang kepercayaannya di militer tewas sewaktu mengunjungi Irak.
_Oleh Dasman Djamaluddin_
Pada 9 Februari 2019, saya menulis di Kompasiana tentang negara Iran. Di awal tulisan, saya mengutip tentang motto Revolusi Iran. "Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala."
Inilah salah satu motto dari Revolusi Islam Iran, yang selalu diperingati setiap tanggal 11 Februari. Tahun 2020 ini Revolusi Islam Iran akan memasuki tahun ke-41, sejak lahirnya pada 11 Februari 1979. Sudah pasti seluruh dunia kagum dengan keberanian kakek tua yang sudah berusia 80 tahun waktu itu, yang kembali ke Iran dari tempat pengasingannya di Prancis. Ia adalah Imam Khomeini.
Waktu itu semua kelompok bersatu dan bekerja sama untuk menggulingkan pemerintahan Shah Reza Pahlevi, sekaligus mengakhiri pemerintahan monarkhi yang berdiri sejak tahun 1906.
Para pendukung Imam Khomeini, termasuk pasukan Garda Nasional yang membelot, di bawah pimpinan Dr. Mushaddiq. Juga Gerakan Perlawanan Rakyat yang didirikan oleh 'Imam' Az Zinjani dan Ir. Bazarkan setelah keduanya memisahkan diri dari Garda Nasional. Kedua kelompok ini memiliki penetrasi yang besar ke lingkungan kampus dan Bazar (pusat-pusat perdagangan).
Ada juga aksi perlawanan kepada Shah Iran, bernama Mujahidin Kholq, yaitu partai politik yang didirikan oleh Musa Khayabani, Mas'ud Rajawi, dan lain-lain. Mereka mulai merongrong pemerintahan Shah dengan berbagai perlawanan bersenjata. Pemimpin spiritual mereka adalah Ayatullah Ath Thaliqani, dan partai ini didukung oleh para pelajar dan mahasiswa.
Shah konon menjuluki mereka sebagai 'muslimin Marxis' dan mereka berperan sangat besar dalam menjatuhkan Shah. Lebih menariknya lagi penggulingan Shah ini dibantu oleh golongan-golongan 'kiri', termasuk di antaranya Partai Komunis Tawdah. Ini yang kemudian memungkinkan Iran sekarang lebih condong dibantu oleh Rusia.
Imam Khomeini sebelumnya berada di neauphle-le-chateau (daerah dekat Paris, Prancis) dan mendapat kawalan dari Polisi Prancis. Berbagai radio internasional serta surat kabar besar rajin memberitakan pernyataan-pernyataannya yang anti-Shah, sedangkan pengikutnya di Iran menyebarkan kaset-kaset yang berisi khutbah patriotisme Khomeini bagi rakyat Iran.
Prancis telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi Khomeini dan memberinya kebebasan untuk bergerak semaunya. Sedangkan Rusia tentu berseberangan dengan Shah melalui partai komunis Tawdah yang bersahabat dengan Khomeini.
Begitu Khomeini sampai di Teheran, ia mengumumkan bahwa pemerintahan PM Bakhtiar tidak sesuai syariat Islam dan menunjuk Ir. Bazarkan sebagai PM yang baru. Iran pun mulai memasuki babak baru yang penuh kekacauan dan instabilitas. Krisis ini harus dihentikan dengan memenangkan salah satu dari berbagai golongan yang berseteru. Hari-hari pun berlalu cepat, hingga pada tanggal 14 Februari 1979 pemerintahan Bakhtiar mengumumkan darurat militer dan melarang mobilitas.
Akan tetapi Khomeini menyatakan pembangkangan umum hingga berjuta orang tumpah ruah di jalan-jalan menuju kamp-kamp militer, pangkalan AU, markas SAFAK (intelijen Iran), dan pasukan-pasukan gerak cepat yang berada di bawah komando kepala tentara nasional Shah.
Sempat terjadi konfrontasi kecil, akan tetapi rakyat segera menguasai fasilitas-fasilitas militer tersebut beserta seluruh persenjataan dan amunisi yang ada di dalamnya. Mereka sempat membunuh sejumlah petinggi militer dan menawan yang lainnya saat hendak mempertahankan fasilitas militer mereka.
Jenderal Korbaghi yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi angkata bersenjata pun datang kepada Khomeini dan menyerah atas semua yang telah terjadi. Ia menyatakan takluknya militer kepada Khomeini setelah selama ini menghadapi perlawanan di jalan-jalan Teheran dan di seluruh kota Iran lainnya. Militer pun kembali ke pangkalan mereka atas perintah komandan tertinggi mereka. Khomeini lantas mengumumkan lahirnya 'Republik Islam Iran', dan dengan begitu berakhirlah orde Shah dan mulailah orde Syi'ah.
Di hari-hari pertama pasca berhasilnya revolusi, Khomeini belum menunjukkan ambisi terpendamnya untuk menguasai negara beserta rakyatnya. Ia justeru mengangkat Ir. Bazarkan sebagai PM dan memberinya kebebasan untuk memilih menteri-menterinya kecuali tiga orang, yaitu Ibrahim Yazdi (warga negara AS), Jumran, dan Shadiq Thabathaba-i.
Khomeini lantas kembali ke Qumm untuk bersua dengan massa selaku pemimpin revolusi. Ia menyampaikan khutbah-khutbah hariannya setiap ada massa yang berkumpul. Akan tetapi di saat yang sama, kelompoknya menguasai empat badan terpenting, yaitu: Tentara Revolusi, Lajnah Revolusi, Mahkamah Revolusi, dan Stasiun Radio serta Televisi.
Ada pendapat yang sulit disatukan antara Islam Syiah di Iran dengan Sunni di Arab Saudi, yaitu "Kalau di Mekkah telah diizinkan untuk membangun Huseiniyyah, maka barulah di Teheran boleh didirikan mesjid Ahlussunnah. " Berarti hingga hari ini, masjid Islam Sunni sulit berdiri di Teheran. Hal ini sudah tentu berbeda dengan di Irak yang bertetangga dengan Iran. Meski penduduk Irak mayoritas Islam Syiah, tetapi di masa pemerintahan Presiden Saddam Hussein yang Sunni, sudah banyak berdiri masjid Muslim Sunni.
Ketika saya berkunjung untuk kedua kalinya ke Irak, September 2014 (saya pertama kali ke Irak, Desember 1992), saya yang disertai staf Kedutaan Besar RI di Baghdad, pada hari Sabtu, 20 September 2014, berkunjung ke masjid al-Kufa di Kufa, Irak. Itu adalah masjid Ali r.a, yang sebagaimana foto di atas, sebuah masjid yang dibangun Abad VII, di masa Ali r.a. Kufa itu merupakan sebuah kota yang terletak 170 km di selatan kota Baghdad.
Besoknya, kami mengunjungi Padang Karbala. Inilah yang dimaksud kalimat pembukaan di atas, "Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala." Padang Karbala dulunya adalah suatu wilayah yang luas. Sekarang sudah berdiri berbagai bangunan. Di tempat yang saya tuju inilah, Hussein, putranya Ali r.a tewas setelah kalah melawan musuh dalam pertempuran tidak seimbang. Leher cucu Nabi Muhammad SAW itu ditebas dan kepala Hussein ditendang kaki kuda musuh ke sana ke mari.
Jadi sekarang setelah Presiden Irak (Sunni) jatuh dan digantung, Irak kembali dikuasai masyarakat Muslim Syiah.
Memang tidak salah bahwa pemerintahan di Irak terbagi ke pada tiga kelompok setelah lahirnya Negara Islam di Negara 1001 Malam itu. Presidennya yang tidak memiliki kekuasaan besar diserahkan kepada kelompok Kurdi. Sedang yang menjalankan penerintahan ada di tangan perdana menteri, di mana dipegang dan dijalankan oleh Islam Syiah. Berikutnya Islam Sunni yang pernah memegang kekuasaan di masa Presiden Irak Saddam Hussein lebih banyak diberi peranan di Parlemen Irak.
Semua itu sepertinya akan berubah setelah pasukan AS yang berada di Suriah, sebagian besar tidak dipulangkan ke AS, tetapi dipindahkan dari Suriah ke Irak.
Akhirnya Iran merasa terganggu dengan hadirnya pasukan AS di Irak yang di masa Presiden AS Barack Obama telah ditarik dari Irak. Kemarahan Iran semakin menjadi-jadi karena orang kepercayaannya di militer tewas sewaktu mengunjungi Irak.
Jumat, 03 Januari 2020
Untukmu Thaha Al-Hamid di Usia Saya Jelang 65 Tahun
Untukmu Thaha Al-Hamid, di Usia saya jelang 65 Tahun
Catatan Awal Tahun 2020, Dasman Djamaluddin
https://id.wikipedia.org/wiki/dasman_djamaluddin
Thaha, 40 tahun kita tidak bertemu, ternyata pertemuan kita untuk pertama kali di Jakarta, tepat mengawali tahun baru, 1 Januari 2020, Anda tetap Thaha seperti yang dahulu.
Kenapa saya mengatakan demikian? Karena secara psikhologis, Anda tidak berubah terhadap saya, yaitu ketika kita sama-sama berjuang di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura. Banyak di antara kita berubah, terseret arus zaman. Terlena, terpengaruh, sehingga ada di antara kita mengikuti arus zaman yang pengaruhnya berdampak terhadap diri kita sendiri, lupa bahwa manusia itu pada hakekatnya tidak memiliki apa-apa, jika Sang Pencipta tidak ikut berperan aktif di sampingnya.
Saya hanya ingin menggarisbawahi, bahwa Setan-lah yang mempengaruhi mereka, sehingga sombong dan ingin mengatakan dirinya lah yang terbaik, terkenal. Sebenarnya ia sudah terjebak di alam dunia. Terpengaruh kekuasaan, kebanggaan, sehingga itu semua sifat dari sifat Setan, makhluk yang dimurkai Allah SWT.
Thaha, saya sengaja menampilkan wikipedia saya, hanya untuk mengatakan bahwa wikipedia Thaha Al-Hamid lebih dari wikipedia saya.
Thaha, memang dulu Anda, sekretaris saya di Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) HMI Cabang Jayapura. Sekarang, Anda sudah menjadi tokoh Papua. Yang saya hormati ketika bertemu lagi di Jakarta setelah 40 tahun, Anda adalah Thaha yang dulu. Rendah hati, akrab, juga seperti dahulu.
Pertemuan kita di Jakarta dan menyarankan Anda menulis buku bukan apa-apa. Saya hanya teringat kata Pramoedya Ananta Toer. Ia berkata:
" Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Iya Thaha, bangsa ini ingin mengetahui pengalaman Anda bersama Theys. Harapan Indonesia agar lebih baik lagi. Di samping untuk orang-orang semasa kita agar tetap jujur dalam melaksanakan amanah, tidak korupsi, tidak tergila-gila dengan harta sehingga korupsi, juga bermanfaat buat anak cucu kita. Generasi muda mendatang.
Cisalak, Cimanggis, Tapos, Depok, 3 Januari 2020
Catatan Awal Tahun 2020, Dasman Djamaluddin
https://id.wikipedia.org/wiki/dasman_djamaluddin
Thaha, 40 tahun kita tidak bertemu, ternyata pertemuan kita untuk pertama kali di Jakarta, tepat mengawali tahun baru, 1 Januari 2020, Anda tetap Thaha seperti yang dahulu.
Kenapa saya mengatakan demikian? Karena secara psikhologis, Anda tidak berubah terhadap saya, yaitu ketika kita sama-sama berjuang di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura. Banyak di antara kita berubah, terseret arus zaman. Terlena, terpengaruh, sehingga ada di antara kita mengikuti arus zaman yang pengaruhnya berdampak terhadap diri kita sendiri, lupa bahwa manusia itu pada hakekatnya tidak memiliki apa-apa, jika Sang Pencipta tidak ikut berperan aktif di sampingnya.
Saya hanya ingin menggarisbawahi, bahwa Setan-lah yang mempengaruhi mereka, sehingga sombong dan ingin mengatakan dirinya lah yang terbaik, terkenal. Sebenarnya ia sudah terjebak di alam dunia. Terpengaruh kekuasaan, kebanggaan, sehingga itu semua sifat dari sifat Setan, makhluk yang dimurkai Allah SWT.
Thaha, saya sengaja menampilkan wikipedia saya, hanya untuk mengatakan bahwa wikipedia Thaha Al-Hamid lebih dari wikipedia saya.
Thaha, memang dulu Anda, sekretaris saya di Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) HMI Cabang Jayapura. Sekarang, Anda sudah menjadi tokoh Papua. Yang saya hormati ketika bertemu lagi di Jakarta setelah 40 tahun, Anda adalah Thaha yang dulu. Rendah hati, akrab, juga seperti dahulu.
Pertemuan kita di Jakarta dan menyarankan Anda menulis buku bukan apa-apa. Saya hanya teringat kata Pramoedya Ananta Toer. Ia berkata:
" Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Iya Thaha, bangsa ini ingin mengetahui pengalaman Anda bersama Theys. Harapan Indonesia agar lebih baik lagi. Di samping untuk orang-orang semasa kita agar tetap jujur dalam melaksanakan amanah, tidak korupsi, tidak tergila-gila dengan harta sehingga korupsi, juga bermanfaat buat anak cucu kita. Generasi muda mendatang.
Cisalak, Cimanggis, Tapos, Depok, 3 Januari 2020
Selasa, 31 Desember 2019
Jelang Tahun 2020, AS Serang Irak
Jelang Tahun Baru 2020, AS Serang Irak dan Iran Anggap Itu Bentuk Dukungan kepada ISIS
Oleh Dasman Djamaluddin
Pemerintah Irak mengancam akan meninjau hubungannya dengan Amerika Serikat setelah Washington melancarkan serangan udara mematikan terhadap kelompok bersenjata pro-Iran yang terintegrasi dalam pasukan Irak.
"Pasukan Amerika bertindak berdasarkan prioritas politik mereka, bukan prioritas rakyat Irak," ungkap pernyataan resmi pemerintah Irak yang dikutip dari Kantor Berita Prancis, AFP, Senin, 30 Desember 2019.
Perlindungan Irak, pangkalan militer dan pasukannya di negara itu adalah satu-satunya tanggung jawab pasukan keamanan Irak. Juga dijelaskan bahwa pemogokan semacam di Irak yang juga sedang berlangsung dianggap Irak melanggar kedaulatan Irak dan bertentangan dengan aturan keterlibatan koalisi (yang dipimpin AS) yang hadir di Irak untuk memerangi jihadis.
Serangan yang dilakukan AS memaksa Irak untuk meninjau kembali hubungannya dan keamanannya, kerangka kerja politik dan hukum untuk melindungi kedaulatannya.
Serangan hari Minggu malam itu menunjukkan pesawat AS menghantam beberapa pangkalan milik brigade Hizbullah, salah satu faksi paling radikal dari Hashsh al-Shaabi, pasukan keamanan yang didukung Iran yang terikat dengan negara Irak.
Serangan, yang menewaskan sedikitnya 25 pejuang menurut Hash, terjadi pada saat Irak terjebak dalam ketegangan yang meningkat antara sekutunya Teheran dan Washington.
Pada waktu bersamaan Iran, tetangga Irak yang sekarang telah menjalin hubungan baik, mengecam serangan AS itu dan menuduh Negara Paman Sam tersebut tengah melindungi gerilyawan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).
Dalam hal ini, benar ucapan Iran tersebut. Tulisan saya yang diterbitkan Kompasiana, 12 April 2017 dan diperbarui, 7 Maret 2019, menekankan bahwa benar bahwa ISIS itu ciptaan
AS dan Israel.
Saya menekankan dan mengutip "Veteran Today," bahwa pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi, adalah orang Yahudi. Disebutkan nama aslinya Emir Daash alias Simon Elliot alias Elliot Shimon.Lahir dari orang tua Yahudi dan direkrut serta dilatih Mossad, agen rahasia Israel.
Buat saya, yang sering mengamati perkembangan di luar negeri dan setelah berkunjung ke Irak dua kali, tahun 1992 dan 2014, paham betul dengan situasi ini. Sebenarnya apa yang dikatakan Donald Trump dalam kampanye calon Presiden AS, empat tahun lalu, bahwa Obama yang membentuk ISIS, itu adalah benar. Saya tidak tahu mengapa rahasia intelijen AS ini dipaparkan ke muka publik. Kalau pun, Trump membantahnya setelah menjadi presiden, kemudian info ini sudah terlanjur diumumkan.
Kemudian, info ini dikuatkan dengan ditemukannya kertas selebaran di medan pertempuran di Irak. Isinya jika pesawat tempur AS terlihat di udara, jangan ditembak. Berarti dengan data tersebut kita mengetahui bahwa ISIS itu diciptakan oleh AS dan Israel.
Jika kita bicara AS dan Israel tidak ada bedanya. Dua negara itu adalah sekutu. Masih ingat harian "Kompas," menurunkan berita khusus tentang pilot AURI dilatih di Israel. Kemudian dibuat skenario, seakan-akan dilatih di AS ? Sebelum pilot kita pulang dari Israel, mereka dibawa dulu ke AS. Mereka membeli oleh-oleh di AS. Dipesankan kepada mereka, jika ditanya latihannya, bukan di Israel, tetapi di AS.
Oleh Dasman Djamaluddin
Pemerintah Irak mengancam akan meninjau hubungannya dengan Amerika Serikat setelah Washington melancarkan serangan udara mematikan terhadap kelompok bersenjata pro-Iran yang terintegrasi dalam pasukan Irak.
"Pasukan Amerika bertindak berdasarkan prioritas politik mereka, bukan prioritas rakyat Irak," ungkap pernyataan resmi pemerintah Irak yang dikutip dari Kantor Berita Prancis, AFP, Senin, 30 Desember 2019.
Perlindungan Irak, pangkalan militer dan pasukannya di negara itu adalah satu-satunya tanggung jawab pasukan keamanan Irak. Juga dijelaskan bahwa pemogokan semacam di Irak yang juga sedang berlangsung dianggap Irak melanggar kedaulatan Irak dan bertentangan dengan aturan keterlibatan koalisi (yang dipimpin AS) yang hadir di Irak untuk memerangi jihadis.
Serangan yang dilakukan AS memaksa Irak untuk meninjau kembali hubungannya dan keamanannya, kerangka kerja politik dan hukum untuk melindungi kedaulatannya.
Serangan hari Minggu malam itu menunjukkan pesawat AS menghantam beberapa pangkalan milik brigade Hizbullah, salah satu faksi paling radikal dari Hashsh al-Shaabi, pasukan keamanan yang didukung Iran yang terikat dengan negara Irak.
Serangan, yang menewaskan sedikitnya 25 pejuang menurut Hash, terjadi pada saat Irak terjebak dalam ketegangan yang meningkat antara sekutunya Teheran dan Washington.
Pada waktu bersamaan Iran, tetangga Irak yang sekarang telah menjalin hubungan baik, mengecam serangan AS itu dan menuduh Negara Paman Sam tersebut tengah melindungi gerilyawan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).
Dalam hal ini, benar ucapan Iran tersebut. Tulisan saya yang diterbitkan Kompasiana, 12 April 2017 dan diperbarui, 7 Maret 2019, menekankan bahwa benar bahwa ISIS itu ciptaan
AS dan Israel.
Saya menekankan dan mengutip "Veteran Today," bahwa pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi, adalah orang Yahudi. Disebutkan nama aslinya Emir Daash alias Simon Elliot alias Elliot Shimon.Lahir dari orang tua Yahudi dan direkrut serta dilatih Mossad, agen rahasia Israel.
Buat saya, yang sering mengamati perkembangan di luar negeri dan setelah berkunjung ke Irak dua kali, tahun 1992 dan 2014, paham betul dengan situasi ini. Sebenarnya apa yang dikatakan Donald Trump dalam kampanye calon Presiden AS, empat tahun lalu, bahwa Obama yang membentuk ISIS, itu adalah benar. Saya tidak tahu mengapa rahasia intelijen AS ini dipaparkan ke muka publik. Kalau pun, Trump membantahnya setelah menjadi presiden, kemudian info ini sudah terlanjur diumumkan.
Kemudian, info ini dikuatkan dengan ditemukannya kertas selebaran di medan pertempuran di Irak. Isinya jika pesawat tempur AS terlihat di udara, jangan ditembak. Berarti dengan data tersebut kita mengetahui bahwa ISIS itu diciptakan oleh AS dan Israel.
Jika kita bicara AS dan Israel tidak ada bedanya. Dua negara itu adalah sekutu. Masih ingat harian "Kompas," menurunkan berita khusus tentang pilot AURI dilatih di Israel. Kemudian dibuat skenario, seakan-akan dilatih di AS ? Sebelum pilot kita pulang dari Israel, mereka dibawa dulu ke AS. Mereka membeli oleh-oleh di AS. Dipesankan kepada mereka, jika ditanya latihannya, bukan di Israel, tetapi di AS.
Jumat, 27 Desember 2019
Ingat Gus Dur, Ingat Papua
Ingat Gus Dur, Ingat Papua
Oleh Dasman Djamaluddin
Hari ini, Sabtu, 28 Desember 2019, di kediaman Presiden Republik Indonesia ke-4, Dr (H.C) K.H. Abdurrahman Wahid, atau lebih dikenal sapaan dengan Gus Dur, di Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan, akan berlangsung Haul ke-10.
Pagi ini pula, saya ingin mengingat tulisan saya yang pernah dimuat berbagai media tentang kunjungan Gus Dur di Papua. Adalah Thaha Al-Hamid, Sekretaris Jenderal Presidium Dewan Papua (PDP) itu tidak
dapat menahan haru ketika berbicara mengenai sosok KH Abdurrahman Wahid atau
Gus Dur. Dengan terbata-bata dan mata memerah, dia mengambil tisu di atas
meja dan menyeka air matanya. Thaha menganggap, Gus Dur sangat paham akan
jati diri orang asli Papua.
Saya juga sangat mengenal Thaha Al-Hamid. Selama bergaul dengan Thaha, ketika dia menjadi sekretaris saya di Lembaga
Hukum Mahasiswa Islam (LHMI/HMI) Cabang Jayapura, 1978-1979 dan 1979-1980,
saya menilai Thaha adalah orang yang berprinsip, berani dan tegar. Orangnya
sederhana, dan rendah hati. Oleh karena itu, ketika saya melihat Thaha
menitikkan air mata yang diliput oleh salah satu stasiun televisi nasional,
saya pun tersentak untuk menulis.
Thaha yang tegar itu larut dalam suasana ketika menceriterakan kunjungan Gus
Dur sebagai seorang Presiden RI ketika dia dan kawan-kawan di tahan. Pada
kunjungannya di tahun 2000, Gus Dur sempat mengunjungi para anggota Presidium Dewan Papua (PDP) di
tahanan yang saat itu ditahan atas tuduhan makar. Beliau minta ke Kepala
Kepolisian Daerah Papua yang waktu itu dijabat Pak Wenas.
Lalu Gus Dur katakan, " saya harus ketemu ke lima orang PDP, Theys dan
kawan-kawan."
Hubungan Gus Dur dengan Theys luar biasa sekali. Terus pada
kunjungannya di tahun 2006, Gus Dur juga sempat minta pemerintah Indonesia
agar almarhum Ketua PDP, Theys Hiyo Eluay dinobatkan sebagai pahlawan
nasional, ujar Thaha.
Theys, nama lengkapnya adalah Theys Hiyo Eluay. Dia tewas saat berusia 64
tahun, tepat pada Hari Pahlawan 10 November 2001, setelah menghadiri upacara
Hari Pahlawan yang diselenggarakan Pemerintah Daerah (Pemda) Irian Jaya di
Jayapura. Sepulangnya menghadiri Hari Pahlawan itu menuju rumahnya di Jalan
bestirpos 5, Sentani Kota, yang berjarak sekitar 55 km, Theys tidak pernah
lagi pulang ke rumah. Setelah dicari-cari, akhirnya jenazah Theys ditemukan
tertelungkup di jok mobil miliknya, jenis Toyota Kijang bernomor polisi B
8997 TO dengan wajah babak belur dan luka dipelipis, dahi dan leher. Posisi
mobil nyaris masuk jurang. Mobil yang kaca depannya hancur itu, masih
tertahan pada sebatang pohon. Dari kondisi jenazah, muncul dugaan, Theys
dibunuh setelah diculik.
Sebagaimana sosok Thaha Al-Hamid yang taat beragama Islam, Theys sebenarnya
bukanlah tokoh oposisi. Theys adalah mantan anggota Penentuan Pendapat
Rakyat (Pepera) tahun 1969. Dia sangat berjasa dalam mempertahankan masuknya
Irian Jaya ke wilayah Indonesia. Bahkan pernah juga menjadi anggota DPRD
Irian Jaya dari Golkar selama tiga periode. Tetapi entah apa yang
melatarbelakanginya , akhirnya Theys menyebut dirinya Pemimpin Besar Dewan
Papua Merdeka sekaligus menjadi Ketua Presidium Dewan Papua.
Kembali ke sosok Gus Dur, Thaha menganggap bukan hanya dirinya merasa cukup
dekat dengan Gus Dur, juga hampir seluruh orang Papua merasa dekat dengan
Gus Dur. Misalnya, Gus Dur juga sangat dekat dengan Ketua Dewan Adat Papua
dan tokoh-tokoh adat lainnya di Papua, termasuk Tom Beanal.
“Bahkan beberapa kali jika kami sudah jarang mengunjunginya, Gus Dur akan
tanya dan pasti kami datang mengunjungi beliau. Jadi silaturahmi kami dengan
beliau tetap jalan, walau sudah tak menjabat presiden,” ungkapnya.
Makna sosok Gus Dur, kata Thaha, terlalu luar biasa bagi Papua dan orang
Papua. “Kita tak hanya kehilangan seorang kiai, seorang bekas presiden, dan
seorang guru, tapi sebenarnya kita kehilangan kitab hidup. Sebuah kitab yang
terus memberikan nasihat,” tutur Thaha mengenang sosok Gus Dur.
_Beberapa Alasan_
Menurut Thaha, ada beberapa alasan masyarakat di Papua tak pernah melupakan
sosok Gus Dur. Misalnya, pada 31 Desember 1999, tanpa perlu berpikir
panjang, Gus Dur yang saat itu sebagai Presiden Indonesia, mengganti nama
Irian Jaya menjadi Papua.
Tentang nama ini, seperti diketahui, pada tahun 1961, Komite Nasional Papua
yang pertama menetapkan nama PAPUA BARAT bagi Papua. Pada masa Pemerintahan
Sementera PBB (UNTEA), digunakan dua nama, WEST NEW GUINEA/WEST IRIAN.
Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 1963, Republik Indonesia menggunakan nama
IRIAN BARAT. Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah
Revolusioner sementara Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan
nama WEST PAPUA.
Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia di West Papua merubah nama
IRIAN BARAT menjadi IRIAN JAYA. Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali
menjadi Papua hingga kini.
Menurut beberapa sumber, nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa
Maluku Utara. Maksud sebenarnya bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang
raja yang memerintah disini sebagai seorang bapak, itulah sebabnya pulau dan
penduduknya disebut demikian.
Papa-Ua artinya anak piatu. Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite
Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA., karena
rakyat disini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat (West
Papua).
Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan bahwa penduduk
pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau
raja disini sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua
berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.
Tidak ada yang dipertuan untuk disembah dan tidak ada yang diperbudak untuk
diperhamba. Raja-raja yang tumbuh seperti jamur di Indonesia, adalah akibat
pengaruh pedagang bangsa Hindu dan Arab di masa lampau.
Inilah sebabnya maka rakyat Papua anti kolonialisme, imperialisme dan
neo-kolonialisme. Nenek moyang mereka tidak pernah menyembah-nyembah kepada
orang lain, baik dalam lingkungan sendiri. Mereka lahir dan tumbuh diatas
tanah airnya sendiri sebagai orang merdeka.
Berbicara mengenai nama Irian, adalah satu nama yang mengandung arti
politik. Frans Kaisiepo, almarhum, orang yang pertama mengumumkan nama ini
pada konperensi di Malino-Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain
berkata: â Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti
historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik
Indonesia Anti Nederlandâ . (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal.
107-108).
Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro,
bekas buangan Digul-Atas tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan
pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di
Hollandia antara tahun 1945-1946.
Perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, terjadi pada tahun 1973, juga
mengandung arti politik. Rejim Militer Indonesia tidak menginginkan adanya
pembagian Pulau Papua menjadi dua dan berambisi guna menguasai seluruhnya.
Pendirian ini berdasarkan pengalaman tetang adanya dua Vietnam-Selatan dan
Utara, tentang adanya dua Jerman-Barat dan Timur, dan tentang adanya dua
Korea-Selatan dan Utara. Irian Jaya, Irian yang dimenangkan. Jaya, victoria
atau kemenangan. Jika huruf “Y” dipotong kakinya, maka akan terbaca Irian
Java alias Irian Jawa. Sumbernya bisa dilihat di
http://digoel.wordpress.com/2008/01/06/tentang-nama-papua
Kemudian selama hidupnya, Gus Dur beberapa kali mengunjungi Papua, yakni
pada 1999, selanjutnya pada 2000 dan terakhir pada 2006. Inilah sekilas
catatan tentang Papua.
Oleh Dasman Djamaluddin
Hari ini, Sabtu, 28 Desember 2019, di kediaman Presiden Republik Indonesia ke-4, Dr (H.C) K.H. Abdurrahman Wahid, atau lebih dikenal sapaan dengan Gus Dur, di Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan, akan berlangsung Haul ke-10.
Pagi ini pula, saya ingin mengingat tulisan saya yang pernah dimuat berbagai media tentang kunjungan Gus Dur di Papua. Adalah Thaha Al-Hamid, Sekretaris Jenderal Presidium Dewan Papua (PDP) itu tidak
dapat menahan haru ketika berbicara mengenai sosok KH Abdurrahman Wahid atau
Gus Dur. Dengan terbata-bata dan mata memerah, dia mengambil tisu di atas
meja dan menyeka air matanya. Thaha menganggap, Gus Dur sangat paham akan
jati diri orang asli Papua.
Saya juga sangat mengenal Thaha Al-Hamid. Selama bergaul dengan Thaha, ketika dia menjadi sekretaris saya di Lembaga
Hukum Mahasiswa Islam (LHMI/HMI) Cabang Jayapura, 1978-1979 dan 1979-1980,
saya menilai Thaha adalah orang yang berprinsip, berani dan tegar. Orangnya
sederhana, dan rendah hati. Oleh karena itu, ketika saya melihat Thaha
menitikkan air mata yang diliput oleh salah satu stasiun televisi nasional,
saya pun tersentak untuk menulis.
Thaha yang tegar itu larut dalam suasana ketika menceriterakan kunjungan Gus
Dur sebagai seorang Presiden RI ketika dia dan kawan-kawan di tahan. Pada
kunjungannya di tahun 2000, Gus Dur sempat mengunjungi para anggota Presidium Dewan Papua (PDP) di
tahanan yang saat itu ditahan atas tuduhan makar. Beliau minta ke Kepala
Kepolisian Daerah Papua yang waktu itu dijabat Pak Wenas.
Lalu Gus Dur katakan, " saya harus ketemu ke lima orang PDP, Theys dan
kawan-kawan."
Hubungan Gus Dur dengan Theys luar biasa sekali. Terus pada
kunjungannya di tahun 2006, Gus Dur juga sempat minta pemerintah Indonesia
agar almarhum Ketua PDP, Theys Hiyo Eluay dinobatkan sebagai pahlawan
nasional, ujar Thaha.
Theys, nama lengkapnya adalah Theys Hiyo Eluay. Dia tewas saat berusia 64
tahun, tepat pada Hari Pahlawan 10 November 2001, setelah menghadiri upacara
Hari Pahlawan yang diselenggarakan Pemerintah Daerah (Pemda) Irian Jaya di
Jayapura. Sepulangnya menghadiri Hari Pahlawan itu menuju rumahnya di Jalan
bestirpos 5, Sentani Kota, yang berjarak sekitar 55 km, Theys tidak pernah
lagi pulang ke rumah. Setelah dicari-cari, akhirnya jenazah Theys ditemukan
tertelungkup di jok mobil miliknya, jenis Toyota Kijang bernomor polisi B
8997 TO dengan wajah babak belur dan luka dipelipis, dahi dan leher. Posisi
mobil nyaris masuk jurang. Mobil yang kaca depannya hancur itu, masih
tertahan pada sebatang pohon. Dari kondisi jenazah, muncul dugaan, Theys
dibunuh setelah diculik.
Sebagaimana sosok Thaha Al-Hamid yang taat beragama Islam, Theys sebenarnya
bukanlah tokoh oposisi. Theys adalah mantan anggota Penentuan Pendapat
Rakyat (Pepera) tahun 1969. Dia sangat berjasa dalam mempertahankan masuknya
Irian Jaya ke wilayah Indonesia. Bahkan pernah juga menjadi anggota DPRD
Irian Jaya dari Golkar selama tiga periode. Tetapi entah apa yang
melatarbelakanginya , akhirnya Theys menyebut dirinya Pemimpin Besar Dewan
Papua Merdeka sekaligus menjadi Ketua Presidium Dewan Papua.
Kembali ke sosok Gus Dur, Thaha menganggap bukan hanya dirinya merasa cukup
dekat dengan Gus Dur, juga hampir seluruh orang Papua merasa dekat dengan
Gus Dur. Misalnya, Gus Dur juga sangat dekat dengan Ketua Dewan Adat Papua
dan tokoh-tokoh adat lainnya di Papua, termasuk Tom Beanal.
“Bahkan beberapa kali jika kami sudah jarang mengunjunginya, Gus Dur akan
tanya dan pasti kami datang mengunjungi beliau. Jadi silaturahmi kami dengan
beliau tetap jalan, walau sudah tak menjabat presiden,” ungkapnya.
Makna sosok Gus Dur, kata Thaha, terlalu luar biasa bagi Papua dan orang
Papua. “Kita tak hanya kehilangan seorang kiai, seorang bekas presiden, dan
seorang guru, tapi sebenarnya kita kehilangan kitab hidup. Sebuah kitab yang
terus memberikan nasihat,” tutur Thaha mengenang sosok Gus Dur.
_Beberapa Alasan_
Menurut Thaha, ada beberapa alasan masyarakat di Papua tak pernah melupakan
sosok Gus Dur. Misalnya, pada 31 Desember 1999, tanpa perlu berpikir
panjang, Gus Dur yang saat itu sebagai Presiden Indonesia, mengganti nama
Irian Jaya menjadi Papua.
Tentang nama ini, seperti diketahui, pada tahun 1961, Komite Nasional Papua
yang pertama menetapkan nama PAPUA BARAT bagi Papua. Pada masa Pemerintahan
Sementera PBB (UNTEA), digunakan dua nama, WEST NEW GUINEA/WEST IRIAN.
Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 1963, Republik Indonesia menggunakan nama
IRIAN BARAT. Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah
Revolusioner sementara Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan
nama WEST PAPUA.
Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia di West Papua merubah nama
IRIAN BARAT menjadi IRIAN JAYA. Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali
menjadi Papua hingga kini.
Menurut beberapa sumber, nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa
Maluku Utara. Maksud sebenarnya bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang
raja yang memerintah disini sebagai seorang bapak, itulah sebabnya pulau dan
penduduknya disebut demikian.
Papa-Ua artinya anak piatu. Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite
Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA., karena
rakyat disini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat (West
Papua).
Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan bahwa penduduk
pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau
raja disini sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua
berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.
Tidak ada yang dipertuan untuk disembah dan tidak ada yang diperbudak untuk
diperhamba. Raja-raja yang tumbuh seperti jamur di Indonesia, adalah akibat
pengaruh pedagang bangsa Hindu dan Arab di masa lampau.
Inilah sebabnya maka rakyat Papua anti kolonialisme, imperialisme dan
neo-kolonialisme. Nenek moyang mereka tidak pernah menyembah-nyembah kepada
orang lain, baik dalam lingkungan sendiri. Mereka lahir dan tumbuh diatas
tanah airnya sendiri sebagai orang merdeka.
Berbicara mengenai nama Irian, adalah satu nama yang mengandung arti
politik. Frans Kaisiepo, almarhum, orang yang pertama mengumumkan nama ini
pada konperensi di Malino-Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain
berkata: â Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti
historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik
Indonesia Anti Nederlandâ . (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal.
107-108).
Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro,
bekas buangan Digul-Atas tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan
pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di
Hollandia antara tahun 1945-1946.
Perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, terjadi pada tahun 1973, juga
mengandung arti politik. Rejim Militer Indonesia tidak menginginkan adanya
pembagian Pulau Papua menjadi dua dan berambisi guna menguasai seluruhnya.
Pendirian ini berdasarkan pengalaman tetang adanya dua Vietnam-Selatan dan
Utara, tentang adanya dua Jerman-Barat dan Timur, dan tentang adanya dua
Korea-Selatan dan Utara. Irian Jaya, Irian yang dimenangkan. Jaya, victoria
atau kemenangan. Jika huruf “Y” dipotong kakinya, maka akan terbaca Irian
Java alias Irian Jawa. Sumbernya bisa dilihat di
http://digoel.wordpress.com/2008/01/06/tentang-nama-papua
Kemudian selama hidupnya, Gus Dur beberapa kali mengunjungi Papua, yakni
pada 1999, selanjutnya pada 2000 dan terakhir pada 2006. Inilah sekilas
catatan tentang Papua.
Langganan:
Postingan (Atom)









