Rabu, 18 Desember 2019

Kiriman Buku dari Putera Jenderal yang Saya Kenal

Inilah putera bungsu atau putera ke-4 Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat, yaitu Bambang Wasono Basoeki Rachmat yang baru saja mengirimkan buku biografi ayahnya kepada saya.

Sudah tentu saya senang, karena hubungan silaturrahmi antara saya dan keluarga besar Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat tetap terus terjalin.
Pertama kali saya berhubungan erat dengan keluarga Jenderal Anumerta Basoeki Rachmat, ya, ketika menulis biografi buku "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar." 

Jenderal Basoeki telah meninggal dunia pada 10 Januari 1969. Melalui keluarga, lahirlah sebuah buku berjudul: "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar (Jakarta: Grasindo,1998 dan 2008). Diterbitkan dua kali oleh Penerbit Grasindo.
Kemudian, Jenderal kedua, saya berkenalan lagi dengan seorang Jenderal, Letnan Jenderal TNI (Marinir) Safzen Noerdin.

Saya hadir ketika diundang di Graha Marinir, Jakarta pada Rabu  malam, 30 Maret 2016. Graha Marinir itu dipenuhi para petinggi TNI, khususnya dari Angkatan Laut RI. Kehadiran mereka waktu itu, sudah tentu berkaitan dengan undangan Pak Safzen yang pada waktu itu juga menjadi Dubes RI untuk Irak dari tahun 2012-2015. Ia waktu itu meluncurkan buku tentang pengalamannya  selama bertugas di sana. 

Pak Safzen memang tidak pernah melupakan saya dan undangan dikirim melalui Hand Phone.
Buku berjudul "Hari-Hari Rawan di Irak" itu diterbitkan oleh Penerbit Rajawali Consultant, Maret 2016 , dan diluncurkan di Graha Marinir Jakarta, pada malam hari itu.
Safzen yang  juga mantan Komandan Korps Marinir TNI AL menuliskan pengalamannya selama menjadi Duta Besar Indonesia di Irak.  Dari laporan terakhir di Irak yang ditayangkan berbentuk buku dan juga dari film singkat di ruangan itu, benar bahwa situasi di Irak sangat rawan. 
Sangatlah wajar, jika para istri dan anak-anak para staf Kedutaan Besar RI di Irak, termasuk duta besarnya  tidak diizinkan bersama mereka di Irak,  sebagai antisipasi jika terjadi keadaan darurat, sesegera mungkin bisa hijrah ke negara tetangga tanpa beban psikologis.
Dari laporan tersebut tergambar bahwa hampir setiap hari bom mobil meledak. Bahkan untuk itu Dubes kita di Irak memiliki dua mobil anti peluru di Kedutaan Besar Indonesia di Irak sebagai antisipasi jika Dubes atau stafnya pergi ke luar dari kedutaan besar yang  dipagari tembok beton setebal 40-50 cm, kalau Allah mengizinkan, bisa selamat.
Mengapa saya juga tahu? Ya, sebagaimana saya tuturkan di atas, saya juga  pernah diundang Pak Safzen Noerdin ke Irak pada September 2014. Hubungan erat saya dengan Pak Safzen di mulai ketika beliau belum menjadi duta besar. 
Selanjutnya Jenderal yang saya kenal adalah Letnan Jenderal (Purn) Rais Abin. Dari perkenalan itu terbit buku:  "Catatan Rais Abin, Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah, 1976-1979 (Jakarta: Penerbit Kompas,2012)."  Kata Sambutan (Sekapur  Sirih) ditulis sendiri oleh Pak Jacob  Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas.
Buat saya, ke Irak pada 2014, di masa Dubes Indonesia, Safzen Norton  menambah wawasan saya, karena pada Desember 1992, saya juga mengunjungi Irak atas undangan Kementerian Penerangan Irak. Itu pun atas jasa Pak Burhanudin Mohamad (B.M) Diah setelah beliau senang dengan penerbitan buku biografinya yang saya tulis : "Butir Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).  
Saya ke Irak waktu itu melalui Rusia karena keterkaitan Pak Diah yang pernah mewawancara Pemimpin Tertinggi Uni Soviet, Mikhail Gorbachev. Tiga malam  di rumah keluarga Svet Zakharov, di Moskow,  saya betul-betul diperlakukan dengan baik dan ramah.  Hal ini tidak terlepas dari jalinan akrab Svet Zakharov dengan Harian "Merdeka," apalagi saya ke sana atas  rekomendasi B.M.Diah sebagai penanggung-jawab  Grup Merdeka ( Harian Merdeka, Majalah Keluarga, Majalah Topik dan Indonesian Observer).
Di hari-hari yang senggang di Moskow, saya banyak membaca laporan pertemuan B.M.Diah dengan Mikhail Gorbachev di Kremlin pada 21 Juli 1987. Sejak memegang pucuk pimpinan di Uni Soviet lebih dua tahun berselang, Mikhail Gorbachev , Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, banyak menarik perhatian dunia. Itu berkat tindakan-tindakan yang cukup mengejutkan, yang tak jarang jauh di luar ramalan pengemat politik sekalipun.
Saya tidak berhenti membaca laporan tersebut. Ikuti dialog B.M.Diah ketika bertemu Gorbachev:
{"Dengan ramah dan senyum persahabatan, ia (Gorbachev) memulai membuka kesempatan bagi B.M.Diah mewawancarainya. Wawancara B.M.Diah ini sekaligus untuk memperingati satu tahun pidato  Gorbachev di Vladivostok yang merupakan angin baru pandangan Uni Soviet bagi kawasan Asia-Pasifik.
Mikhail Sergeyev Gorbachev: Saya senang ketemu dengan Tuan Diah. Saya mendengar banyak mengenai kegiatan Tuan. Tuan sudah beberapa puluh tahun  aktif dalam bidang jurnalistik, bukan ?

M.Diah : Saya senang bertemu dengan Tuan Sekretaris Jenderal. Ini suatu kehormatan besar bagi saya. Betul sekali sudah selama 50 tahun saya aktif dalam dunia jurnalistik.

Mikhail Sergeyev Gorbachev : Itulah pengalaman yang besar. Dan pengalaman bukan sesuatu beban yang tak diperlukan, apalagi kalau dipergunakan  secara benar. Misalnya kami sekarang melaksanakan  tugas-tugas baru dalam negeri kami. Dan pada tahap perkembangannya ini, kami  terus memperkaya diri atas dasar pengalaman serta pelajaran sejarah.

B.M.Diah: Kami sangat memperhatikan pidato-pidato  Tuan serta proses-proses yang sedang terjadi  di Uni Republik Sosialis Soviet.

Mikhail Sergeyev Gorbachev:  Terimakasih.  Apakah kata-kata perestroika  dan glasnost  sudah sampai ke Indonesia ? Dapatkah kata-kata ini  diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?

B.M.Diah: Kata-kata itu dikenal baik di negara kami dan tidak perlu diterjemahkan.

Mikhail Sergeyev Gorbachev : Sambil menyerahkan kepada Tuan jawaban-jawaban tertulis atas pertanyaan – pertanyaan, saya ingin mendahuluinya dengan catatan-catatan yang tidak besar, tetapi, menurut pendapat saya, esensial. Saya berterimakasih kepada Tuan,  dan Redaksi surat kabar Tuan, atas diperhatikannya Hari Ulang Tahun pidato saya di Vladivostok. Pimpinan Soviet  memberi arti penting kepada apa yang telah dikatakan di Vladivostok. Waktu itu kami berusaha menguraikan  politik kami terhadap  kawasan yang didiami  oleh ratusan juta manusia. Dalam pada itu kami mengharapkan pengertian  yang sewajarnya atas politik kami.

Pertanyaan-pertanyaan yang Tuan kemukakan, saya memandang sebagai bukti bahwa dalam masyarakat Indonesia ada perhatian pada politik kami, pada penilaian-penilaian kami akan keadaan di kawasan Asia Pasifik, pada pemikiran-pemikiran kami mengenai masa depan kawasan ini dalam konteks  politik dunia.

Catatan-catatan saya adalah sebagai berikut:

Kami berusaha memandang dunia modern dari posisi yang  benar-benar ilmiah dan realistis. Analisa yang dibuat ini membawa kami pada suatu pandangan dunia yang baru, pada politik yang baru, yang kami proklamasikan pada kongres partai kami.

Analisa ini membantu kami melihat realitas-realitas yang menjadi karakteristik untuk dunia masa kini. Dan dunia sekarang ini berbeda serius dengan dunia 30-40 tahun yang lalu.

Pertama-tama, peradaban manusia menjadi terancam karena persediaan-persediaan senjata nuklir yang luar biasa banyak jumlahnya, ini suatu realitas yang tidak dapat diabaikan. Sebaliknya, penilaian yang benar terhadap realitas tersebut membantu kita menarik kesimpulan bahwa hari ini masalah-masalah dunia tidak dapat diselesaikan melalui jalan-jalan militer, karena jalan ini dapat mengakibatkan konsekuensi-konsekuensi  yang tidak dapat diramalkan. Itu berarti bahwa perlu ada koreksi  dalam pandangan-pandangan pada dunia ini serta dalam politik negara-negara.



Masalah-masalah yang terdapat di dunia ini menuntut penyatuan  usaha-usaha semua negara. Dan pada umumnya, kalau  kita melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik, maka kemajuan semakin membikin kita saling mendekatkan kita serta mendekatkan  kita secara lebih erat dari pada kapan pun juga. Kita semakin banyak saling tergantung, kita semakin banyak saling membutuhkan."}
Wawancara B.M.Diah dengan Mikhail Gorbachev dapat dilihat lengkap dalam bukunya:  Mahkota bagi Seorang Wartawan.  Menurut B.M.Diah, wawancara ini merupakan tugas puncak  yang  ia peroleh.  “Kami betul-betul senang dengan pertemuan ini, Tuan Sekretaris Jenderal. Bagi saya pribadi,  ini adalah mahkota  dari kegiatan jurnalistik saya selama 50 tahun,” ujar B.M.Diah kepada Mikhail Gorbachev .
Kembali ke diri saya, perjalanan saya ke  Irak tahun 1992 sudah di bukukan berjudul: "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," dicetak oleh PT.Penebar Swadaya, 1998 bekerja sama dengan Kedutaan Besar Irak di Jakarta. Buku ini sudah dibaca Presiden Irak Saddam Hussein saat itu. Untuk itu saya memperoleh penghargaan dari Kantor Sekretaris Presiden Republik Irak di Baghdad. Di Baghdad, Irak, saya mendengar langsung situasi di Irak waktu itu dari Menteri Perindustrian dan Perlogaman Irak, Amir al-Saadi. Ia juga seorang Jenderal.

Kamis, 12 Desember 2019

Memperingari 88 Tahun Nugroho Notosusanto di FIB UI

Saya di undang oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahun Budaya (FIB) Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (UI) di Kampus FIB UI Depok, Kamis, 12 Desember 2019.

Jika berbicara tentang peluncuran hasil penelitian "Orang Buton," yang telah dibukukan, saya tidak banyak berkomentar, karena itu merupakan sebuah hasil penelitian. Banyak juga yang berharap bukan saja "Orang Buton," yang diteliti, tetapi orang Papua penting juga diagendakan FIB UI agar diteliti.

Saran ini benar. Sejak 1975 hingga 1980 saya kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Cenderawasih, Abepura, Papua,  jumlah penelitian tentang Orang Papua," jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Juga ketika acara itu sekaligus memperingati 90 Tahun Prof. AB. Lapian. Tetapi ketika acara tersebut juga memperingati 88 Tahun Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, saya mungkin sedikit memberi catatan.
Saya langsung mengambil sebuah  buku di rak buku saya yang ditulis B.M.Diah berjudul: "Meluruskan Sejarah (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1987)."

Di dalam BAB I, buku setebal 268 halaman itu,  B.M.Diah menulis kritikan tentang buku  " Sejarah Nasional Indonesia," karya Dr.Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dan Dr. Marwati Djoened. B.M. Diah menulis kritikannya dari halaman 1 hingga 20. Antara lain "Sejarawan Indonesia Masih Dipengaruhi Sejarawan Barat" dan "Sejarawan Indonesia 1976 Menghukum Sukarno."

Sebagai Alumnus Program Studi Ilmu Sejarah, Program Pascasarjana FIB UI, saya lebih banyak tidak berkomentar dalam acara itu. Hal ini dikarenakan akan menimbulkan polemik di belakang hari, apalagi saya adalah mantan wartawan Harian "Merdeka," pimpinan B.M.Diah dan pada saat bersamaan, saya menulis judul tesis di FIB UI, "Harian Merdeka Sebuah 'Personal Journalism' B.M.Diah (1945-1996)," di mana Prof. Dr. Susanto Zuhdi, adalah Ketua Penguji saya.

Minggu, 08 Desember 2019

Mengenang Ibu Sriwoelan Basoeki Rachmat

Mengenang Ibu Sriwoelan Basoeki Rachmat

Oleh Dasman Djamaluddin

Tanggal 4 Desember 2019, enam tahun yang lalu, tepatnya 4 Desember 2013, Jalan Besuki 11, Menteng, dilanda duka mendalam.

Ibu Sriwoelan Basoeki Rachmat telah meninggalkan kita semua. Bayangan saya langsung tertuju ke Jalan Besuki 11. Waktu itu tanggal 7 November 1996, saya dipercaya keluarga besar Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat menulis biografi almarhum. Hampir setiap seminggu sekali saya bertemu keluarga besar Jenderal Basoeki Rachmat, terutama isteri almarhum, Ibu Sriwoelan Basoeki Rachmat sekeluarga dan para ajudannya. Sudah tentu menyisakan sebuah kenangan yang tidak dapat dilupakan.

Sebagaimana penuturan saya di Kompasiana, 14 September 2019, hasil perbincangan dan dialog di Jalan Besuki 11, itu menghasilkan sebuah buku biografi.

Buku yang saya tulis itu diterbitkan pertama kali pada tahun 1998. Diterbitkan oleh PT. Grasindo (Gramedia Widia Sarana), Jakarta.  Kemudian diterbitkan lagi pada tahun 2008, juga oleh penerbit yang sama.

Mengapa saya harus mengungkapnya kembali? Hal itu karena ada sesuatu hal mengganjal, yaitu sebelumnyab tertundanya buku ini terbit, yaitu menunggu Kata Pengantar dari Presiden Soeharto.

Kata Pengantar dari Presiden Soeharto itu tidak muncul juga. Sebenarnya Presiden Soeharto berkenan menulis "Kata Pengantar" buku setebal 184 halaman itu. Kenapa begitu ?

Karena yang pertama mengajukan dan meminta "Kata Pengantar" tersebut adalah istri Jenderal TNI (Anumerta) Basoeki Rachmat yaitu Nyonya Sriwoelan yang sekarang juga sudah almarhum.

Kedua, persahabatan kedua tokoh tersebut, masing-masing Jenderal TNI Soeharto dan Basoeki Rachmat sangat akrab. Di dalam pikiran saya atau keluarga Jenderal TNI (Anumerta) Basoeki Rachmat, tidak mungkin Presiden Soeharto menolak menulis "Kata Pengantar" di dalam buku tersebut. Tetapi memang itulah yang terjadi, "tidak ada jawaban dari Presiden Soeharto.

Buku itu terbit juga pada tahun 1998 dan sudah tentu tanpa "Kata Pengantar" dari Presiden Soeharto. Bagaimana pun pertanyaan tersebut muncul kembali, apa sebabnya ya? Kalau dikatakan sebuah keakraban, Presiden Soeharto sangat mengagumi Jenderal Basoeki Rachmat. Bahkan pada waktu Jenderal Basoeki Rachmat meninggal dunia hari Jumat, 10 Januari 1969, Presiden Soeharto terkejut dan langsung ke rumah Jenderal Basoeki Rachmat di Jalan Besuki No. 11.

Suatu kehormatan untuk almarhum Jenderal TNI Basoeki Rachmat adalah kenaikan pangkat almarhum dari Letnan Jenderal menjadi Jenderal. Juga pada hari itu selain dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, maka pada tanggal beliau mangkat langsung diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Jarang hal tersebut terjadi.

Menurut perkiraan saya, yang menjadi masalah adalah di judul buku yaitu kata Supersemarnya (Surat Perintah 11 Maret), meski Supersemar yang dipaparkan dalam buku sesuai dengan alur sejarah. Selanjutnya pernyataan dari ajudan Jenderal Basoeki Rachmat, Stany Soebakir di dalam buku itu bahwa ketika hari sudah larut malam dan di dalam mobil jenis Toyota "Kanvas" bernomor polisi  B 1968 S menuju Jakarta melalui Cibinong, "Saya masih ingat, tempat ditandtanganinya naskah itu di Bogor, bukan Jakarta. Karena Bung Karno sudah menganggap, Bogor sebagai pusat pemerintahan," ujar Stany Subakir.

Perkiraan saya sudah tentu di kalimat ini. Jika Presiden Soeharto membuat "Kata Pengantar," maka ia harus memaparkan Supersemar itu ditandatangani di Bogor sesuai pernyataan ajudan Jenderal TNI Basoeki Rachmat.

Memang benar setelah Presiden Soeharto meninggal dunia, masalah Supersemar asli selalu dipertanyakan. Megawati, Jusuf Kalla dan Kepala Arsip Nasional pernah mengucapkan kalimat akan berusaha mencari Supersemar asli, tetapi tidak terwujud hingga hari ini. Jika kita ke Arsip Nasional, yang kita temui bukan Supersemar asli sebagaimana kata ajudan Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat, yaitu Stany Soebakir bahwa Supersemar itu ditandatangani Presiden Soekarno beralamat di Bogor, bukan Jakarta.

Senin, 02 Desember 2019

Tribute of Arswendo Atmowiloto dan Kenangan Bersamanya

”TRIBUTE TO ARSWENDO: HARTA PALING BERHARGA ITU" DAN SEBUAH KENANGAN

Dikutip dari "Kompas," Seniman peran Sandy Nayoan membawakan monolog dengan memerankan sosok Arswendo Atmowiloto dalam acara ”Tribute to Arswendo: Harta Paling Berharga” di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu 30 November 2019. Kegiatan yang digelar para seniman dan keluarga besar mendiang Arswendo Atmowiloto itu menjadi salah satu upaya mereka untuk membuat Arswendo bersama karyanya tetap lekat di hati masyarakat.

Senentara, artis Maudy Koesnaedi memberikan testimoni tentang sosok Arswendo Atmowiloto dalam acara ”Tribute to Arswendo: Harta Paling Berharga” di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu 30 November 2019.

Begitu juga cucu mendiang Arswendo Atmowiloto, Christina Kania Kinasih, membacakan puisi dalam acara ”Tribute to Arswendo: Harta Paling Berharga” di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu.

Demikian juga, Romo Muji Sutrisno bercerita tentang buku karya Arswendo Atmowiloto yang berjudul "Barabas," dalam acara ”Tribute to Arswendo: Harta Paling Berharga” di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Kegiatan yang digelar para seniman dan keluarga besar mendiang Arswendo Atmowiloto itu menjadi salah satu upaya mereka untuk membuat Arswendo bersama karyanya tetap lekat di hati masyarakat.

Para seniman dan keluarga besar mendiang Arswendo Atmowiloto bernyanyi bersama dalam acara ”Tribute to Arswendo: Harta Paling Berharga” di kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat.  Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk membuat Arswendo bersama karyanya tetap lekat di hati masyarakat.

Sementara itu, saya pernah menulis di "Kompasiana," khususnya di hari meninggal dunianya :

"Arswendo Atmowiloto meninggal dunia pada Jumat, 19 Juli 2019, pukul 17.50 WIB di usia 70 setelah berjuang melawan kanker prostat. Kabar ini dikonfirmasi oleh sumber yang dekat dengan keluarga.

Sebelumnya Arswendo sempat dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang menurun.

Arswendo Atmowiloto merupakan seniman dan budayawan legendaris di Indonesia. Bermula berprofesi sebagai wartawan, kepiawaian Arswendo menciptakan banyak karya tulis menjadikan dirinya sebagai sosok penting dalam sejarah literasi Indonesia.

Kenangan buat saya adalah kehadiran budayawan Arswendo Atmowiloto dan Slamet Rahardjo Djarot di acara Seminar Nasional "Makna Kemerdekaan: Dulu, Kini, dan yang Akan Datang," yang diselenggarakan Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Museum Nasional Jakarta, Selasa, 3 Desember 2013.

Waktu itu, sebagai seorang moderator di sesi kedua, sudah tentu saya sangat menghargai kehadiran dua budayawan tersebut. Minimal bisa mencerahkan pemikiran-pemikiran mengenai makna kemerdekaan itu sendiri terutama mengenai hasil-hasil karya mereka yang kalau boleh saya katakan melampaui batas-batas kemampuan rata-rata putra bangsa.

"Inilah sebetulnya makna kemerdekaan buat anak bangsa, karena mereka tidak berteori tapi berkarya," ujar saya mengawali pembicaraan sebagai moderator. Juga sebagaimana diharapkan para pembicara di sesi pertama, bahwa hendaknya untuk memaknai sebuah kemerdekaan kita harus jujur, dan konsekuen, maka dengan profesi kedua nara sumber ini membuktikan hal itu.

Sebagai pembicara pertama, Arswendo Atmowiloto megulas makalahnya berjudul "Nasionalisme Nasi Goreng". Sekilas terasa aneh didengar, tetapi setelah diulas barulah kita bisa memahami bahwa "nasi goreng" itu menunjukan ciri khas masakan asli Indonesia. Arswendo ingin menggarisbawahi bahwa jati diri kita sebagai bangsa sudah pudar.

"Sayangnya nasi goreng tidak dikenali dalam bahasa komputer, sehingga setiap kali menuliskan goreng, otomatis berganti dengan goring. Seakan kata nasi goreng adalah salah dan perlu dikoreksi." Tetapi meskipun demikian, lanjut Arswendo, nasib nasi goreng tidak seburuk durian, terasi, kretek atau jamu kuat.

"Di negerinya sendiri durian tak leluasa disajikan di hotel, atau bahkan dalam kamar, atau sebagai tentengan ketika naik pesawat terbang. Terasi dianggap kotor, diganti bumbu masak plastikan. Kretek, juga rokok dianggap jelek, jorok, dan berbahaya, sementara jamu kuat dianggap illegal," ujar Arswendo.

Memakai bahasa sehari-hari yang mudah dicerna dan dipahami, Arswendo ingin mengungkapkan, kenapa bangsa ini tidak mencintai produksi dalam negeri? Inilah tragedi nasionalisme, tegas Arswendo.

"Bagaimana bisa hanya untuk menentukan kecantikan seorang gadis, harus diukur dan dibandingkan antara lingkar dada, pinggang, dan pantat," kembali Arswendo mengingatkan, seharusnya untuk menentukan seorang gadis cantik bukan dari ukuran itu.

Jadi, Arswendo ingin menegaskan, ketergantungan kita kepada budaya asing dalam menilai sesuatu, sementara budaya asli bangsa ditinggalkan. Sebetulnya dari pemikiran Arswendo, dengan mencontohkan "Nasionalisme Nasi Goreng", sudah tepat bahwa bangsa ini mencintai budayanya sendiri.

"Wujud budaya tidak lahir untuk meniadakan wujud yang lain, juga tidak memusuhi. Nasi goreng lahir tidak untuk meniadakan atau memusuhi nasi liwet, nasi uduk, rendang, atau gudeg, atau apa pun. Kita boleh menikmati nasi goreng tanpa merasa bersalah, atau disalahkan," jelas Arswendo menyimpulkan.

Kehadiran Arswendo memacu generasi muda, atau guru-guru sejarah, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang hadir di acara seminar itu agar lebih kreatif untuk memaknai kemerdekaan.

Arswendo tidak berteori, tetapi dia adalah novelis produktif. Arswendo itu nama aslinya Sarwendo, tetapi karena tidak populer diubahnya dengan Arswendo dan di belakang namanya ditambah nama ayah, Atmowiloto, sehingga terwujudlah namanya sebagaimana sekarang Arswendo Atmowiloto. Lahir di Surakarta, 26 November 1948.

Berbicara mengenai karya, mungkin sudah tidak bisa dihitung, baik berupa tulisan bersambung dan novel. Menurut saya kalau kita tinjau dari novel-novel yang ditulisnya, Arswendo boleh dianggap sebagai sejarawan. Novelnya yang lahir berisi jiwa-jiwa kepahlawan atau sejarah, di antaranya, "Serangan Fajar," "Air Langga," Senopati Pamungkas", dan "Penghianatan G.30.S/PKI".

"Sebagaimana ungkap Dr. Kuntowijoyo, Sejarawan UGM, sebuah biografi adalah sejarah, maka saya juga boleh mengatakan bahwa Arswendo layak juga diakui sebagai sejarawan. Apalagi beliau selalu menulis, karena bagaimana pun kunci dari sejarawan itu menulis. Jika tidak menulis lagi, maka kesejarawanannya diragukan," ujar saya sebagai moderator di awal pembukaan seminar.

Selamat jalan Arswendo. Meski engkau telah tiada, tetapi namamu akan dikenang oleh budayawan Indonesia."

Rabu, 20 November 2019

Peresmian Graha Insan Cita (KAHMI dan HMI) Papua

Surya Jaya anggota Korps Alumni HMI (KAHMI) Cabang Jayapura mengirim sebuah video dari Jayapura, Papua. Video itu menggambarkan tentang peresmian gedung baru HMI dan KAHMI pada hari Sabtu, 16 November 2019 yang terletak di Kompleks BTN Skyline Kotaraja Kota Jayapura.

Peresmian gedung ini, mengingatkan saya kepada kegiatan anak-anak HMI Cabang Jayapura, Selasa, 25 Desember 2018, yang merupakan Hari Natal bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Saya waktu itu, hanya ingin melihat hari Natal di Jayapura, Papua dan Irak. Dua wilayah ini pernah saya kunjungi. Pertama, Papua, saya pernah kuliah di Universitas Cenderawasih (Uncen) di Abepura Papua, sejak 1974-1979. Kedua, di Irak, saya mengunjunginya pada bulan Desember 1992 dan September 2014.

Di Papua untuk tahun 2018 lalu, saya merasa gembira, karena Himpiban Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura, di mana sewaktu saya kuliah di sana, saya aktif di organisasi ekstra ini. Kenapa saya gembira? Rupanya gagasan kami sewaktu di Papua (kami bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Theolagia Gereja Kristen Indonesia) terus diikuti kader-kader HMI berikutnya.

Pada tahun 2018 lalu, Ketua Umum HMI Cabang Jayapura, Hariyanto Rumagia telah menyatakan sebelumnya bahwa sekitar 122 anggota HMI Cabang Hayapura siap amankan 12 Gereja di Kota Jayapura. Alhamdulillah, malam kemarin para anggota HMI sudah menyebar ikut membantu polisi mengatur lalu lintas di sekitar Gereja.

Sama halnya dengan di Irak, suasana di Irak, negara yang pernah saya kunjungi dua kali, sekarang  sudah kembali dilanda aksi unjuk rasa, meminta pemerintah Irak memberantas korupsi, menurunkan jumlah pengangguran dan harga kebutuhan pokok.

Tahun lalu Irak telah menyatakan gerilyawan Negara Islam di Irak sudah berhasil dilumpuhkan. Tidak ada lagi gerilyawan Negara Islam di Irak. Pun Zona Hijau di mana tempat-tempat Kedutaan Besar berbagai negara dan Bandara Internasional sudah dicabut. Memang diakui ada beberapa tempat yang memperoleh perlakuan khusus, tetapi Zona Hijau, istilah dari militer itu sudah dicabut yang diberlakukan selama 15 tahun telah dicabut pada 10 Desember 2018.

Tahun 2018 itu, penduduk Nasrani Irak sudah bisa melaksanakan ibadahnya dengan bebas dan aman di Negara 1001 Malam itu. Mereka sudah kembali ke rumah masing-masing dan sudah tentu bila rumah mereka hancur akibat perang, sudah tentu menumpang sementara di rumah keluarga dekatnya, asalkan bisa melaksanakan hari Natal bersama-sama.


Menurut website Kongres Smith, ada lebih kurang 200.000 penduduk Kristen di Irak, jumlah itu menurun dari  1.4 juta di tahun 2002 menjadi  500.000 di tahun 2013. Itu sebelum Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) membunuh mereka dengan apa yang disebut kampanye pembunuhan massal (genocide).

Di website itu ditunjukkan banyak penduduk Kristen terpisah di Erbil di wilayah Kurdistan dan mereka sangat memerlukan bantuan agar bisa kembali lagi ke rumah mereka dan tinggal dengan aman di Irak. Diakui banyak pengungsi Kristen Irak lari ke wilayah Kurdistan, juga di Irak.  Baru-baru ini penduduk Kurdistan ingin merdeka dari Irak, karena banyak berpendapat demikian setelah pemungutan suara. Tetapi didiamkan saja oleh pemerintah Irak.

Bersyukur sudah 450.000 penduduk Kristen Irak kembali ke rumahnya masing-masing dan ini sejalan pula  dengan prioritas pemerintah Irak sekarang membangun kembali negara itu. Banyak pusat peribadahan hancur akibat serangan AS ke Irak waktu menjatuhkan Presiden Irak Saddam Hussein. Di antaranya gereja dan masjid serta rumah ibadah lainnya banyak yang hancur.

Bagaimana pun, saya menyaksikan penduduk Kristen di Indonesia, khususnya di Papua dan di Irak, tetap bergembira merayakan Hari Natal.

Sudah tentu menyambut Natal tahun 2019 ini, penduduk Irak tidak diganggu aksi unjuk rasa.

Selasa, 19 November 2019

Pertemuan para Penulis di Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, hari Minggu, 17 November 2019 menyelengarakan bincang-bincang santai bersama para penulis di Jalan Plaju, No. 10, Jakarta. Hadir dalam acara tersebut Taufik Abdullah yang sekarang menjadi Ketua Pembina Yayasan. Sebelumnya dijabat oleh Pemimpin Umum Harian "Kompas," Jacob Oetama. Sementara Ketua Pengurus Yayasan, juga hadir, Kartini Nurdin.

Penerbit Yayasan Pustaka Obor didirikan oleh tokoh pers Mochtar Lubis. Sekarang putranya Iwan Lubis diwariskan oleh ayahnya Mochtar Lubis melanjutkan pengurusan milik ayahnya yang sebagian besar berupa buku.

Almarhum Mochtar Lubis meninggal dunia tahun 2004. Ia lahir di Padang pada 7 Maret 1922. Membaca biografi Mochtar Lubis akan lebih lengkap jika membaca buku tulisan David T. Hill, Guru Besar Kajian Asia Tenggara dan Fellow di Asia Research Centre (Pusat Penelitian Asia) di Murdoch University, Australia Barat. Penerbitnya juga Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.



Senin, 18 November 2019

Mengingat Hari Lahir Nabi Muhammad SAW dengan Meneladani Perilakunya

Mantan wartawan harian "Merdeka," pimpinan almarhum  BM Diah, yaitu Neta S Pane, tepat hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, tahun lalu, Selasa, 20 November 2018 mengirimlan fotonya dari Jerusalem.  Ia diberitakan sedang berkunjung ke Jerusalem.

Hari ini, pada peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, 9 November 2019, saya teringat foto yang dikirimkannya setahun yang lalu.  Ia mengirimkan foto kompleks Al-Haram Asy-Syarif, di mana di dalamnya terdapat "Dome of The Rock," yang berarti Kubah Batu.

Bangunan Kubah Batu, merupakan satu di antara bangunan yang terletak di sebuah kawasan seluas 14,4 hektar. Di sana ada beberapa bangunan lagi, termasuk masjid Al-Aqsa.

Apa yang dapat dilihat di bangunan Kubah Batu berbentuk delapan persegi itu? Neta mengabadikan sebuah foto tapak mi'rajnya Nabi Muhammad SAW dari masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha (langit ke-tujuh) dan dari Allah SWT lalu  menerima amanah untuk melaksanakan shalat.

Pertama, 50 rakaat sehari semalam. Kemudian ketika hendak turun bertemu Nabi Musa dan menyarankan agar kembali bertemu Allah SWT untuk kembali. Minta pengurangan rakaat, karena menurut Nabi Musa as, ummat Nabi Muhammad SAW tidak akan kuat. Nabi Muhammad kembali lagi menghadap Allah, sehingga raka'atnya berkurang menjadi lima kali sehari semalam.

Tidak dijelaskan oleh Neta, apakah perjalanannya ke Jerusalem lancar-lancar saja setelah Jerusalem berada di bawah kelompok Yahudi usai kekalahan negara Arab pada 7 Juni 1967 dalam perang yang hanya berlangsung enam hari. Apalagi baru-baru ini, Amerika Serikat menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel.

Penduduk Yahudi telah merdeka tahun 1948. Sebelumnya, negara pemenang Perang Dunia I, khususnya Inggris menandatangani sebuah perjanjian dengan kelompok Yahudi. Penduduk Yahudi ikut membantu Inggeris dengan dana yang besar, agar Jerman bisa dikalahkan. Jika Jerman kalah, apa yang diminta penduduk Yahudi akan dipenuhi Inggris. Ternyata Jerman kalah dalam perang.

Penduduk Yahudi menganggap tanah airnya ada di Jerusalem. Awalnya Inggris memberikan tanah Palestina kepada penduduk Yahudi. Anehnya, sebenarnya kalau dibagi, maka rakyat Palestina yang memperoleh bahagian besar. Ini tidak. Malah, penduduk Yahudi yang memiliki wilayah lebih besar dan mendeklarikan kemerdekaannya tahun 1948 sebagai negara Israel.

Sebaliknya, sekarang nasib bangsa Palestina terkatung-katung. Wilayahnya makin lama makin kecil. Lihatlah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dalam hitungan di atas kertas, bangsa Palestina (Islam dan Kristen) yang tepat menjadi bangsa merdeka. Awalnya wilayah itu seluruhnya milik bangsa Palestina, kenyataannya bangsa ini yang kemudian menjadi bangsa pengungsi.

Penduduk Yahudi menganggap di Jerusalem itu terdapat "Dinding Ratapan," untuk penduduk Yahudi. Terkejutnya bangsa-bangsa di dunia, keinginan Israel untuk mendirikan kembali "Kuil Sulaiman," yaitu tempat peribadatan suci umat Yahudi yang dibangun Nabi Daud as pada tahun 1000 Sebelum Masehi. Untuk membangunnya, maka Israel harus meruntuhkan masjid Al-Aqsa. Apakah keinginan Israel ini bisa terwujud? Sudah tentu, tidak.
(elmarj.com)

Sekarang wilayah Palestina itu diambil alih pelan-pelan oleh Israel. Strateginya dengan memperluas berdirinya pemukiman baru penduduk Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Impian rakyat Palestina untuk merdeka semakin jauh dari harapan. Tidak bisa merdeka secara "de facto" dan "de jure." Bahkan  yang kita saksikan, wilayah Palestina semakin lama semakin kecil.
Apalagi  kita saksikan, pada hari Kamis tanggal  21 Agustus 1969, pukul  9.30 waktu setempat, Radio Israel secara resmi mengumumkan suatu peristiwa yang sangat menyayat hati umat Islam, bahwa Masjid Aqsha telah terbakar. Nyala api kebakaran  itu sendiri, katanya  terjadi mulai  kira-kira  pukul 7.15, kurang lebih dua jam sebelum radio itu menyiarkannya. Ummat Islam  seluruh dunia, termasuk Indonesia marah dan mengecam siapa yang  membakarnya. Karena masjid itu terletak di Jerusalem, wilayah yang dikuasai Israel, ummat Islam sudah  tentu marah  kepada Israel.  Oleh karena itulah, negara-negara Islam  bersatu  membentuk OKI , Organisasi Konferensi Islam.

Masjid Aq-sha ini sangat penting bagi ummat Islam di seluruh dunia. Masjid ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW mengakhiri  Isra' dan mengawali Mi'rajnya . Tempat ini namanya tercatat abadi  dalam  kitab  suci  Al-Qur'an.

Saya  kembali  merenung, bahwa Allah SWT berkehendak akan sesuatu. Karena bukankah kita percaya, tanpa  izin Allah SWT, semua peristiwa yang  saya katakan dari awal, tidak akan terjadi.  Kesabaranlah yang kita butuhkan sekarang.  Percayalah Allah SWT  lebih mengetahui dan memiliki ilmu yang tidak bisa kita capai, tanpa izinNya. Segala sesuatu terjadi  atas  izinNya. Maha Besar Allah dengan apa-apa yang dimilikiNya.