Selasa, 11 Desember 2018

Kenangan di Irak, 10 Desember 1992

TANGGAL 10 DESEMBER 1992,  MERUPAKAN HARI KENANGAN BUAT SAYA. MENGENANG PERJALANAN PERTAMA SAYA  KE IRAK. BUKAN BERSENANG-SENANG, TETAPI MENYAKSIKAN PENDERITAAN RAKYAT IRAK.

Rakyat Irak Masih Tetap Menderita

Oleh Dasman Djamaluddin

https://id.wikipedia.org/wiki/dasman_djamaluddin

Penduduk Irak awalnya  sangat makmur, karena hidup dari bumi yang kaya sumber minyak. Tetapi setelah serangan pasukan Amerika Serikat (AS)  dimasa George Walker Bush, anaknya George Herbert Walker Bush yang baru-baru ini meninggal dunia, tepatnya serangan AS dan invasi AS itu terjadi 20 Maret 2003, penderitaan rakyat Irak "bertambah" menderita.

Kenapa "bertambah" ?. Karena sebelumnya saya menyaksikan sendiri penderitaan rakyat Irak itu dengan pergi ke Baghdad pada 10 Desember 1992 dan kembali lagi ke Irak pada bulan September 2014. Oleh karena itu,  dua kali saya ke Irak melihat  dari dekat kehancuran Irak.

Kedua kunjungan itu juga berada di situasi yang berbeda di Irak dan AS. Pertama,  tahun 1992, Irak masih dipimpin Presiden Irak Saddam Hussein. Sementara di AS yang menjadi Presiden AS adalah George Herbert Walker Bush. Ia baru saja meninggal pekan ini. Kunjungan kedua saya ke Irak tahun 2014, itu di Presiden Irak Saddam Hussein sudah tidak ada. Ia digantung pada hari Sabtu, 30 Desember 2006. Sedangkan di AS yang memerintah adalah anaknya George Herbert Walker Bush, yaitu George Walker Bush.

Di masa kedua Presiden AS inilah, rakyat Irak semakin menderita. Apalagi setelah Irak dihancurkan muncul lagi gerilyawan Negara Islam di Irak. Awal mulanya lahir di Irak kemudian meluas ke Suriah, sehingga namanya berubah menjadi Negara Islam tidak hanya di Irak, tetapi juga di Suriah (ISIS).

Di Irak, pada 10 Desember 2017 dinyatakan bahwa ISIS sudah dilenyapkan. Di Irak sudah tidak ada lagi ISIS. Sementara di Suriah, ISIS terdesak akibat perang antara pasukan Suriah didukung Iran dan Rusia dengan AS dan Arab Saudi. Boleh dikatakan di Irak dan Suriah, rakyatnya menderita akibat perang. Foto di atas menunjukkan, meski Irak sudah menyatakan ISIS tidak ada lagi tetapi jutaan rakyatnya sekarang masih menderita setahun ISIS dihancurkan.

Tanggal 10 Desember secara pribadi, adalah tanggal keberangkatan saya ke Irak pertama kali, tepatnya 10 Desember 1992. Waktu itu saya ke Irak tidak bisa langsung dari Jakarta-Baghdad. Tetapi saya harus ke Jordania dulu, karena Irak mendapat sanksi PBB, wilayah udara Irak ditutup. Ini merupakan perjalanan panjang melalui darat dari Jordania-Irak. Jalan darat yang ditempuh lebih kurang 885 kilometer yang ditempuh sekitar 13 jam dari Jordania ke Irak. Sangat melelahkan. Memang istirahat di tempat-tempat tertentu, tetapi tidak lama.

Mata tidak bisa diajak kompromi, kadang-kadang tertidur. Hari telah gelap, sementara cuaca cukup dingin menyusup ke tulang sumsum. Sopir taksi, mungkin sudah terbiasa mengemudikan di tengah padang pasir, tidak kelihatan merasa lelah. Hanya saya, yang terlihat lelah. Maklumlah baru pertama kali mengarungi padang pasir yang luas dan sepi. Kalau pun ada kendaraan lain, jarak antara satu dengan yang lain tidak terlihat. Hanya debu-debu yang berterbangan, menyisir jalan setapak di padang pasir.

Tak terpikir apa yang harus dilakukan jika kendaraan kami mogok di tengah jalan. Alhamdulillah, kendaraan itu sampai di jalan bebas hambatan di kota Baghdad. Hari sudah larut malam, dan saya minta diantarkan ke sebuah hotel berbintang lima, Meredien Hotel,di kota Baghdad.

Tidak lama kemudian, saya sudah berada di hotel yang ditunjuk. Memang nama hotel ini sudah diberitahu Dubes Irak di Jordania, ketika saya di sana. Hotel tersebut terletak di tengah-tengah kota Baghdad.

Sebagaimana hotel-hotel berbintang lima, sudah tentu pelayanan kepada tamu sangat istimewa. Tidak terkecuali saya, karena termasuk tamu dari Kementerian Penerangan Irak.

Kehati-hatian, apalagi suasana di Irak masih dalam keadaan siaga, karena negara itu pada 17 Januari 1991 baru saja diserang dari udara oleh Amerika Serikat dan sekutunya, lebih saya utamakan. Para intelijen boleh jadi ada di sekitar saya, untuk memastikan siapa saya sebenarnya. Boleh jadi sang intelijen menyamar sebagai pelayan, tukang listrik atau sebagai sopir taksi. Yang jelas, saya harus bisa menjaga diri.

Besok paginya, mobil Kedubes Indonesia menghampiri saya di hotel dan membawa saya mengitari kota Baghdad. Rasa kagum saya muncul ketika melihat bangunan-bangunan tertata dengan baik. Di setiap kantor pemerintahan dan kantor-kantor swasta terpampang gambar Presiden Irak Saddam Husein berukuran besar. Jika di Kementerian Pos dan Telekomunikasi Irak, terlihat gambar Saddam lagi menelepon. Di Kementerian Pertanian, gambar Saddam sedang bersama petani Irak.

Sejak saya masuk ke Jordania, gambar-gambar Raja Hussein terlihat juga di beberbagai sudut kota. Ini menggambarkan, pemerinahan di negara Arab selalu dielu-elukan dan dihormati rakyatnya. Dulu dikenal semboyan rakyat Irak yang berbunyi ” kami siap melindungi Yang Mulia dengan darah, ya Saddam.” Semboyan itu selalu diucapkan ketika Irak diserang Amerika Serikat dan sekutunya. Juga yel-yel itu diucapkan jika Presiden Saddam Hussein berkunjung ke sebuah tempat.

Di saat ini penderitaan rakyat Irak sungguh memprihatinkan. Rakyat Irak dihadapi dengan embargo ekonomi dan zona larangan terbang. Hanya Jordania yang sering membantu tetangganya ini, karena memang hanya Jordania satu-satunya negara Arab yang membuka perbatasannya dengan Irak. Negara Arab lainnya menutup perbatasannya. Irak dikucilkan.

Penderitaan rakyat Irak ini tidak terlihat jika mengalihkan pandangan menyaksikan kota Baghdad. Juga tidak terlihat jalan-jalan yang hancur karena diserang pasukan Amerika Serikat dan sekutunya dari udara pada 17 Januari 1991. Seandainya saja Irak bukan negara kaya minyak, saya yakin puing-puing pemboman masih terlihat di mana-mana.

Bayangkan pada waktu itu pesawat pembom Amerika Serikat dan sekutunya yang dinamakan pasukan multinasional itu melakukan serangan udara sekitar 19 jam dengan 750 kali serangan ke kota Baghdad.

Tetapi karena Irak memiliki dana dari hasil minyak, saya menyaksikan Irak daru dekat, tidak satupun jalan dan bangunan di sana ada yang rusak. Roda perekonomian, meski ada embargo tetap berjalan sebagaimana mestinya, sebagai mana aliran sungai-sungai yang membelah kota Baghdad.

Di tengah-tengah kota Irak mengalir sungai Tigris yang panjangnya sekitar 1.718 kilometer dan sungai Euphrate yang panjangnya 2.300 kilometer. Di dalam bahasa Arab, sungai Tigris disebut sungai Dejelahyang mengalir di tengah kota Baghdad, terbentang dari hulu hingga hilir dan bermuara di Shatt al-Arab di Teluk Persia.

Sedangkan sungai Euphrate yang disebut dalam bahasa Arab sebagai sungai Furat, yang juga bermuara di Shatt al-Arab. Pada waktu saya berkunjung ke sana, ada pula sebuah sungai, bernama sungai Saddam. Bertepatan ketika saya berkunjung di bulan Desember 1992 itu, sungai ketiga di Baghdad tersebut resmi dimanfaatkan. Sungai ini membentang sejauh 565 kilometer, dengan lebar 100 meter pada permukaan dan 50 meter pada dasar. Dalamnya mencapai 40 meter.

Sungai Saddam ini menjadi kebanggaan waktu itu. Sungai yang dibangun di awal-awal berlangsungnya embargo ekonomi, diselesaikan dalam waktu 180 hari. Dengan dimanfaatkannya sungai ketiga ini, maka sekitar enam juta donum atau 250.000 hektar tanah pertanian dapat digarap dan diairi.

Di Irak terdapat empat musim, musim dingin, semi, panas dan musim kemarau.Tetapi yang pokok adalah dua musim, musim dingin dan panas. Pada musim dingin (bulan Januari), iklimnya membuat air sampai beku, karena kadang kala suhu udara berada dua derajat di bawah nol.Pada musim panas (Juli-Agustus), suhu udara mencapai 40 derajat Celcius.

Meskipun demikian, suhu udara berbeda-beda antara satu daerah dengan lainnya. Bila musim dingin di selatan sejuk, maka ke arah utara bertambah dingin dan biasanya hujan turun.

Sebaliknya kalau musim panas, udaranya panas, tetapi kering. Siang hari seringkali angin bertiup dari utara dengan membawa debu tebal. Tetapi malamnya, udara menjadi sejuk. Di daerah utara, musim panas tidak seberapa panas, bahkan udara bisa berubah menjadi sejuk. Musim panasnya pun tidak begitu lama berlangsung.

Menurut sejarah, Irak yang dahulunya bernama Mesopatamia merupakan negeri yang berperadaban tinggi. Peninggalan budaya bernilai tinggi ditemukan di gua-gua pegunungan daerah utara dan timur laut, serta di udara terbuka di daerah dataran tinggi sebelah timur dan perbukitan Sahara di sebelah barat.

Tulisan pertama berasal dari Irak, demikian pula kitab undang-undang. Bangsa Sumeria, Akkadia, Babylonia dan Assyria, semuanya membangun peradaban mereka di Irak. Taman Firdaus pun bertempat di Irak, yaitu daerah yang disebut Qurna.

Pada bulan September 2014, saya kembali ke Irak. Pergantian pemerintahan sudah terjadi di Irak. Tetapi situasinya masih rawan. Bom mobil sering meledak. Saya hanya bisa mengunjungi Masjid Al Kufah atau sering juga disebut  masjid sahabat Nabi Muhammad SAW, sekaligus menantu beliau Ali ra. Beliau berdomisili dan berkantor di masjid Al-Kufa, di Kufa, Irak ini. Juga beliau meninggal dunia di dalam masjid ini, dibunuh ketika sedang melakukan shalat subuh.

Masjid ini dibangun Abad VII yang luasnya 11.000 persegi. Kufa ini merupakan sebuah kota di Irak dan jaraknya 170 km di selatan Baghdad. Saya berkunjung ke masjid ini bukan tahun 1992, tetapi pada kunjungan kedua saya ke Irak, 20 September 2014.

Pada 21 September 2014, saya melanjutkan perjalanan ke Padang Karbala, di mana di sinilah Hussein, putera Ali ra dibunuh.

Berarti dapat disimpulkan bahwa Irak menjadi pusat peradaban manusia yang tinggi. Juga tempat berdiamnya sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali ra dan anaknya. Begitupun tempat tinggal Nabi Ayub as.


Selasa, 20 November 2018

Kunjungan Mantan Wartawan "Merdeka" ke Jerusalem



Mantan wartawan harian "Merdeka," pimpinan BM Diah, yaitu Neta S Pane, tepat hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, Selasa, 20 November 2018 ini sedang berkunjung ke Jerusalem. Ia mengirimkan foto kompleks Al-Haram Asy-Syarif, di mana di dalamnya terdapat "Dome of The Rock," yang berarti Kubah Batu.
Bangunan Kubah Batu, merupakan satu di antara bangunan yang terletak di sebuah kawasan seluas 14,4 hektar. Di sana ada beberapa bangunan lagi, termasuk masjid Al-Aqsa. Apa yang dapat dilihat di bangunan Kubah Batu berbentuk delapan persegi itu? Neta mengabadikan sebuah foto tapak mi'rajnya Nabi Muhammad SAW dari masjid Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha (langit ke-tujuh) dan dari Allah SWT lalu  menerima amanah untuk melaksanakan shalat. Pertama, 50 rakaat sehari semalam. Kemudian ketika hendak turun bertemu Nabi Musa dan menyarankan agar kembali bertemu Allah kembali. Minta pengurangan rakaat, karena menurut Nabi Musa, ummat Nabi Muhammad SAW tidak akan kuat. Nabi Muhammad kembali lagi menghadap Allah, sehingga raka'atnya berkurang menjadi lima kali sehari semalam.
Tidak dijelaskan oleh Neta, apakah perjalanannya ke Jerusalem lancar-lancar saja setelah Jerusalem berada di bawah kelompok Yahudi usai kekalahan negara Arab pada 7 Juni 1967 dalam perang yang hanya berlangsung enam hari. Apalagi baru-baru ini, Amerika Serikat menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibu kota Israel.
Penduduk Yahudi telah merdeka tahun 1948. Sebelumnya, negara pemenang Perang Dunia I, khususnya Inggris menandatangani sebuah perjanjian dengan kelompok Yahudi. Penduduk Yahudi ikut membantu Inggeris dengan dana yang besar, agar Jerman bisa dikalahkan. Jika Jerman kalah, apa yang diminta penduduk Yahudi akan dipenuhi Inggris. Ternyata Jerman kalah dalam perang.
Penduduk Yahudi menganggap tanah airnya ada di Jerusalem. Awalnya Inggris memberikan tanah Palestina kepada penduduk Yahudi. Anehnya, sebenarnya kalau dibagi, maka rakyat Palestina yang memperoleh bahagian besar. Ini tidak. Malah, penduduk Yahudi yang memiliki wilayah lebih besar dan mendeklarikan kemerdekaannya tahun 1948 sebagai negara Israel. 
Sebaliknya, sekarang nasib bangsa Palestina terkatung-katung. Wilayahnya makin lama makin kecil. Lihatlah Jalur Gaza dan Tepi Barat. Dalam hitungan di atas kertas, bangsa Palestina (Islam dan Kristen) yang tepat menjadi bangsa merdeka. Awalnya wilayah itu seluruhnya milik bangsa Palestina, kenyataannya bangsa ini yang kemudian menjadi bangsa pengungsi.
Penduduk Yahudi menganggap di Jerusalem itu terdapat "Dinding Ratapan," untuk penduduk Yahudi. Terkejutnya bangsa-bangsa di dunia, keinginan Israel untuk mendirikan kembali "Kuil Sulaiman," yaitu tempat peribadatan suci umat Yahudi yang dibangun Nabi Daud pada tahun 1000 Sebelum Masehi. Untuk membangunnya, maka Israel harus meruntuhkan masjid -Al-Aqsa. Apakah keinginan Israel ini bisa terwujud? Sudah tentu, tidak.

Kamis, 11 Oktober 2018

Berharap Visi Pergerakan Indonesia Maju (PIM) yang Akan Diajukan kepada Kedua Capres dan Wakilnya Mampu Diwujudkan

Hari Senin, 8 Oktober 2018, dalam foto kedua dari kiri, saya diundang Pergerakan Indonesia Maju (PIM) yang dipimpin ketuanya Prof. Dr. M. Din Syamsuddin berdiskusi tentang masalah kebangsaan. Sudah tentu sebuah kehormatan, apalagi berbagai pokok pikiran ini akan diserahkan kepada kedua capres dan wakilnya pada hari Jumat, 12 Oktober 2018 pukul 19.00 di Ballroom Puri Agung, Hotel Sahid, Jakarta.
Saya tertarik, karena di antara pokok pikiran yang akan diajukan kepada kedua capres dan wakilnya itu menyangkut mewujudkan visi kebangsaan sesuai Undang Undang Dasar 1945 (UUD '45) yang asli.

Menurut nalar saya, berbicara tentang UUD '45 asli berarti langkah pertama yang dilakukan adalah meng-Amandemen UUD 2002 sekarang ini, agar kita bisa kembali ke UUD '45 yang asli.
Universitas Indonesia (UI) dan Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) telah lama mengemukakan agar mengkaji ulang UUD 2002 harus direvisi.  Tetapi keinginan UI dan LVRI tersebut belum terwujud, sementara jika kaji perubahan UUD 1945 yang disusun oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia sebagaimana UUD 1945 yang asli. UUD 2002 dibuat dalam suasana "euphoria" refornasi, yang lebih didominasi suasana anti terhadap sistem Orde Baru. Akibatnya perubahan konstitusi berlangsung dalam suasana yang impulsif, tidak melalui pemikiran yang mendalam dan kajian akademis yang komprehensif.
Saya sebagai Alumni UI, sangat mendukung perubahan UUD 2002 ini. Apalagi di LVRI, saya ketika berada di sana menerbitkan buku Ketua Umum LVRI, Letjen TNI (Purn) Rais Abin, sudah lama mendukung gagasan Kaji Ulang UUD 2002. Bagaimanapun perubahan UUD '45 asli menjadi UUD 2002 dipengaruhi suasana yang impulsif, tidak melalui pemikiran yang mendalam dan kajian akademis yang komprehensif.

Sudah tentu dalam suasana seperti itu, upaya untuk mempertahankan nilai, prinsip dasar dan jiwa UUD 1945 asli, tidak mungkin berhasil. Tanpa disadari, telah terjadi penyimpangan terhadap jiwa konstitusi sebagaimana yang dirumuskan oleh "the founding fathers." Juga di dalam UUD 2002, terdapat rumusan-rumusan yang tak sejalan lagi dengan Ideologi Pancasila dan makna Pembukaan UUD 1945.

Sabtu, 06 Oktober 2018

Ratna Sarumpaet dan Nayirah, Dua Perempuan yang Mampu Mengubah Opini Umum


Ratna Sarumpaet, berusia 70 tahun, berkebangsaan Indonesia dan Nayirah, yang pada tahun 1990 berusia 19 tahun, putei Sheikh Saud Nasser al-Saud al-Sabah, Duta Besar Kuwait untuk Amerika Serikat (AS), adalah dua perempuan yang mampu mengubah opini umum di negaranya masing-masing. Kedua-duanya pada saat bersamaan adalah pemain teater. Ratna Sarumpaet berguru kepada WS Rendra, sedangkan Nayirah sudah bekajar akting di Hill Knowlton.

Wajah dua perempuan ini sekarang terpampang di berbagai internet untuk menyatakan kepada dunia bahwa keduanya pembohong.

Ratna Sarumpaet dari Indonesia dianggap berbohong, karena wajahnya yang lebam setelah dipukul atau dianiaya, ternyata wajah yang lebam itu adalah dampak dari operasi wajah yang dilakukannya. Sebagai salah seorang team kampanye salah seorang calon presiden, yaitu Prabowo Subianto,  sudah tentu berpengaruh kepada ucapan berbohong yang dilakukannya. Dua kali Prabowo membuat pernyataan di layar televisi. Pertama, ketika ia akan membela Ratna Sarumpaet karena dipukul. Kedua, Prabowo meminta maaf, dan memberitahukan bahwa Ratna Sarumpaet berbohong dan telah dipecatnya dari team kampanye. Peristiwa ini masih bergulir dan sudah diproses oleh pihak Kepolisian RI.
Di Kuwait, ketika pasukan Irak masuk ke Kuwait, seluruh informasi, termasuk tentang Nayirah yang berbohong sudah saya dengar dari Menteri Perindustrian dan Perlogaman Irak,  Amir al-Saadi di tahun 1992 ketika saya untuk pertama kalinya berada di Irak. Kedua, saya ke Irak tahun 2014. Oleh karena itu, apa yang diberitakan berbagai media nasional maupun internasional, tentang Nayirah itu benar.

Berkat pengakuannya dalam pidatonya di ABC's Nightline dan NBC Nightly News pada 10 Oktober 1990 yang menangis saat berbicara tentang kejahatan yang dilakukan tentara Irak di Kuwait, dunia bersimpati dan marah kepada Irak. Dalam pengakuannya, ia mengatakan menyaksikan pembunuhan lebih dari 300 bayi di rumah sakit di Kuwait. Dunia bersimpati, sehingga banyak negara ikut membantu AS mengusir Irak dari Kuwait. Irak tersudut karena informasi bohong dari Nayirah.
Setelah Irak hancur diserang oleh AS dan sekutunya terungkap bahwa pernyataan Nayirah itu bohong. Ternyata pimpinan di mana Nayirah belajar akting menandatangani kontrak 111 miliar dollar AS dengan keluarga Kerajaan Kuwait. Tugas yang diberikan memang sederhana, agar Nayirah harus bisa berakting membujuk militer AS untuk mengambil tindakan terhadap Irak dengan uraian air mata Nayirah, meski berbohong.

Jumat, 31 Agustus 2018

Jadilah Menjadi Diri Sendiri

Membaca judul di atas seperti terkesan bahwa kita sudah mengetahuinya. Kita memiliki identitas sendiri dan berprilaku sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Itu benar. Tetapi judul itu lebih menekankan kepada diri kita agar tidak menjadi pribadi ke mana arah mata angin berputar.

"If you would go high, use your own legs. Do not let yourselves be carried up, do not sit on the backs and heads of others."

Kalau kau ingin menjulang tinggi, gunakan kakimu sendiri. Jangan biarkan dirimu dijunjung orang; jangan kau duduk di atas punggung dan kepala orang-orang lain.

Kalimat ini saya kutip dari buku: "Berkenalan dengan Eksistensialisme," tulisan Prof. Dr. Fuad Hassan, diterbitkan Pustaka Jaya, Cetakan ketiga, 1983, halaman 51.

Buku ini bacaan saya ketika kuliah di Fakultas Sastra, Jurusan Filsafat Universitas Indonesia, Tahun Akademik, 1986/1987. Waktu ini seangkatan dengan Rocky Gerung dan Gadis Arivia.

Ungkapan Friedrich Wihelm Nietzsche, filosof asal Prusia ini menjelaskan kepada kita, bahwa pembonceng dalam gerak mencapai ketinggian adalah pemalsu-pemalsu serta penipu-penipu, lebih-lebih terhadap dirinya sendiri.

Kenapa demikian ? Karena mereka ini tidak akan mampu menikmati ketinggian yang telah dicapainya, karena mereka tahu karena ketinggian yang telah dicapainya itu bukanlah ikhtiarnya sendiri dan oleh karenanya semu belaka;  sekali waktu-pada waktunya-orang-orang demikian itu akan terpelanting dari ketinggian-ketinggian yang tidak dicapai atas kemampuannya sendiri itu. Mereka diibaratkan oleh Nietzshe sebagai orang-orang lumpuh yang menunggang kuda untuk mencapai tujuannya; mereka memacu kudanya agar secepat mungkin sampai ke tempat tujuan. Baiklah, kata Nietzshe,

"But your lame foot is sitting on the horse too. When you reach your goal, when your jump off your horse-on your very height ..
you will stumble."

Tetapi kakinya yang lumpuh itu ada di atas kuda. Kalau telah kau capai tempat tujuan, ketika kau melompat dari kudamu-dari ketinggian kamu itu...engkau akan terpelanting.


Jumat, 24 Agustus 2018

Sejak Dimakamkan di Papua Tahun 1990, Sang Isteri Berkunjung Menapaki Sisa-Sisa Kenangan

Tanggal 13 Maret 1990, Mantan Gubernur Integrasi Irian Barat (sekarang Papua) tahun 1963-1964, Eliezer Jan Bonay meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang isteri bernama Djuariah. Dari isteri ketiga ini, ia memiliki dua anak. Pertama, anak perempuan bernama Dian Sundariani Bonay (almarhumah) dan Riyanti Puspita Suriani Bonay.

Isteri ketiga Eliezer Jan Bonay ini dinikahi pada tanggal 1 Juli 1964 di Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Waktu itu Eliezer Jan Bonay sudah berstatus duda setelah menjadi mualaf.

Isteri pertama Eliezer Jan Bonay adalah Ana. Sudah meninggal dunia. Dari Ana diperoleh tiga anak. Pertama, Yuli Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Kedua, bernama Max Bonay, juga tinggal di Jayapura. Terakhir anak ketiga bernama Musa Bonay. Ia telah meninggal dunia.

Selanjutnya dari isteri kedua yang bernama Esther, juga sudah meninggal dunia, maka Eliezer Jan Bonay memiliki tujuh orang anak. Anak pertama bernama Heemskerche Bonay. Sekarang tinggal di Jayapura. Anak kedua bernama Dirk Bonay, sekarang tinggal di Jayapura. Anak ketiga bernama Akon Boney dan sudah meninggal dunia. Anak keempat, bernama Zacheus Bonay, sekarang tinggal di Serui. Anak kelima bernama Ruben Bonay, tinggal di Jayapura. Anak keenam yaitu Agus Bonay dan ketujuh, yaitu Afia Bonay. Kedua anak Eliezer Jan Bonay terakhir ini telah meninggal dunia.
Foto di atas sekali menunjukan kepada kita bahwa isteri ketiga, sekaligus isteri terakhir Eliezer Jan Bonay, yaitu Djuariah yang datang dari Bogor berziarah kembali ke makam suaminya itu di atas bukit Nundawipi, sebuah pulau kecil sebelah barat Kota Serui.
Di usianya yang ke-78 waktu itu, Djuariah sanggup mendaki bukit. Sekaligus menunjukan kesetiaan sejati seorang perempuan Sunda.
Kesetiaan yang ditunjukan isteri Eliezer Jan Bonay yang berasal dari orang Sunda, pernah juga ditunjukan Inggit kepada Bung Karno. Foto di bawah ini merupakan pertemuan ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI dengan mantan isterinya Inggit. Mengharukan, sekaligus membanggakan. Hingga akhir hayatnya, Inggit tetap memuja mantan suaminya itu. Cinta sejati dan penuh keikhlasan. 

Suatu ketika Inggit pernah ditanya tentang hal-hal bersifat pribadi tentang seorang Soekarno. Inggit pun selalu melindungi. "Ah...itu pamali untuk dibicarakan," ujarnya. Soekarno menggambarkan sosok Inggit dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adams:" Inggit dan aku kawin di tahun 1923. Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari istriku yang masih gadis kepada istri lain yang selusin tahun lebih tua dari padaku...Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan itu sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri."


Kamis, 09 Agustus 2018

Hari Veteran Nasional 10 Agustus 2018


Hari ini, Jumat, 10 Agustus 2018, adalah Hari Veteran Nasional. Hal ini diungkapkan Presiden Soekarno pada tahun 1965.  "Tanggal 10 Agustus adalah hari peringatanmu, Hari Veteran Nasional. Memang Veteran adalah milik nasional. Satu gelar agung yang dianugerahkan oleh rakyat kepadamu sebagai penghargaan atas perjuangan dan pengorbananmu di masa revolusi physik," ujar Presiden Soekarno.
Hari Veteran Nasional ini selalu diperingati untuk mengingatkan kembali peristiwa 10 Agustus 1949. Pada hari itu disepakati persetujuan gencatan senjata antara pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintahan Kerajaan Belanda yang berlaku tanggal dan hari itu, pukul 24.00. Namun, pertempuran TNI melawan tentara Kerajaan Belanda belum berakhir di hari itu, karena "Serangan Oemum" merebut kembali kota Solo yang dimulai sejak tanggal 10 Agustus 1949. Pukul 24.00 WIB semua pihak yang terlibat pertempuran menghentikannya.
Gencatan senjata antara TNI dengan tentara Kerajaan Belanda telah mengakhiri perjuangan panjang menegakan dan menjaga kemerdekaan bangsa Indonesia, sehingga berdiri Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kokohnya. Hari bersejarah tanggal 10 Agustus 1949 itu kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Veteran Nasional (Foto dari berbagai sumber).


Sabtu, 28 Juli 2018

Apa Benar Yogyakarta Tidak Lagi Istimewa ?

Inilah salah satu foto yang saya ambil dari harian "Kompas." Seorang perempuan Yogyakarta yang sedang membonceng anaknya bersekolah sedang melewati tanah seluas 587, 3 hektar yang nantinya akan dibangun Bandara New Yogyakarta International Airport. Bandara yang akan dibangun tersebut terletak di desa Jangkaran, Sindutan, Palihan, Kebonrejo, dan Glagah di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Yogyakarta.
Inilah sketsa yang juga saya ambil dari harian "Kompas." Menunjukkan jika Bandara ini sudah jadi akan menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta.

Mengapa, saya menulis tentang hal ini ? Sebuah film dokumentasi yang dibuat seorang warga Blora, di tempat di mana saya tahun 1974 sekolah di SMA Neg. Blora, menayangkan situasi terkini tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada yang beranggapan, Yogyakarta akan hilang keistimewaannya, tidak lagi istimewa, karena Yogyakarta, situasinya telah berubah menjadi kota metropolitan. Ditunjukkan dalam film itu, ada beberapa bangunan bertingkat di Yogyakarta. Tetapi, yang saya garis bawahi, pendapat yang mengatakan Yogyakarta tetap menjadi Daerah Istimewa, meski di sekitar wilayah itu kini tengah dibangun seperti Bandara Internasional dan gedung bertingkat. Budaya menurut saya berbeda dengan bangunan fisik. Budaya Yogyakarta selama ini tidak berubah. Ini hal yang saya anggap, sangat penting.
Hal keistimewaan ini selalu disebut oleh Sultan Hamengku Buwono X ketika kami berkunjung ke Kraton Yogyakarta, di bulan  Mei 2012. Kami yang saya maksud, adalah kami bertiga, saya, Freddy Ndolu dan seorang fotographer Agustinus James menemui Raja Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono di Kraton Yogyakarta.
Oleh karena itu, Yogyakarta sejak dipimpin ayahnya Sultan Hamengku Buwono X, yaitu Sultan Hamengku Buwono IX, sudah memperlihatkan kesetiaan sejak berdirinya republik ini.

Tanggal 5 September 1945, Sultan HB IX dengan persetujuan Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta mengeluarkan amanat, bahwa Yogyakarta berbentuk Kerajaan yang merupakan Daerah Istimewa, bagian dari Republik Indonesia.

Jumat, 27 Juli 2018

Peluncuran Buku Rais Abin

http://tempat-ngomel.blogspot.com/2012/12/catatan-hasil-diskusi-buku-catatan-rais.html?m=1

Jumat, 13 Juli 2018

Imigran Perempuan Muslim Maroko, dari Seorang Penggembala hingga Menjadi Menteri Termuda Prancis


Foto ini tidak sulit mencarinya di internet. Menggambarkan, bagaimana kisah hidup seorang Menteri Pendidikan Prancis pada Agustus 2014 diangkat oleh Presiden Prancis Holande. Perempuan bernama Najat Vallaud-Belkacem ini dianggap "wajah baru" Prancis. Ia adalah menteri perempuan pertama yang mengurusi urusan pendidikan.

Perempuan kelahiran Bani Chiker, Maroko Utara, pada 1977 itu sebelumnya menjabat sebagai Menteri Hak Perempuan.
Ia besar di pertanian di pedesaan. Masa kecilnya dihabiskan bermain dengan ternak kambing sang kakek, berkelana dari satu bukit tandus ke bukit lainnya mencari air bersama sang kakak Fatiha.
Ayah dan ibunya memutuskan untuk mencari kehidupan yang layak di Prancis. Setelah berhasil mendapat pekerjaan di pabrik perakitan mobil Renault, pada usia empat  tahun, ia dan kakaknya Fatiha berangkat ke Prancis dan mereka tinggal di kota Abbevile, Provinsi Amiens, dua jam perjalanan dari Paris.
Sang ayah yang konservatif tidak membolehkan bermain seenaknya dan saat remaja,  ia tak diperbolehkan kencan. Akibatnya, buku adalah pelariannya dan itu membuatnya cemerlang di sekolah.
"Ayah saya orang yang sangat konservatif dan perjuangannya ke Prancis tidaklah muda. Saya remaja dilarang berkencan. Harus belajar, belajar, dan belajar," ungkap Vallaud-Belkacem, seperti dilansir dari the8percent.com
Ia mendapatkan kewarganegaraan Prancis tak lama setelah kuliah hukum di Amiens. Tak lama kemudian ia berhasil masuk ke sekolah elit Institut d’études politiques de Paris. Ia bekerja di dua tempat ketika menyelesaikan pendidikan master dan bertemu dengan Boris Vallaud, saat mereka belajar di perpustaan dan menikah tak lama setelah mereka menyelesaikan master.
Tahun 2012 adalah titik penting bagi karier Vallaud-Belkacem. Setelah Francis Hollande ditunjuk jadi Presiden pada 15 Mei 2012, keeseokan harinya Vallaud-Belkacem ditunjuk sebagai Menteri Hak Perempuan.
Pihak oposisi tidak menyukai itu. Apalagi Vallaud-Belkacem memiliki dua kewarganegaraan dan dianggap membahayakan keamanan nasional Prancis.
Ungkapan rasisdan seksis hampir tiap hari ia terima di awal kariernya sebagai menteri dari media dan juga media sosial. Vallaud-Belkacem tetap kuat menghadapi tekanan.
Vallaud-Belkacem mengaku sebagai muslim kendati tak taat menjalankan ajarannya. Ia ditunjuk untuk mewakili minoritas. Namun ia bersikukuh identitasnya berbeda dengan politisi lain. Menurutnya, apa yang telah dicapai hingga saat ini adalah berkat pendidikan Prancis.

"Sekolah adalah hal utama dalam perjalanan hidup saya, membuka pandangan mata terhadap dunia dan juga keberhasilan dalam kehidupan sosial. Sekolah membuat saya kaya akan pengetahuan," kata Vallaud-Belkacem.
"Dan memang benar, banyak orang yang mengatakan saya harus mempromosikan dari mana saya berasal dan menekankan identitas itu. Tapi, saya adalah menteri pendidikan untuk seluruh Prancis, saya harus promosikan nilai kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Dengan prinsip itu, tak ada hubungan dengan warna kulit yang saya miliki," tegasnya.
Belakangan, beredar di media sosial foto seorang bocah gembala dan dirinya. Di gambar itu, tertera tulisan, 'dari bocah gembala hingga menteri Prancis', Vallaud-Belkacem mengaku yang ia ingat dari masa kecilnya adalah masa yang indah.
"Saya meninggalkan Maroko saat usia 4 tahun, yang saya ingat berlarian di pegunungan dengan kambing. Mungkin melihat mobil bisa sebulan sekali. Sungguh indah, " kata Vallaud-Belkacem kepada NYTimes.

"Memang, ada yang aneh tercerabut dari asal ketika kami pindah ke Prancis. Saya harus beradaptasi dan belajar agar bisa berbicara Prancis," lanjutnya.
"Namun, yang saya ingat, masa kecil saya adalah, buku, buku dan buku, serta perpustaakan..."
Foto dari berbagai sumber.

Sabtu, 30 Juni 2018

G.M.Sudarta dalam Kenangan



Geradus Mayela (G.M) Sudarta meninggal dunia pada 30 Mei 2018 di usia 72 tahun. Kartunis di harian "Kompas," tersebut disemayamkan di Rumah Duka "Sinar Kasih," Batu Tulis, Bogor. 

G.M.Sudarta lahir di Klaten, Jawa Tengah pada 20 September 1948. Ia merupakan putra bungsu dari pasangan bapak Hardjowidjoyo dengan ibu Sumirah. Kedua orang tua G.M Sudarta menurut beberapa sumber beragama Islam. Hanya ayahnya beragama Islam Kejawen. Keluarga besar G.M.Sudarta ada beragama Islam dan ada juga beragama Kristen.

Hari ini Victor Manai Sophiaan mengirimkan empat foto tentang jenazah G.M.Sudarta dari rumah duka.





Sebelumnya semasa G.M.Sudarta masih hidup pernah menulis kisah hidupnya sendiri di: https://kisahmuallaf.wordpress.com/2010/12/05/g-m-sudarta-kembali-kepada-keagungan-islam/ dan kisahnya saya kutip dengan lengkap :

Nama saya Geradus Mayela Sudarta, biasa disingkat G.M. Sudarta. Saya lahir pada hari Rabu Kliwon di Desa Kauman, Klaten, Jawa Tengah tepatnya pada 20 February 1948. Saya putra bungsu dari pasangan Hardjowidjoyo dan Sumirah.

Keluarga besar saya, separo Katolik dan separo Islam. Ayah saya Islam Kejawen atau kebatinan, sedangkan ibu saya muslimah. Sejak kecil sebenarnya saya sudah bersyahadat, tapi dalam bahasa Jawa. Meski kemudian ketika menjelang remaja saya dipermandikan (dibaptis). Ini mungkin karena pengaruh adik-adik ayah (paman) yang beragama Katolik. Saya sering ikut ke Gereja bersama mereka. Karena seringnya ke Gereja, saya pernah berujar, “Mendengarkan lagu Gregorian itu sama indahnya seperti mendengar Adzan.”.

Walaupun saya sudah dibaptis dan sering diajak ke Gereja, namun saya seperti tidak beragama Kristen Katolik saja, saya juga merasa sudah begitu akrab dengan agama Islam. Ibu dan saudara-saudara ibu, juga berasal dari keluarga muslim, jadi dapat saya katakan saya sudah begitu akrab dengan Islam.

Ketika saya di SMP saya bahkan pernah menjadi Ketua Rating PII (Pelajar Islam Indonesia) di sekolah. Ketika SMA, saya terlbat dalam pendirian Teater Akbar bersama Deddy Soetomo. Kebetulan, anggotanya kebanyakan dari PII. Teater yang saya dirikan sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam).

Teater kami sering membawakan naskah-naskah karya Arifin C. Noer, salah satunya adalah naskah yang berjudul Amniah. Naskah ini sering kami pentaskan. Bahkan dalam Kongres PII, Teater Akbar menjadi juara pada festival seninya.

Akibat kemenangan ini, sebuah surat kabar terbitan Semarang menulis, tidak semua anggota Teater Akbar orang muslim. Posisi saya dalam teater ini menjadi serba salah. Padahal saya hanya penata panggung dan kadang-kadang figuran. Pernyataan surat kabar ini pastilah ditujukan kepada saya.

Bagi saya, ini bukan masalah, dalam hal ini saya beruntung dibela oleh sastrawan O’Galelano. Menurutnya yang penting adalah estetika nya. Muslim atau bukan, yang penting bagus.

Selain aktif di dunia teater, saya juga bergaul dengan teman-teman muslim. Dari sanalah saya mulai membaca buku tentang keagamaan. Selain itu, saya juga membaca buku-buku Tan Malaka dan sejenisnya, serta buku yang lebih bersifat eksistensialis. Saya selalu bertanya, sehingga saya makin berfikir untuk mencari sebab dan akibat kehidupan.

Saya hidup untuk apa ? apalagi anggota Pelukis Rakyat banyak mempengarushi saya, sehingga saya bersimpati pada perjuangan mereka, karena ada sebagian anggota yang ikut menjawab pertanyaan saya. Tapi, itu tidak begitu lama. Akhirnya saya terus berfikir untuk mencari tahu. Saya pernah berfikir, Tuhan adxa atau tidak ada, tidak menjadi soal.

Sering Ziarah

Untuk menjawab itu, saya sering pergi kebeberapa makan Sunan (Wali). Saya sering tidur di makam Syekh Maulana Yusuf di Banten, makam Sunan Kudus, bahkan sampai ke Gresik. Namun, pertanyaan itu makin gencar dalam hati saya, walaupun saya sadar tidak akan terjawab. Saya banyak mencari-cari terutama hal-hal yang musykil.

Perjalanan ziarah itu bukanlah untuk mencari apa-apa. Bahkan saya tidak tahu untuk apa. Pertanyaan itulah yang menuntun saya mengunjungi atau menziarahi makam para sunan, bahkan sampai tidur disana. Yang jelas saya mencari pertanyaan yang tidak pernah terjawab tentang Tuhan.

Dari perjalanan mengunjungi makam para wali itu, saya pernah mengalaim kejadian aneh. Di saat saya mengunjungi makan Syekh Maulana Yusuf di Banten, saya di datangi seorang Arab berbaju putih dan bersorban, dengan logat yang kaku ia berbicara tentang nabi Isa AS. Orangnya pintar sekali.

Selanjutnya orang itu menjabat tangan saya, anehnya bau wanginya selama satu minggu tidak hilang, walaupun sering saya cuci. Dari situ saya mencari orang itu sampai ke Kudus dan tempat lain. Saya mencari orang itu tapi tidak ketemu.

Walaupun saya bukan seorang muslim, namun mengunjungi makam para wali sangat berarti bagi saya. Selain mencari jawaban atas hakikat hidup, sekaligus juga untuk mencari inspirasi dalam usaha kerja saya sebagai sorang kartunis (Aktif dalam Harian Kompas http://www.kompas.co.id , Red).

Dari perjalan ziarah inilah, saya menemukan kedamaian dan ketenangan. Banyak hal yang saya temukan. Yang jelas saya kini mendapatkan ketenangan. Walaupun saya masih dalam tahap mempelajari Islam, namun saya sudah mendapatkan karunia itu. Oleh Tuhan saya dititipi sepasang anak kembar.

Dari semua itu semakin menyadarkan saya, bahwa pegangan yang sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa adalah agama. dan doa kita itu pasti diterima dan dikabulkan Tuhan.

Agama, inilah jawaban yang saya terima dari perjalanan saya mengunjungi makam para wali untuk mencari hakikat hidup. Saya benar-benar disadarkan akan pentingnya sebuah pegangan hidup; Agama – yang menjadi pegangan mengarungi lautan kehidupan.

Dari apa yang telah dititipkan Tuhan pada saya — sepasang anak kembar — saya kembali disadarkan oleh rasa keberagamaan saya. Aryo Damar, anak saya yang laki-laki, sejak berusia tiga bulan sampai sekarang, bila ada adzan Magrib di televisi, ia tidak mau melepaskan diri dari depan kaca televisi. Kalaupun sedang menangis, ia berhenti dahulu untuk mendengarkan adzan. Kejadian ini saya rekam dan saya abadikan dalam kaset video. Kelakuan anak saya ini semakin memperingatkan dan membuat saya yakin bahwa pegangan paling sederhana dan mempunyai kekuatan adalah Agama.

Akhirnya, saya putuskan untuk menerima apa yang terjadi pada diri saya. Saya mengikrarkan diri menjadi seorang muslim, dengan kata lain menerima Islam. Perpindahan saya menjadi seorang muslim ini disambut baik oleh teman-teman saya dan mereka memberi beberapa buku agama, tafsir Al-Qur’an dan buku Fiqih Sunnah karya SAayid Sabiq lengka 12 jilid. Bahkan yang aneh ada teman saya yang memberikan AL-Qur’an jauh sebelum saya mengucapkan dua kalimah syahadat. Mungkin ia sudah mendapat firasat.

Selain itu, banyak pula teman-teman saya yang menyatakan penyesalannya atas keputusan saya itu. Mereka menyesali perubahan yang terjadi pada diri saya. Namun itu tidak membuat saya mundur. Saya tetap berkeyakinan untuk menjadi seorang muslim.

Islam bagi saya adalah agama yang memiliki toleransi paling tinggi. Dengan Islam saya menjadi lebih mantap memastikan pegangan hidup. Kini saya banyak belajar dari istri untuk mendalami agama terutama belajar Al-Qur’an. Selain kepada teman-teman saya juga sering mendiskusikan dengan para tokoh agama . Hal ini saya maksudkan untuk memantapkan keimanan saya.