Sabtu, 06 Oktober 2018
Ratna Sarumpaet dan Nayirah, Dua Perempuan yang Mampu Mengubah Opini Umum
Ratna Sarumpaet, berusia 70 tahun, berkebangsaan Indonesia dan Nayirah, yang pada tahun 1990 berusia 19 tahun, putei Sheikh Saud Nasser al-Saud al-Sabah, Duta Besar Kuwait untuk Amerika Serikat (AS), adalah dua perempuan yang mampu mengubah opini umum di negaranya masing-masing. Kedua-duanya pada saat bersamaan adalah pemain teater. Ratna Sarumpaet berguru kepada WS Rendra, sedangkan Nayirah sudah bekajar akting di Hill Knowlton.
Wajah dua perempuan ini sekarang terpampang di berbagai internet untuk menyatakan kepada dunia bahwa keduanya pembohong.
Ratna Sarumpaet dari Indonesia dianggap berbohong, karena wajahnya yang lebam setelah dipukul atau dianiaya, ternyata wajah yang lebam itu adalah dampak dari operasi wajah yang dilakukannya. Sebagai salah seorang team kampanye salah seorang calon presiden, yaitu Prabowo Subianto, sudah tentu berpengaruh kepada ucapan berbohong yang dilakukannya. Dua kali Prabowo membuat pernyataan di layar televisi. Pertama, ketika ia akan membela Ratna Sarumpaet karena dipukul. Kedua, Prabowo meminta maaf, dan memberitahukan bahwa Ratna Sarumpaet berbohong dan telah dipecatnya dari team kampanye. Peristiwa ini masih bergulir dan sudah diproses oleh pihak Kepolisian RI.
Di Kuwait, ketika pasukan Irak masuk ke Kuwait, seluruh informasi, termasuk tentang Nayirah yang berbohong sudah saya dengar dari Menteri Perindustrian dan Perlogaman Irak, Amir al-Saadi di tahun 1992 ketika saya untuk pertama kalinya berada di Irak. Kedua, saya ke Irak tahun 2014. Oleh karena itu, apa yang diberitakan berbagai media nasional maupun internasional, tentang Nayirah itu benar.
Berkat pengakuannya dalam pidatonya di ABC's Nightline dan NBC Nightly News pada 10 Oktober 1990 yang menangis saat berbicara tentang kejahatan yang dilakukan tentara Irak di Kuwait, dunia bersimpati dan marah kepada Irak. Dalam pengakuannya, ia mengatakan menyaksikan pembunuhan lebih dari 300 bayi di rumah sakit di Kuwait. Dunia bersimpati, sehingga banyak negara ikut membantu AS mengusir Irak dari Kuwait. Irak tersudut karena informasi bohong dari Nayirah.
Setelah Irak hancur diserang oleh AS dan sekutunya terungkap bahwa pernyataan Nayirah itu bohong. Ternyata pimpinan di mana Nayirah belajar akting menandatangani kontrak 111 miliar dollar AS dengan keluarga Kerajaan Kuwait. Tugas yang diberikan memang sederhana, agar Nayirah harus bisa berakting membujuk militer AS untuk mengambil tindakan terhadap Irak dengan uraian air mata Nayirah, meski berbohong.
Jumat, 31 Agustus 2018
Jadilah Menjadi Diri Sendiri
Membaca judul di atas seperti terkesan bahwa kita sudah mengetahuinya. Kita memiliki identitas sendiri dan berprilaku sesuai dengan apa yang kita kehendaki.
Itu benar. Tetapi judul itu lebih menekankan kepada diri kita agar tidak menjadi pribadi ke mana arah mata angin berputar.
"If you would go high, use your own legs. Do not let yourselves be carried up, do not sit on the backs and heads of others."
Kalau kau ingin menjulang tinggi, gunakan kakimu sendiri. Jangan biarkan dirimu dijunjung orang; jangan kau duduk di atas punggung dan kepala orang-orang lain.
Kalimat ini saya kutip dari buku: "Berkenalan dengan Eksistensialisme," tulisan Prof. Dr. Fuad Hassan, diterbitkan Pustaka Jaya, Cetakan ketiga, 1983, halaman 51.
Buku ini bacaan saya ketika kuliah di Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat Universitas Indonesia, Tahun Akademik, 1986/1987. Waktu ini seangkatan dengan Rocky Gerung dan Gadis Arivia.
Ungkapan Friedrich Wihelm Nietzsche, filosof asal Prusia ini menjelaskan kepada kita, bahwa pembonceng dalam gerak mencapai ketinggian adalah pemalsu-pemalsu serta penipu-penipu, lebih-lebih terhadap dirinya sendiri.
Kenapa demikian ? Karena mereka ini tidak akan mampu menikmati ketinggian yang telah dicapainya, karena mereka tahu karena ketinggian yang telah dicapainya itu bukanlah ikhtiarnya sendiri dan oleh karenanya semu belaka; sekali waktu-pada waktunya-orang-orang demikian itu akan terpelanting dari ketinggian-ketinggian yang tidak dicapai atas kemampuannya sendiri itu. Mereka diibaratkan oleh Nietzshe sebagai orang-orang lumpuh yang menunggang kuda untuk mencapai tujuannya; mereka memacu kudanya agar secepat mungkin sampai ke tempat tujuan. Baiklah, kata Nietzshe,
"But your lame foot is sitting on the horse too. When you reach your goal, when your jump off your horse-on your very height ..
you will stumble."
Tetapi kakinya yang lumpuh itu ada di atas kuda. Kalau telah kau capai tempat tujuan, ketika kau melompat dari kudamu-dari ketinggian kamu itu...engkau akan terpelanting.
Itu benar. Tetapi judul itu lebih menekankan kepada diri kita agar tidak menjadi pribadi ke mana arah mata angin berputar.
"If you would go high, use your own legs. Do not let yourselves be carried up, do not sit on the backs and heads of others."
Kalau kau ingin menjulang tinggi, gunakan kakimu sendiri. Jangan biarkan dirimu dijunjung orang; jangan kau duduk di atas punggung dan kepala orang-orang lain.
Kalimat ini saya kutip dari buku: "Berkenalan dengan Eksistensialisme," tulisan Prof. Dr. Fuad Hassan, diterbitkan Pustaka Jaya, Cetakan ketiga, 1983, halaman 51.
Buku ini bacaan saya ketika kuliah di Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat Universitas Indonesia, Tahun Akademik, 1986/1987. Waktu ini seangkatan dengan Rocky Gerung dan Gadis Arivia.
Ungkapan Friedrich Wihelm Nietzsche, filosof asal Prusia ini menjelaskan kepada kita, bahwa pembonceng dalam gerak mencapai ketinggian adalah pemalsu-pemalsu serta penipu-penipu, lebih-lebih terhadap dirinya sendiri.
Kenapa demikian ? Karena mereka ini tidak akan mampu menikmati ketinggian yang telah dicapainya, karena mereka tahu karena ketinggian yang telah dicapainya itu bukanlah ikhtiarnya sendiri dan oleh karenanya semu belaka; sekali waktu-pada waktunya-orang-orang demikian itu akan terpelanting dari ketinggian-ketinggian yang tidak dicapai atas kemampuannya sendiri itu. Mereka diibaratkan oleh Nietzshe sebagai orang-orang lumpuh yang menunggang kuda untuk mencapai tujuannya; mereka memacu kudanya agar secepat mungkin sampai ke tempat tujuan. Baiklah, kata Nietzshe,
"But your lame foot is sitting on the horse too. When you reach your goal, when your jump off your horse-on your very height ..
you will stumble."
Tetapi kakinya yang lumpuh itu ada di atas kuda. Kalau telah kau capai tempat tujuan, ketika kau melompat dari kudamu-dari ketinggian kamu itu...engkau akan terpelanting.
Jumat, 24 Agustus 2018
Sejak Dimakamkan di Papua Tahun 1990, Sang Isteri Berkunjung Menapaki Sisa-Sisa Kenangan
Tanggal 13 Maret 1990, Mantan Gubernur Integrasi Irian Barat (sekarang Papua) tahun 1963-1964, Eliezer Jan Bonay meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang isteri bernama Djuariah. Dari isteri ketiga ini, ia memiliki dua anak. Pertama, anak perempuan bernama Dian Sundariani Bonay (almarhumah) dan Riyanti Puspita Suriani Bonay.
Isteri ketiga Eliezer Jan Bonay ini dinikahi pada tanggal 1 Juli 1964 di Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Waktu itu Eliezer Jan Bonay sudah berstatus duda setelah menjadi mualaf.
Isteri pertama Eliezer Jan Bonay adalah Ana. Sudah meninggal dunia. Dari Ana diperoleh tiga anak. Pertama, Yuli Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Kedua, bernama Max Bonay, juga tinggal di Jayapura. Terakhir anak ketiga bernama Musa Bonay. Ia telah meninggal dunia.
Selanjutnya dari isteri kedua yang bernama Esther, juga sudah meninggal dunia, maka Eliezer Jan Bonay memiliki tujuh orang anak. Anak pertama bernama Heemskerche Bonay. Sekarang tinggal di Jayapura. Anak kedua bernama Dirk Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Anak ketiga bernama Akon Boney dan sudah meninggal dunia. Anak keempat, bernama Zacheus Bonay, sekarang tinggal di Serui. Anak kelima bernama Ruben Bonay, tinggal di Jayapura. Anak keenam yaitu Agus Bonay dan ketujuh, yaitu Afia Bonay. Kedua anak Eliezer Jan Bonay terakhir ini telah meninggal dunia.
Foto di atas sekali menunjukan kepada kita bahwa isteri ketiga, sekaligus isteri terakhir Eliezer Jan Bonay, yaitu Djuariah yang datang dari Bogor berziarah kembali ke makam suaminya itu di atas bukit Nundawipi, sebuah pulau kecil sebelah barat Kota Serui.
Di usianya yang ke-78 waktu itu, Djuariah sanggup mendaki bukit. Sekaligus menunjukan kesetiaan sejati seorang perempuan Sunda.
Kesetiaan yang ditunjukan isteri Eliezer Jan Bonay yang berasal dari orang Sunda, pernah juga ditunjukan Inggit kepada Bung Karno. Foto di bawah ini merupakan pertemuan ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI dengan mantan isterinya Inggit. Mengharukan, sekaligus membanggakan. Hingga akhir hayatnya, Inggit tetap memuja mantan suaminya itu. Cinta sejati dan penuh keikhlasan.
Suatu ketika Inggit pernah ditanya tentang hal-hal bersifat pribadi tentang seorang Soekarno. Inggit pun selalu melindungi. "Ah...itu pamali untuk dibicarakan," ujarnya. Soekarno menggambarkan sosok Inggit dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adams:" Inggit dan aku kawin di tahun 1923. Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari istriku yang masih gadis kepada istri lain yang selusin tahun lebih tua dari padaku...Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan itu sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri."
Isteri ketiga Eliezer Jan Bonay ini dinikahi pada tanggal 1 Juli 1964 di Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Waktu itu Eliezer Jan Bonay sudah berstatus duda setelah menjadi mualaf.
Isteri pertama Eliezer Jan Bonay adalah Ana. Sudah meninggal dunia. Dari Ana diperoleh tiga anak. Pertama, Yuli Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Kedua, bernama Max Bonay, juga tinggal di Jayapura. Terakhir anak ketiga bernama Musa Bonay. Ia telah meninggal dunia.
Selanjutnya dari isteri kedua yang bernama Esther, juga sudah meninggal dunia, maka Eliezer Jan Bonay memiliki tujuh orang anak. Anak pertama bernama Heemskerche Bonay. Sekarang tinggal di Jayapura. Anak kedua bernama Dirk Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Anak ketiga bernama Akon Boney dan sudah meninggal dunia. Anak keempat, bernama Zacheus Bonay, sekarang tinggal di Serui. Anak kelima bernama Ruben Bonay, tinggal di Jayapura. Anak keenam yaitu Agus Bonay dan ketujuh, yaitu Afia Bonay. Kedua anak Eliezer Jan Bonay terakhir ini telah meninggal dunia.
Foto di atas sekali menunjukan kepada kita bahwa isteri ketiga, sekaligus isteri terakhir Eliezer Jan Bonay, yaitu Djuariah yang datang dari Bogor berziarah kembali ke makam suaminya itu di atas bukit Nundawipi, sebuah pulau kecil sebelah barat Kota Serui.
Di usianya yang ke-78 waktu itu, Djuariah sanggup mendaki bukit. Sekaligus menunjukan kesetiaan sejati seorang perempuan Sunda.
Kesetiaan yang ditunjukan isteri Eliezer Jan Bonay yang berasal dari orang Sunda, pernah juga ditunjukan Inggit kepada Bung Karno. Foto di bawah ini merupakan pertemuan ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI dengan mantan isterinya Inggit. Mengharukan, sekaligus membanggakan. Hingga akhir hayatnya, Inggit tetap memuja mantan suaminya itu. Cinta sejati dan penuh keikhlasan.
Suatu ketika Inggit pernah ditanya tentang hal-hal bersifat pribadi tentang seorang Soekarno. Inggit pun selalu melindungi. "Ah...itu pamali untuk dibicarakan," ujarnya. Soekarno menggambarkan sosok Inggit dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adams:" Inggit dan aku kawin di tahun 1923. Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari istriku yang masih gadis kepada istri lain yang selusin tahun lebih tua dari padaku...Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan itu sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri."
Kamis, 09 Agustus 2018
Hari Veteran Nasional 10 Agustus 2018
Hari Veteran Nasional ini selalu diperingati untuk mengingatkan kembali peristiwa 10 Agustus 1949. Pada hari itu disepakati persetujuan gencatan senjata antara pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintahan Kerajaan Belanda yang berlaku tanggal dan hari itu, pukul 24.00. Namun, pertempuran TNI melawan tentara Kerajaan Belanda belum berakhir di hari itu, karena "Serangan Oemum" merebut kembali kota Solo yang dimulai sejak tanggal 10 Agustus 1949. Pukul 24.00 WIB semua pihak yang terlibat pertempuran menghentikannya.
Gencatan senjata antara TNI dengan tentara Kerajaan Belanda telah mengakhiri perjuangan panjang menegakan dan menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia, sehingga berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kokohnya. Hari bersejarah tanggal 10 Agustus 1949 itu kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Veteran Nasional (Foto dari berbagai sumber).
Sabtu, 28 Juli 2018
Apa Benar Yogyakarta Tidak Lagi Istimewa ?
Inilah salah satu foto yang saya ambil dari harian "Kompas." Seorang perempuan Yogyakarta yang sedang membonceng anaknya bersekolah sedang melewati tanah seluas 587, 3 hektar yang nantinya akan dibangun Bandara New Yogyakarta International Airport. Bandara yang akan dibangun tersebut terletak di desa Jangkaran, Sindutan, Palihan, Kebonrejo, dan Glagah di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Yogyakarta.
Inilah sketsa yang juga saya ambil dari harian "Kompas." Menunjukkan jika Bandara ini sudah jadi akan menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta.
Mengapa, saya menulis tentang hal ini ? Sebuah film dokumentasi yang dibuat seorang warga Blora, di tempat di mana saya tahun 1974 sekolah di SMA Neg. Blora, menayangkan situasi terkini tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada yang beranggapan, Yogyakarta akan hilang keistimewaannya, tidak lagi istimewa, karena Yogyakarta, situasinya telah berubah menjadi kota metropolitan. Ditunjukkan dalam film itu, ada beberapa bangunan bertingkat di Yogyakarta. Tetapi, yang saya garis bawahi, pendapat yang mengatakan Yogyakarta tetap menjadi Daerah Istimewa, meski di sekitar wilayah itu kini tengah dibangun seperti Bandara Internasional dan gedung bertingkat. Budaya menurut saya berbeda dengan bangunan fisik. Budaya Yogyakarta selama ini tidak berubah. Ini hal yang saya anggap, sangat penting.
Hal keistimewaan ini selalu disebut oleh Sultan Hamengku Buwono X ketika kami berkunjung ke Kraton Yogyakarta, di bulan Mei 2012. Kami yang saya maksud, adalah kami bertiga, saya, Freddy Ndolu dan seorang fotographer Agustinus James menemui Raja Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono di Kraton Yogyakarta.
Oleh karena itu, Yogyakarta sejak dipimpin ayahnya Sultan Hamengku Buwono X, yaitu Sultan Hamengku Buwono IX, sudah memperlihatkan kesetiaan sejak berdirinya republik ini.
Tanggal 5 September 1945, Sultan HB IX dengan persetujuan Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta mengeluarkan amanat, bahwa Yogyakarta berbentuk Kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari Republik Indonesia.
Inilah sketsa yang juga saya ambil dari harian "Kompas." Menunjukkan jika Bandara ini sudah jadi akan menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta.
Mengapa, saya menulis tentang hal ini ? Sebuah film dokumentasi yang dibuat seorang warga Blora, di tempat di mana saya tahun 1974 sekolah di SMA Neg. Blora, menayangkan situasi terkini tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada yang beranggapan, Yogyakarta akan hilang keistimewaannya, tidak lagi istimewa, karena Yogyakarta, situasinya telah berubah menjadi kota metropolitan. Ditunjukkan dalam film itu, ada beberapa bangunan bertingkat di Yogyakarta. Tetapi, yang saya garis bawahi, pendapat yang mengatakan Yogyakarta tetap menjadi Daerah Istimewa, meski di sekitar wilayah itu kini tengah dibangun seperti Bandara Internasional dan gedung bertingkat. Budaya menurut saya berbeda dengan bangunan fisik. Budaya Yogyakarta selama ini tidak berubah. Ini hal yang saya anggap, sangat penting.
Hal keistimewaan ini selalu disebut oleh Sultan Hamengku Buwono X ketika kami berkunjung ke Kraton Yogyakarta, di bulan Mei 2012. Kami yang saya maksud, adalah kami bertiga, saya, Freddy Ndolu dan seorang fotographer Agustinus James menemui Raja Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono di Kraton Yogyakarta.
Oleh karena itu, Yogyakarta sejak dipimpin ayahnya Sultan Hamengku Buwono X, yaitu Sultan Hamengku Buwono IX, sudah memperlihatkan kesetiaan sejak berdirinya republik ini.
Tanggal 5 September 1945, Sultan HB IX dengan persetujuan Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta mengeluarkan amanat, bahwa Yogyakarta berbentuk Kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari Republik Indonesia.
Jumat, 27 Juli 2018
Peluncuran Buku Rais Abin
http://tempat-ngomel.blogspot.com/2012/12/catatan-hasil-diskusi-buku-catatan-rais.html?m=1
Jumat, 13 Juli 2018
Imigran Perempuan Muslim Maroko, dari Seorang Penggembala hingga Menjadi Menteri Termuda Prancis
Foto ini tidak sulit mencarinya di internet. Menggambarkan, bagaimana kisah hidup seorang Menteri Pendidikan Prancis pada Agustus 2014 diangkat oleh Presiden Prancis Holande. Perempuan bernama Najat Vallaud-Belkacem ini dianggap "wajah baru" Prancis. Ia adalah menteri perempuan pertama yang mengurusi urusan pendidikan.
Perempuan kelahiran Bani Chiker, Maroko Utara, pada 1977 itu sebelumnya menjabat sebagai Menteri Hak Perempuan.
Ia besar di pertanian di pedesaan. Masa kecilnya dihabiskan bermain dengan ternak kambing sang kakek, berkelana dari satu bukit tandus ke bukit lainnya mencari air bersama sang kakak Fatiha.
Ayah dan ibunya memutuskan untuk mencari kehidupan yang layak di Prancis. Setelah berhasil mendapat pekerjaan di pabrik perakitan mobil Renault, pada usia empat tahun, ia dan kakaknya Fatiha berangkat ke Prancis dan mereka tinggal di kota Abbevile, Provinsi Amiens, dua jam perjalanan dari Paris.
Sang ayah yang konservatif tidak membolehkan bermain seenaknya dan saat remaja, ia tak diperbolehkan kencan. Akibatnya, buku adalah pelariannya dan itu membuatnya cemerlang di sekolah.
"Ayah saya orang yang sangat konservatif dan perjuangannya ke Prancis tidaklah muda. Saya remaja dilarang berkencan. Harus belajar, belajar, dan belajar," ungkap Vallaud-Belkacem, seperti dilansir dari the8percent.com
"Ayah saya orang yang sangat konservatif dan perjuangannya ke Prancis tidaklah muda. Saya remaja dilarang berkencan. Harus belajar, belajar, dan belajar," ungkap Vallaud-Belkacem, seperti dilansir dari the8percent.com
Ia mendapatkan kewarganegaraan Prancis tak lama setelah kuliah hukum di Amiens. Tak lama kemudian ia berhasil masuk ke sekolah elit Institut d’études politiques de Paris. Ia bekerja di dua tempat ketika menyelesaikan pendidikan master dan bertemu dengan Boris Vallaud, saat mereka belajar di perpustaan dan menikah tak lama setelah mereka menyelesaikan master.
Tahun 2012 adalah titik penting bagi karier Vallaud-Belkacem. Setelah Francis Hollande ditunjuk jadi Presiden pada 15 Mei 2012, keeseokan harinya Vallaud-Belkacem ditunjuk sebagai Menteri Hak Perempuan.
Tahun 2012 adalah titik penting bagi karier Vallaud-Belkacem. Setelah Francis Hollande ditunjuk jadi Presiden pada 15 Mei 2012, keeseokan harinya Vallaud-Belkacem ditunjuk sebagai Menteri Hak Perempuan.
Pihak oposisi tidak menyukai itu. Apalagi Vallaud-Belkacem memiliki dua kewarganegaraan dan dianggap membahayakan keamanan nasional Prancis.
Ungkapan rasisdan seksis hampir tiap hari ia terima di awal kariernya sebagai menteri dari media dan juga media sosial. Vallaud-Belkacem tetap kuat menghadapi tekanan.
Vallaud-Belkacem mengaku sebagai muslim kendati tak taat menjalankan ajarannya. Ia ditunjuk untuk mewakili minoritas. Namun ia bersikukuh identitasnya berbeda dengan politisi lain. Menurutnya, apa yang telah dicapai hingga saat ini adalah berkat pendidikan Prancis.
"Sekolah adalah hal utama dalam perjalanan hidup saya, membuka pandangan mata terhadap dunia dan juga keberhasilan dalam kehidupan sosial. Sekolah membuat saya kaya akan pengetahuan," kata Vallaud-Belkacem.
"Dan memang benar, banyak orang yang mengatakan saya harus mempromosikan dari mana saya berasal dan menekankan identitas itu. Tapi, saya adalah menteri pendidikan untuk seluruh Prancis, saya harus promosikan nilai kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Dengan prinsip itu, tak ada hubungan dengan warna kulit yang saya miliki," tegasnya.
Belakangan, beredar di media sosial foto seorang bocah gembala dan dirinya. Di gambar itu, tertera tulisan, 'dari bocah gembala hingga menteri Prancis', Vallaud-Belkacem mengaku yang ia ingat dari masa kecilnya adalah masa yang indah.
"Saya meninggalkan Maroko saat usia 4 tahun, yang saya ingat berlarian di pegunungan dengan kambing. Mungkin melihat mobil bisa sebulan sekali. Sungguh indah, " kata Vallaud-Belkacem kepada NYTimes.
"Memang, ada yang aneh tercerabut dari asal ketika kami pindah ke Prancis. Saya harus beradaptasi dan belajar agar bisa berbicara Prancis," lanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
































