Hari ini, 3 Oktober 2019, saya melihat halaman Harina Asiana di facebook dibanjiri ucapan selamat hari jadi ke-32 harian "Sriwijaya Post," yang terbit di Palembang, Sumatera Selatan. Meski hari jadi koran yang terbit di Palembang itu akan diperingati tanggal 12 Oktober 2019, tetapi halaman Harina Asiana sudah dipenuhi ucapan selamat, termasuk saya sendiri.
Harina Asiana ketika saya ditempatkan atas jasa wartawan senior harian "Kompas," Valens Goa Doy di harian "Sriwijaya Post," di Palembang, Harina Asiana sudah menduduki posisi penting dalam manajemen harian "Sriwijaya Post." Saya di surat kabar yang terbit di kota Palembang dan sekitarnya itu setelah tidak lagi membantu Azkarmin Zaini di harian "Pelita," manajemen baru.
Saya memakai kalimat "berkat jasa," karena sebelumnya saya pun sudah bergabung di Kelompok Penerbitan Kompas di Jakarta setelah majalah "Topik," (kelompok Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah) tidak terbit lagi. Saya bergabung di Kelompok Kompas (dulu namanya Pers Daerah) pada tanggal 15 Maret 1989 hingga 17 Juni 1990. Singkat sekali, karena saya kemudian bergabung dengan mantan wartawan "Kompas," Sudirman Tebba, Purnama Kusumaningrat dan seorang lagi Zaili Asril di bawah pimpinan mantan Sekretaris Redaksi harian "Kompas," Azkarmin Zaini ke harian "Pelita" manajemen baru.
Harian "Pelita," gagal berkembang dan Azkarmin Zaini kemudian menjadi Direktur News, Sports & Corporate Communications televisi ANTV dan salah satu wartawan senior Indonesia. Sebelumnya dia menjabat sebagai Pemimpin Redaksi ANTV sejak jaringan televisi itu berdiri tahun 1993 - 2005 dan pada tahun 2007 - 2010.
Waktu saya ingin pindah ke harian "Pelita " manajemen baru wartawan di Grup "Kompas," Raymond Toruan menemui saya dan disinilah saya kenal baik dengan wartawan senior Grup Kompas, "The Jakarta Post," yang juga ikut mengurusi Pers Daerah "Kompas" waktu itu.
Akan halnya wartawan senior "Kompas," Valens Goa Doy," dari beliaulah saya belajar kebaikan sebuah hati. Mana mungkin bila seseorang sudah menyatakan mengundurkan diri, kemudian kembali ingin bergabung, kembali diterima. Itulah dia Valens Goa Doy.
Ketika terdengar wartawan senior Valens Goa Doy itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.30 Wita, Selasa 3 Mei 2005, saya berdoa semoga wartawan baik itu sudah hidup damai di alam sana.
Hubungan saya meski tidak lagi terjalin melalui dunia jurnalistik dengan Grup Kompas, tetapi hubungan itu terjalin melalui penulisan buku. Terakhir saya menerbitkan buku sebagai editor buku: "Catatan BM Diah," yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, tahun 2018. Meski tidak terlihat peranan Penerbit Kompas, sesungguhnya kedua penerbitan ini bekerjasama.
Juga buku saya "Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supesemar" diterbitkan Grasindo dua kali, yaitu tahun 1998 dan diterbitkan lagi tahun 2008. Grasindo adalah PT. Gramedia Widiasarana Indonesia beralamat di Gedung Kompas Gramedia.
Menariknya yaitu ketika menulis buku: "Rais Abin, Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah 1976-1979" (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2012), waktu itu Pemimpin Umum Harian Kompas Jacob Oetama bersedia menulis "Sekapur Sirih," dalam buku tersebut.
Lebih menarik lagi pada hari Kamis, 26 Juli 2012, saya diajak Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian "Kompas" Dr (HC) Jakob Oetama. Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini bersenda gurau di lantai VI Harian "Kompas." Usia Jakob Oetama, tidak begitu jauh terpaut dengan Rais Abin karena beliau lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931.
Jakob Oetama sangat konsisten dengan tugasnya sebagai wartawan. Waktu itu ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Seorang rekan pernah membisiki saya, apakah benar atau tidak informasi itu bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko? Memang benar tawaran tersebut, tetapi Jakob Oetama menolak.
Pada waktu pembicaraan ini, Jakob Oetama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.
Kamis, 03 Oktober 2019
Selasa, 06 Agustus 2019
Ulama yang Memiliki Ilmu Itu Telah Wafat
Rembang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibu kotanya adalah Rembang. Kabupaten ini berbatasan dengan Teluk Rembang di utara, Kabupaten Tuban di timur, Kabupaten Blora di selatan, serta Kabupaten Pati di barat. Makam pahlawan pergerakan emansipasi wanita Indonesia, R. A. Kartini juga terketak di Rembang.
Selain R.A. Kartini, ada seorang Ulama Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Kiai Haji Maimun Zubari atau Mbah Moen. Ia baru saja meninggalkan kita, menghembuskan napas terakhir hari Selasa 8 Agustus 2019 pagi di Mekah, usia 90 tahun. "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"(Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156).
Kiai Haji Maimun Zubair, yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 selain seorang ulama, ia juga adalah seorang politikus Indonesia. Ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga wafat. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhir masa tugasnya, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tetapi rupanya tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia pernah diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah.
Kiai Haji Maimun Zubair selain seorang yang beriman, ia juga adalah seorang berilmu. Sesuai janji Allah, akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang yang hanya sekadar beriman tapi tanpa ilmu. Karena dengan ilmu, orang yang lebih mudah memahami dan menguatkan iman. Sementara orang yang hanya beriman akan sangat mudah goyah jika tanpa disertai dengan berbagai ilmu tentang agama.
Tak hanya itu, ilmu juga ternyata lebih berharga dibandingkan harta. Bagi para pencari ilmu, ilmu akan membawanya selalu di jalan Allah ta’ala dan menemaninya ketika di dunia sampai dihantarkannya ke dalam kubur serta membawanya kepada tempat yang dirindukan yaitu surga. Ilmu juga akan membawa banyak kemuliaan bagi yang memilikinya.
Berbicara mengenai mencari ilmu ini, saya teringat akan berita "Radar Malang," yang memuat laporan tentang sebuah kelompok bernama Arkamaya, Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang yang meneliti tokoh pers nasional. Foto di atas adalah para mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang tersebut yang ingin mendapatkan informasi dari saya tentang isi buku yang saya tulis: "Butir-Butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya? Inilah kutipan lengkap dari harian Radar Malang :
21 April 2018 9:42 am
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya?
Gemerlap lampu di ruangan Galeri Raos, Kota Batu, itu memberi efek menarik pada lukisan-lukisan wajah yang menempel di dinding. Bagi sebagian orang, wajah-wajah di sana boleh jadi tak asing, karena mereka adalah para tokoh pers nasional. Ada Tjokroaminoto, Burhanudin Muhammad Diah, Herawati Diah, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, P.K. Ojong, hingga Jakob Oetama.
Sejumlah buku biografi sang tokoh, juga fotokopi koran jadul juga ikut dipajang. Sebagian besar dokumen yang dipamerkan merupakan hasil hunting tujuh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk tugas mata kuliah skripsi dengan metode baru yang diuji coba, yakni performance research. Metode ini dipilih karena bisa seolah-olah menghadirkan kembali pemikiran dan perjuangan tokoh pers tersebut.
Nah, tergabung dalam kelompok Arkamaya, mereka memamerkan hasil hunting di Galeri Raos, Kota Batu. Ketujuh mahasiswa tersebut adalah Zuyyina Afwa, Azkiyah Mu’allimah, Denia Purnamayanti, Akmal Jati Pratomo, Bima Sindu Kentana, Singgih Pakusalaow, dan Putra Perdana.
Salah satu fokus perburuan Arkamaya di Jakarta adalah mencari keluarga pasangan suami istri Burhanuddin Muhammad (B.M.) Diah dan Herawati Diah. ”Jadi, kami langsung bertemu dengan anaknya yang terakhir, Nurman Diah,” kata Zuyyina Afwa saat ditemui Jawa Pos Radar Batu.
Mulanya, dia bersama Denia Purnamayanti tidak banyak mengetahui sosok B.M. Diah dan Herawati Diah, dua tokoh yang akan ditelitinya. Sebab, tidak banyak literatur yang mencantumkan kisah pasangan suami istri (pasutri) ini. Namun, menjadi sangat spesial saat mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB ini mendapatkan cerita langsung dari anak sang tokoh tentang perjuangan kedua orang tuanya.
Sambil duduk di kursi besi Galeri Raos, kedua mahasiswa ini saling berpandangan. Tatapannya seolah saling menggali kenangan masing-masing selama mbambung di Jakarta. ”Apa ya rasanya? Kebetulan saja bisa bertemu anaknya langsung, soalnya kami ke sana itu awalnya seperti orang tanpa tujuan,” ungkap Yiyin, panggilan akrab Zuyyina Afwa.
Mahasiswi ini menceritakan bagaimana kesan ketika bertemu Nurman. Salah satunya ialah ketika B.M. Diah ikut hadir langsung saat naskah proklamasi dirumuskan. Tak hanya itu, Nurman sendiri mengakui jika ayahnya juga yang menyelamatkan teks asli proklamasi yang ditulis tangan Sukarno. Sebab, teks proklamasi kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik. Tulisan tangan otentik Soekarno pun sempat dibuang ke tempat sampah. ”Naskah proklamasinya, kata Pak Nurman, ditulis tangan Bung Karno itu sempat diremas lalu dibuang setelah Sayuti Melik mengetik naskah asli proklamasi,” tutur mahasiswi 23 tahun asal Jombang ini.
Setelah menceritakan tentang B.M. Diah, giliran Denia yang membeber ingatannya. Dia menceritakan bagaimana istri tokoh tersebut, Herawati Diah, turut mendukung B.M. Diah agar mengambil naskah asli yang dibuang itu untuk dirapikan lalu disimpakan ke dalam catatan yang biasa dibawa B.M. Diah. Meski begitu, pendiri koran Merdeka ini bisa dibilang tak cukup beruntung. Sebab, B.M. Diah tak sempat menyaksikan langsung pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Cerita inilah yang masuk dalam ingatan kedua mahasiswi manis tersebut, mendengarkan langsung dari Nurman Diah. Termasuk peran B.M. Diah di Lapangan Ikada, tempat yang semula direncanakan untuk pembacaan proklamasi. B.M. Diah dan rekan-rekannya pun menyebarkan berita proklamasi dengan mencetak surat kabar, selebaran, serta menyebarkannya ke pelosok Indonesia. ”Ceritanya itu saja sih, tapi pas mau ketemunya itu agak capek,” kata Yiyin.
Saat itu, Yiyin bersama kawan-kawannya tidak tahu harus menemui siapa lagi selain Dasman Djamaludin, penulis biografi B.M. Diah. Dia bisa menghubungi Dasman pun melalui email yang tertera di buku berjudul Butir-Butir Padi.
Setelah melakukan janji bertemu Dasman pada 20 Februari lalu, Yiyin dan teman-temannya jadi tak punya tujuan lain. Sebab, pada 14 Februari mereka sudah sampai di Jakarta. Mereka tak ingin banyak waktu yang terbuang sia-sia. Mereka pun memutuskan main ke kantor Tempo.
Kedatangannya ke kantor Tempo pun terbilang nekat. Bagaimana tidak, Yiyin mencoba bertemu dengan Debra Yatim, editor Tempo English. Untungnya kenekatannya membuahkan hasil. ”Daripada kami bingung, udah ngawur aja. Pengen ke sana mau nyari penulis biografinya Herawati Diah,” terang perempuan bekerudung ini.
Sesampainya di sana, mereka berhasil menemui Debra dan meminta akses untuk bertemu dengan beberapa orang sekitar B.M. Diah maupun Herawati. Usahanya pun berhasi. Dia dan kawan-kawannya bertemu dengan Karim Paputungan, mantan redaktur pelaksana koran Merdeka. Ketidakjelasannya selama seminggu di Jakarta itu seolah mendapatkan titik terang. ”Melelahkan sekali, tapi kami jadi tahu kalau masih capek jadi peran-peran jurnalis zaman dulu,” sambung Denia.
Setelah melakukan perjalanan fisik dan batin ini, tim Arkayama bisa menghargai sebuah informasi dan tidak mudah termakan berita yang belum jelas sumbernya. ”Pokoknya kami jadi harus berhati-hati sekali kalau baca berita biar nggak mudah ikut-ikutan opini orang,” pungkas Yiyin.
Ilmu dan Iman harus sejalan. Bukankah untuk mencari ilmu yang bermanfaat bagi sesama, ada ungkapan "Carilah ilmu hingga ke negeri China?. "
Selain R.A. Kartini, ada seorang Ulama Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Kiai Haji Maimun Zubari atau Mbah Moen. Ia baru saja meninggalkan kita, menghembuskan napas terakhir hari Selasa 8 Agustus 2019 pagi di Mekah, usia 90 tahun. "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"(Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156).
Kiai Haji Maimun Zubair, yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 selain seorang ulama, ia juga adalah seorang politikus Indonesia. Ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga wafat. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhir masa tugasnya, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tetapi rupanya tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia pernah diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah.
Kiai Haji Maimun Zubair selain seorang yang beriman, ia juga adalah seorang berilmu. Sesuai janji Allah, akan mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang yang hanya sekadar beriman tapi tanpa ilmu. Karena dengan ilmu, orang yang lebih mudah memahami dan menguatkan iman. Sementara orang yang hanya beriman akan sangat mudah goyah jika tanpa disertai dengan berbagai ilmu tentang agama.
Tak hanya itu, ilmu juga ternyata lebih berharga dibandingkan harta. Bagi para pencari ilmu, ilmu akan membawanya selalu di jalan Allah ta’ala dan menemaninya ketika di dunia sampai dihantarkannya ke dalam kubur serta membawanya kepada tempat yang dirindukan yaitu surga. Ilmu juga akan membawa banyak kemuliaan bagi yang memilikinya.
Berbicara mengenai mencari ilmu ini, saya teringat akan berita "Radar Malang," yang memuat laporan tentang sebuah kelompok bernama Arkamaya, Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang yang meneliti tokoh pers nasional. Foto di atas adalah para mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang tersebut yang ingin mendapatkan informasi dari saya tentang isi buku yang saya tulis: "Butir-Butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992).
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya? Inilah kutipan lengkap dari harian Radar Malang :
21 April 2018 9:42 am
Demi menyelesaikan tugas skripsi, para mahasiswa ini nekat ke Jakarta. Mereka berusaha bertemu sumber otentik, yakni keluarga sejumlah tokoh pers nasional. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan anak Burhanuddin Muhammad Diah, penyelamat naskah proklamasi yang dibuat Soekarno-Hatta. Seperti apa ceritanya?
Gemerlap lampu di ruangan Galeri Raos, Kota Batu, itu memberi efek menarik pada lukisan-lukisan wajah yang menempel di dinding. Bagi sebagian orang, wajah-wajah di sana boleh jadi tak asing, karena mereka adalah para tokoh pers nasional. Ada Tjokroaminoto, Burhanudin Muhammad Diah, Herawati Diah, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, P.K. Ojong, hingga Jakob Oetama.
Sejumlah buku biografi sang tokoh, juga fotokopi koran jadul juga ikut dipajang. Sebagian besar dokumen yang dipamerkan merupakan hasil hunting tujuh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk tugas mata kuliah skripsi dengan metode baru yang diuji coba, yakni performance research. Metode ini dipilih karena bisa seolah-olah menghadirkan kembali pemikiran dan perjuangan tokoh pers tersebut.
Nah, tergabung dalam kelompok Arkamaya, mereka memamerkan hasil hunting di Galeri Raos, Kota Batu. Ketujuh mahasiswa tersebut adalah Zuyyina Afwa, Azkiyah Mu’allimah, Denia Purnamayanti, Akmal Jati Pratomo, Bima Sindu Kentana, Singgih Pakusalaow, dan Putra Perdana.
Salah satu fokus perburuan Arkamaya di Jakarta adalah mencari keluarga pasangan suami istri Burhanuddin Muhammad (B.M.) Diah dan Herawati Diah. ”Jadi, kami langsung bertemu dengan anaknya yang terakhir, Nurman Diah,” kata Zuyyina Afwa saat ditemui Jawa Pos Radar Batu.
Mulanya, dia bersama Denia Purnamayanti tidak banyak mengetahui sosok B.M. Diah dan Herawati Diah, dua tokoh yang akan ditelitinya. Sebab, tidak banyak literatur yang mencantumkan kisah pasangan suami istri (pasutri) ini. Namun, menjadi sangat spesial saat mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB ini mendapatkan cerita langsung dari anak sang tokoh tentang perjuangan kedua orang tuanya.
Sambil duduk di kursi besi Galeri Raos, kedua mahasiswa ini saling berpandangan. Tatapannya seolah saling menggali kenangan masing-masing selama mbambung di Jakarta. ”Apa ya rasanya? Kebetulan saja bisa bertemu anaknya langsung, soalnya kami ke sana itu awalnya seperti orang tanpa tujuan,” ungkap Yiyin, panggilan akrab Zuyyina Afwa.
Mahasiswi ini menceritakan bagaimana kesan ketika bertemu Nurman. Salah satunya ialah ketika B.M. Diah ikut hadir langsung saat naskah proklamasi dirumuskan. Tak hanya itu, Nurman sendiri mengakui jika ayahnya juga yang menyelamatkan teks asli proklamasi yang ditulis tangan Sukarno. Sebab, teks proklamasi kemudian diketik ulang oleh Sayuti Melik. Tulisan tangan otentik Soekarno pun sempat dibuang ke tempat sampah. ”Naskah proklamasinya, kata Pak Nurman, ditulis tangan Bung Karno itu sempat diremas lalu dibuang setelah Sayuti Melik mengetik naskah asli proklamasi,” tutur mahasiswi 23 tahun asal Jombang ini.
Setelah menceritakan tentang B.M. Diah, giliran Denia yang membeber ingatannya. Dia menceritakan bagaimana istri tokoh tersebut, Herawati Diah, turut mendukung B.M. Diah agar mengambil naskah asli yang dibuang itu untuk dirapikan lalu disimpakan ke dalam catatan yang biasa dibawa B.M. Diah. Meski begitu, pendiri koran Merdeka ini bisa dibilang tak cukup beruntung. Sebab, B.M. Diah tak sempat menyaksikan langsung pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Cerita inilah yang masuk dalam ingatan kedua mahasiswi manis tersebut, mendengarkan langsung dari Nurman Diah. Termasuk peran B.M. Diah di Lapangan Ikada, tempat yang semula direncanakan untuk pembacaan proklamasi. B.M. Diah dan rekan-rekannya pun menyebarkan berita proklamasi dengan mencetak surat kabar, selebaran, serta menyebarkannya ke pelosok Indonesia. ”Ceritanya itu saja sih, tapi pas mau ketemunya itu agak capek,” kata Yiyin.
Saat itu, Yiyin bersama kawan-kawannya tidak tahu harus menemui siapa lagi selain Dasman Djamaludin, penulis biografi B.M. Diah. Dia bisa menghubungi Dasman pun melalui email yang tertera di buku berjudul Butir-Butir Padi.
Setelah melakukan janji bertemu Dasman pada 20 Februari lalu, Yiyin dan teman-temannya jadi tak punya tujuan lain. Sebab, pada 14 Februari mereka sudah sampai di Jakarta. Mereka tak ingin banyak waktu yang terbuang sia-sia. Mereka pun memutuskan main ke kantor Tempo.
Kedatangannya ke kantor Tempo pun terbilang nekat. Bagaimana tidak, Yiyin mencoba bertemu dengan Debra Yatim, editor Tempo English. Untungnya kenekatannya membuahkan hasil. ”Daripada kami bingung, udah ngawur aja. Pengen ke sana mau nyari penulis biografinya Herawati Diah,” terang perempuan bekerudung ini.
Sesampainya di sana, mereka berhasil menemui Debra dan meminta akses untuk bertemu dengan beberapa orang sekitar B.M. Diah maupun Herawati. Usahanya pun berhasi. Dia dan kawan-kawannya bertemu dengan Karim Paputungan, mantan redaktur pelaksana koran Merdeka. Ketidakjelasannya selama seminggu di Jakarta itu seolah mendapatkan titik terang. ”Melelahkan sekali, tapi kami jadi tahu kalau masih capek jadi peran-peran jurnalis zaman dulu,” sambung Denia.
Setelah melakukan perjalanan fisik dan batin ini, tim Arkayama bisa menghargai sebuah informasi dan tidak mudah termakan berita yang belum jelas sumbernya. ”Pokoknya kami jadi harus berhati-hati sekali kalau baca berita biar nggak mudah ikut-ikutan opini orang,” pungkas Yiyin.
Ilmu dan Iman harus sejalan. Bukankah untuk mencari ilmu yang bermanfaat bagi sesama, ada ungkapan "Carilah ilmu hingga ke negeri China?. "
Jumat, 05 Juli 2019
Kamis, 16 Mei 2019
Hari Nakba 15 Mai 2019 Awal Penderitaan Bangsa Palestina
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membagi wilayah Palestina dengan tidak adil. Mengapa tidak adil? Penduduk Yahudi yang waktu itu masih sedikit sekali, karena dulunya tidak memiliki tanah air, setelah dibantu merdeka oleh Amerika Serikat , Uni Soviet (sekarang Rusia) dan negara lainnya, berdirilah negara Israel di wilayah Palestina, bahkan diberi bagian oleh PBB lebih besar. Inilah yang dikatakan tidak adil itu.
Sejak ini yang menjadi pengungsi adalah penduduk Palestina hingga hari ini. Jumlah pasti para pengungsi sampai hari ini masih menjadi bahan perdebatan, namun diperkirakan 80 persen warga Arab di wilayah yang kelak menjadi Israel (50 persen dari seluruh warga Arab di Mandat Palestina) terusir. Istilah "nakba" itu sendiri juga merujuk pada periode perang itu sendiri dan kejadian-kejadian yang menimpa warga Palestina dari bulan Desember 1947 hingga Januari 1949.
Latar belakang terjadinya eksodus juga menjadi titik ketidaksepakatan yang mendasar antara warga Arab dan Israel. Faktor-faktor itu antara lain adalah majunya laskar-laskar militer Yahudi, penyerangan dan agresi militer terhadap desa-desa Arab dan ketakutan akan terjadinya pembunuhan massal lain setelah pembunuhan massal Deir Yassin yang menciptakan kepanikan di antara warga sipil; perintah evakuasi atas warga Arab; perintah pengusiran dari otoritas Israel; eksodus sukarela oleh warga kelas atas yang lebih makmur, kegoyahan pucuk kepemimpinan Palestina, dan ketidakrelaan untuk hidup di bawah kendali Israel.
Setelah itu, serangkaian hukum diterapkan oleh pemerintah Israel untuk mencegah warga Arab pulang ke tanah dan rumah mereka, atau mengklaim harta benda yang mereka tinggalkan. Mereka dan keturunan mereka menjadi kaum pengungsi. Peristiwa ini disebut-sebut oleh para sejarawan sebagai suatu tindakan pembersihan etnis, walaupun sebagian lain meragukan istilah ini.
Kejelasan status para pengungsi dan terutama apakah Israel akan memberikan mereka harta benda yang diklaim sebagai bagian dari hak untuk pulang, adalah salah satu isu utama yang terus diperdebatkan dalam konflik Israel-Palestina yang tengah berlangsung. Peristiwa pada tahun 1948 diperingati oleh rakyat Palestina pada tanggal 15 Mei dengan nama Hari Nakba.
Lihatlah wilayah Palestina sekarang. Sudah sebagian besar diambil oleh Israel. Itulah nasib bangsa Palestina yang sekarang terbalik menjadi pengungsi ke berbagai negara. Saya pernah menulis di halaman ini tentang nasib pengungsi Palestina yang melarikan diri ke Libanon. Sudah tiga generasi ia hidup di kamp pengungsian Libanon.
Waktu itu, saya membaca tulisan wartawan "Al Jazeera INews," Farah Najjar. Cerita mengharukan dari Kamp Pengungsian Palestina di Libanon, yang jika kita lihat di peta, wilayah ini berbatasan dengan Israel dan Palestina, juga dengan Suriah.
Sudah tentu cerita ini diungkap masih ada kaitan dengan 71 tahun bangsa Palestina terusir dari wilayahnya sendiri oleh kaum zionis Yahudi yang memerdekakan dirinya tahun 1948. Sebaliknya inilah yang dialami bangsa Palestina, "terusir," dari tanah airnya sendiri yang populer dengan istilah "Nakba."
Terusirnya warga Palestina dari wilayahnya sejak tahun 1947-1949 sekitar 78 persen penduduk Palestina yang ada waktu itu. Sekitar 530 rumah warga Palestina dihancurkan pasukan Israel. Waktu itu lebih dari 100.000 bangsa Palestina mengungsi ke berbagai negara tetangganya, termasuk ke Libanon, sebuah wilayah perbatasan yang cepat dijangkau.
Zahiya Dgheim, perempuan tua yang sekarang berusia 90 tahun itu, meski terlihat sehat dan kini memiliki anak cucu itu, hidup bersama suaminya memilih Libanon sebagai tempat pengungsian. Ia memilih satu di antara beberapa tempat pengungsian yang disediakan oleh pemerintah Lebanon, yaitu di Burj Barajneb, kamp pengungsi yang terletak di sebelah selatan ibukota Lebanon, Beirut. Sekarang sudah tiga generasi ia hidup di pengungsian Palestina.
Indonesia sejak awal selalu mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk merdeka. Sejak Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno hingga Presiden Joko Widodo. Duta Besar Palestina untuk Indonesia sudah bermarkas di Jakarta semasa pemerintahan Presiden Soeharto.
Kedutaan Besar Palestina di Jakarta itu di dalam Hukum Internasional baru sebatas "de facto," belum secara "de jure." Biasanya sebuah negara memiliki kedutaan di sebuah negara harus sudah diakui negara lain secara "de facto" dan "de jure." Palestina belum secara "de jure."
Pengalaman menarik yang saya alami mengenai asal usul adanya Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, itu terjadi di masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Saya sebagai Redaktur Pelaksana Majalah "Topik," (Grup Merdeka pimpinan Burhanudin Mohamad Diah/ B.M.Diah) sering diundang ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Waktu itu Menteri Luar Negeri RI Mochtar Kusumaatmadja mengatakan prosesnya sangat rumit dan pelik. Yasser Arafat yang berkunjung kepada Presiden Soeharto mendesak agar di Jakarta berdiri Kedutaan Besar Palestina. Itu pun disertai tangan Yasser Arafat sambil menegang pistol kecilnya di pinggang. Sebuah cerita keberanian seorang Yasser Arafat yang juga waktu itu disebut Presiden Palestina.
Jumat, 29 Maret 2019
Membantah Opini A.M. Hendropriyono
TVOne pukul 17.30 WIB, hari Jumat, 29 Maret 2019, sangat menarik. Mahfud MD dan Hidayat Nur Wahid tentang asumsi AM Hendropriyono, bahwa yang sekarang terjadi pertarungan Jokowi dan Prabowo adalah antara Pancasila dan Khilafah. Kedua tokoh itu menjelaskan, asumsi Hendropriyono sah-sah saja. Tetapi yang jelas, kedua pihak sudah jadi calon Presiden RI. Syaratnya sudah tentu Pancasilais dan setia kepada UUD '45. Ditambahkan di pihak Jokowi ada juga pihak yang mendompreng dari unsur PKI dan dari Prabowo ada yang mendirikan khilafah. Tetapi baik Jokowi dan Prabowo tidak terpengaruh dengan hal itu. Yang jelas kedua Capres kita kali ini Pancasilais dan sangat setia kepada UUD '45. (Foto kenangan saya di sebelah kiri Hidayat Nur Wahid memakai baju biru)
Rabu, 23 Januari 2019
Ya Allah, Sembuhkanlah Teman Seperjuangan Kami, Khaimuddien M Achmad
Tadi malam, saya dikirimi oleh Robby sebuah foto mantan Ketua Umum HMI Cabang Jayapura periode 1977-1978. Mengapa saya ingat? Karena Ketua Umumnya waktu itu adalah Khaimuddien M Achmad dan Sekretaris Umum Achmad Kastella, sementara saya sebagai Sekretaris I HMI Cabang Jayapura. Berikutnya saya dan Thaha al-Hamid mendirikan Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) HMI Cabang Jayapura. Saya dipercaya sebagai Ketua Umum dan Thaha al-Hamid sebagai Sekretaris Umum periode 1978-1979 dan 1979-1980.
Saya memang sengaja tidak meng up load foto Khaimuddien terakhir. Saya lama sekali memandang foto itu. Wajahnya cekung dan kurus. Saya melihat foto itu terharu. Jika saya bandingkan dengan kedua foto di atas, ia gagah dan penuh ide-ide untuk pengembangan HMI di bumi Cenderawasih.
Pagi ini saya mengajak para aktivis HMI Cabang Jayapura, baik yang sangat kenal dengan beliau maupun generasi baru HMI Cabang Jayapura berdoa akan kesembuhan beliau. Aamiin Ya Rabbal'alamin
Saya memang sengaja tidak meng up load foto Khaimuddien terakhir. Saya lama sekali memandang foto itu. Wajahnya cekung dan kurus. Saya melihat foto itu terharu. Jika saya bandingkan dengan kedua foto di atas, ia gagah dan penuh ide-ide untuk pengembangan HMI di bumi Cenderawasih.
Pagi ini saya mengajak para aktivis HMI Cabang Jayapura, baik yang sangat kenal dengan beliau maupun generasi baru HMI Cabang Jayapura berdoa akan kesembuhan beliau. Aamiin Ya Rabbal'alamin
Jumat, 11 Januari 2019
Thaha al-Hamid yang Baik
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Malam menjelang pagi ini, saya mencoba coret-coretan kepada Anda. Sudah tentu, secara pribadi kita pernah memiliki kenangan di Papua, ketika saya dipercaya menjadi Ketua Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura.
Saya sebelumnya sangat gembira bahwa Anda memiliki buku saya: "Saddam Hussein Menghalau Tantangan (Jakarta: PT. Penebar Swadaya, 1998). Saya juga senang, Anda sangat kenal dengan Aristides Katoppo yang sewaktu bulan puasa tahun lalu, saya diundang berbuka puasa di rumah beliau.
Thaha, apa kaitan buku Saddam Hussein dengan dengan Aristides Katoppo? Kaitannya sangat erat, karena Aristides Katoppo ketika menerbitkan buku saya Saddam Hussein tidak dapat saya lupakan, gembira sekaligus sedih.
Buku Saddam Hussein yang di tangan Anda, tidak sebaik buku para pemimpin dunia lainnya. Edisi lux dan foto sangat cemerlang dan jelas.
Saya mengenal dekat Aristides Katoppo sejak 1991/1992.
Ia penyumbang tulisan di buku yang saya susun "B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" (Jakarta: Pustaka Merdeka 1992). Kemudian tahun 1994, saya menerbitkan buku: "Gunawan Satari, Pejuang, Pendidik dan Ilmuwan (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994). Aristides Katoppo waktu itu adalah penentu di penerbitan tersebut.
Buku biografi Prof. Dr. Ir. Gunawan Satari ini saya bawa ke Kedutaan Besar Irak di Jakarta. Duta Besar Sa"doon J. al-Zubaydi, yang dulunya penterjemah Presiden Irak Saddam Hussein, karena ia lulusan bahasa Inggris di Universitas Cambridge, setuju dengan ide saya menerbitkan buku di Pustaka Sinar Harapan. Tetapi apa yang terjadi? Keinginan duta besar tidak sesuai dengan harapannya. Kalau masalah dana tidak mungkin kurang. Tetapi buku Saddam Hussein jauh dari harapan seorang Duta Besar Irak di Jakarta yang awalnya ingin seperti buku saya Prof.Dr. Gunawan Satari, minimal. Maksimalnya seperti buku para pemimpin dunia umumnya. Sebuah cerita menggembirakan buat saya, sekaligus menyedihkan.
Malam menjelang pagi ini, saya mencoba coret-coretan kepada Anda. Sudah tentu, secara pribadi kita pernah memiliki kenangan di Papua, ketika saya dipercaya menjadi Ketua Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura.
Saya sebelumnya sangat gembira bahwa Anda memiliki buku saya: "Saddam Hussein Menghalau Tantangan (Jakarta: PT. Penebar Swadaya, 1998). Saya juga senang, Anda sangat kenal dengan Aristides Katoppo yang sewaktu bulan puasa tahun lalu, saya diundang berbuka puasa di rumah beliau.
Thaha, apa kaitan buku Saddam Hussein dengan dengan Aristides Katoppo? Kaitannya sangat erat, karena Aristides Katoppo ketika menerbitkan buku saya Saddam Hussein tidak dapat saya lupakan, gembira sekaligus sedih.
Buku Saddam Hussein yang di tangan Anda, tidak sebaik buku para pemimpin dunia lainnya. Edisi lux dan foto sangat cemerlang dan jelas.
Saya mengenal dekat Aristides Katoppo sejak 1991/1992.
Ia penyumbang tulisan di buku yang saya susun "B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman" (Jakarta: Pustaka Merdeka 1992). Kemudian tahun 1994, saya menerbitkan buku: "Gunawan Satari, Pejuang, Pendidik dan Ilmuwan (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994). Aristides Katoppo waktu itu adalah penentu di penerbitan tersebut.
Buku biografi Prof. Dr. Ir. Gunawan Satari ini saya bawa ke Kedutaan Besar Irak di Jakarta. Duta Besar Sa"doon J. al-Zubaydi, yang dulunya penterjemah Presiden Irak Saddam Hussein, karena ia lulusan bahasa Inggris di Universitas Cambridge, setuju dengan ide saya menerbitkan buku di Pustaka Sinar Harapan. Tetapi apa yang terjadi? Keinginan duta besar tidak sesuai dengan harapannya. Kalau masalah dana tidak mungkin kurang. Tetapi buku Saddam Hussein jauh dari harapan seorang Duta Besar Irak di Jakarta yang awalnya ingin seperti buku saya Prof.Dr. Gunawan Satari, minimal. Maksimalnya seperti buku para pemimpin dunia umumnya. Sebuah cerita menggembirakan buat saya, sekaligus menyedihkan.
Langganan:
Postingan (Atom)



















